Rabu, 27 April 2011

Keluarga Katolik; Gereja Mini yang Menjadi Saksi Kasih di Tengah Masyarakat

Oleh: Darius Leka, S.H., M.H. – Advokat dan Aktivis Rasul Awam Gereja Katolik

BOGOR
, 2010 — Di hadapan 420 pasangan suami-istri yang memadati aula pertemuan di Keuskupan Bogor, Mgr. Cosmas Michael Angkur, OFM, menyampaikan pesan yang menggugah: “Keluarga Katolik harus menjadi wakil Gereja dalam kehidupan bermasyarakat.” Sebuah seruan yang bukan hanya bersifat pastoral, tetapi juga profetik—menyentuh inti dari kerasulan awam dalam konteks zaman yang terus berubah.

Sebagai Ketua Komisi Keluarga Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Mgr. Angkur menetapkan tahun 2010 sebagai Tahun Orangtua, disusul Tahun Remaja (2011) dan Tahun Anak (2012). Ini bukan sekadar penetapan tematik, tetapi strategi pastoral yang terstruktur dan berjenjang. Gereja menyadari bahwa pembinaan iman tidak bisa dimulai dari altar, tetapi dari ruang makan, ruang keluarga, dan kamar tidur—dari rumah.

“Orangtua harus menanamkan nilai-nilai positif pada anak-anak mereka sehingga bisa menjadi pewarta,” tegas Mgr. Angkur. Pewarta bukan hanya mereka yang berkhotbah di mimbar, tetapi juga mereka yang menanamkan kasih, kejujuran, dan pengampunan dalam keseharian.

Robertus Yosep Suparmin, seorang umat dari paroki setempat yang hadir bersama istrinya dan lima anak mereka, menyambut baik ajakan ini. “Hidup berkeluarga adalah suatu panggilan,” katanya. “Dan harus dijalankan dengan senang hati dan penuh kesabaran.”

Sebagai seorang advokat dan aktivis kerasulan awam, saya melihat bahwa pernyataan ini bukan sekadar testimoni pribadi, tetapi cerminan dari spiritualitas keluarga Katolik yang sejati. Dalam dunia yang semakin individualistik, keluarga Katolik dipanggil untuk menjadi komunitas kasih yang hidup—tempat di mana iman tidak hanya diajarkan, tetapi dihidupi.

Maria Christina Lantang, ibu dari tiga anak, menambahkan bahwa ia dan suaminya aktif dalam kegiatan Gereja dan rutin berdoa bersama anak-anak. “Dengan melakukan ini, anak-anak bisa lebih dekat kepada Tuhan,” ujarnya.

Doa keluarga bukanlah rutinitas kosong, tetapi perjumpaan dengan Allah yang membentuk karakter dan membangun relasi. Dalam konteks kerasulan awam, keluarga yang berdoa bersama adalah keluarga yang siap diutus—menjadi saksi Kristus di sekolah, tempat kerja, dan lingkungan sosial.

Gereja Katolik tidak pernah memisahkan antara altar dan dunia. Keluarga adalah jembatan antara keduanya. Di sinilah kerasulan awam menemukan bentuknya yang paling konkret: mendidik anak dalam iman, membangun relasi suami-istri yang saling menguduskan, dan menjadi terang bagi tetangga dan masyarakat.

Dalam bidang sosial, ekonomi, dan hukum, keluarga Katolik dipanggil untuk menjadi suara keadilan dan kasih. Ketika orangtua mengajarkan anak untuk tidak menyuap, untuk menghormati sesama, dan untuk melayani yang lemah—di situlah Injil diwartakan.

Seruan Mgr. Angkur bukanlah ajakan sesaat, tetapi panggilan seumur hidup. Gereja yang kuat dimulai dari keluarga yang setia. Maka, mari kita jadikan rumah kita sebagai altar kasih, sekolah iman, dan benteng harapan. Sebab dari keluarga yang hidup, lahirlah Gereja yang hidup.

 

#keluargakatolik #gerejamini #tahunorangtua #kerasulanawam #imandalamkeluarga #doakeluarga #mewartakankasihallah #katolikaktif #stpaulusdepok #gerejayanghidup

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin