
Oleh: Darius Leka, S.H., M.H. – Advokat dan Aktivis Rasul Awam Gereja Katolik
BOGOR, 2010 — Di hadapan 420 pasangan suami-istri yang memadati
aula pertemuan di Keuskupan Bogor, Mgr. Cosmas Michael Angkur, OFM,
menyampaikan pesan yang menggugah: “Keluarga Katolik harus menjadi wakil Gereja
dalam kehidupan bermasyarakat.” Sebuah seruan yang bukan hanya bersifat
pastoral, tetapi juga profetik—menyentuh inti dari kerasulan awam dalam konteks
zaman yang terus berubah.
Sebagai Ketua Komisi Keluarga Konferensi Waligereja
Indonesia (KWI), Mgr. Angkur menetapkan tahun 2010 sebagai Tahun Orangtua,
disusul Tahun Remaja (2011) dan Tahun Anak (2012). Ini bukan sekadar penetapan
tematik, tetapi strategi pastoral yang terstruktur dan berjenjang. Gereja
menyadari bahwa pembinaan iman tidak bisa dimulai dari altar, tetapi dari ruang
makan, ruang keluarga, dan kamar tidur—dari rumah.
“Orangtua harus menanamkan nilai-nilai positif pada
anak-anak mereka sehingga bisa menjadi pewarta,” tegas Mgr. Angkur. Pewarta
bukan hanya mereka yang berkhotbah di mimbar, tetapi juga mereka yang
menanamkan kasih, kejujuran, dan pengampunan dalam keseharian.
Robertus Yosep Suparmin, seorang umat dari paroki setempat
yang hadir bersama istrinya dan lima anak mereka, menyambut baik ajakan ini.
“Hidup berkeluarga adalah suatu panggilan,” katanya. “Dan harus dijalankan
dengan senang hati dan penuh kesabaran.”
Sebagai seorang advokat dan aktivis kerasulan awam, saya
melihat bahwa pernyataan ini bukan sekadar testimoni pribadi, tetapi cerminan
dari spiritualitas keluarga Katolik yang sejati. Dalam dunia yang semakin
individualistik, keluarga Katolik dipanggil untuk menjadi komunitas kasih yang
hidup—tempat di mana iman tidak hanya diajarkan, tetapi dihidupi.
Maria Christina Lantang, ibu dari tiga anak, menambahkan
bahwa ia dan suaminya aktif dalam kegiatan Gereja dan rutin berdoa bersama
anak-anak. “Dengan melakukan ini, anak-anak bisa lebih dekat kepada Tuhan,”
ujarnya.
Doa keluarga bukanlah rutinitas kosong, tetapi perjumpaan
dengan Allah yang membentuk karakter dan membangun relasi. Dalam konteks
kerasulan awam, keluarga yang berdoa bersama adalah keluarga yang siap
diutus—menjadi saksi Kristus di sekolah, tempat kerja, dan lingkungan sosial.
Gereja Katolik tidak pernah memisahkan antara altar dan
dunia. Keluarga adalah jembatan antara keduanya. Di sinilah kerasulan awam
menemukan bentuknya yang paling konkret: mendidik anak dalam iman, membangun
relasi suami-istri yang saling menguduskan, dan menjadi terang bagi tetangga
dan masyarakat.
Dalam bidang sosial, ekonomi, dan hukum, keluarga Katolik
dipanggil untuk menjadi suara keadilan dan kasih. Ketika orangtua mengajarkan
anak untuk tidak menyuap, untuk menghormati sesama, dan untuk melayani yang
lemah—di situlah Injil diwartakan.
Seruan Mgr. Angkur bukanlah ajakan sesaat, tetapi panggilan
seumur hidup. Gereja yang kuat dimulai dari keluarga yang setia. Maka, mari
kita jadikan rumah kita sebagai altar kasih, sekolah iman, dan benteng harapan.
Sebab dari keluarga yang hidup, lahirlah Gereja yang hidup.
#keluargakatolik #gerejamini #tahunorangtua #kerasulanawam #imandalamkeluarga #doakeluarga #mewartakankasihallah #katolikaktif #stpaulusdepok #gerejayanghidup
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin