Senin, 13 Maret 2017

Pelantikan Pengurus Paroki Santo Paulus Depok; Misi Baru, Semangat Pembaruan

KOTA DEPOK
- Minggu pagi, 12 Maret 2017, udara di Paroki Santo Paulus Depok terasa berbeda. Bukan hanya karena misa kedua yang dipadati umat, tetapi karena momentum sakral yang terjadi di dalamnya: pelantikan 160-an pengurus Dewan Pastoral Paroki (DPP), Dewan Keuangan Paroki (DKP), Ketua Wilayah, Ketua Lingkungan, dan Kelompok Kategorial periode 2017–2019. Dalam liturgi yang khusyuk dan penuh harap, para pengurus baru mengucapkan janji pelayanan di hadapan Allah dan umat, menandai awal dari sebuah perjalanan pelayanan yang tidak ringan, namun mulia.

Dalam homilinya, Uskup Bogor, Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM, mengajak para pengurus untuk meneladani iman Abraham—yang dengan berani meninggalkan masa lalu demi hidup baru dalam panggilan Allah. “Kita dipanggil untuk senantiasa memperbaharui diri dalam Dia yang kita imani,” tegas Uskup, mengutip prinsip gerejawi yang mendalam: Ecclesia semper reformanda est—Gereja selalu perlu diperbaharui.

Pembaruan yang dimaksud bukan sekadar kosmetik atau administratif. Ini adalah pembaruan hati, cara berpikir, dan cara melayani. Uskup Paskalis menekankan pentingnya meninggalkan pola pikir lama yang stagnan. “Mungkin ada pengurus lama yang terpilih kembali, tapi jangan bawa pemikiran lama. Harus ada terobosan baru,” pesannya.

Dalam refleksi yang menggugah, Uskup Paskalis menyoroti kecenderungan paroki untuk lebih fokus pada pembangunan fisik ketimbang pembangunan iman. “Untuk apa punya uang tapi tidak bisa bangun keluarga, iman anak, dan rohani umat?” tanyanya retoris. Ia mengingatkan bahwa dana paroki bukan untuk ditimbun di bank, melainkan untuk mendukung kegiatan pastoral yang menyentuh kehidupan umat.

Sebagai aktivis kerasulan awam, saya menyambut baik seruan ini. Gereja bukanlah institusi yang hanya membangun tembok, tetapi komunitas yang membangun manusia. Dana paroki harus menjadi alat untuk mewartakan kasih Allah—melalui pendidikan, pelayanan sosial, pendampingan keluarga, dan pemberdayaan ekonomi umat.

RP. Alferinus Gregorius Pontus, OFM—akrab disapa Pater Goris—dalam sambutannya menegaskan komitmen untuk menjalankan lima kebijakan pastoral Keuskupan Bogor 2016–2020: keluarga, orang muda Katolik (OMK), pendidikan, sumber daya manusia, dan relasi sosial-politik lintas agama. Ia menekankan pentingnya pendekatan yang holistik—manajerial, sosiologis, psikologis, dan spiritual—dalam memahami kebutuhan umat.

Ini adalah panggilan kerasulan awam yang sesungguhnya: menjadi jembatan antara Gereja dan dunia, antara altar dan pasar, antara liturgi dan kehidupan. Kita dipanggil untuk hadir di tengah masyarakat, membawa terang Injil dalam bidang sosial, ekonomi, hukum, dan kemasyarakatan.

Usai pelantikan, dilakukan peletakan batu pertama pembangunan Gedung Serba Guna Santo Yohanes Paulus II. Gedung ini diharapkan menjadi ruang perjumpaan umat, tempat bertumbuhnya komunitas, dan pusat kegiatan pastoral yang hidup. Namun, lebih dari sekadar bangunan, yang dibutuhkan adalah “bangunan rohani”—umat yang hidup, pengurus yang melayani dengan rendah hati, dan Gereja yang hadir di tengah dunia.

Pelantikan ini bukan akhir, melainkan awal dari sebuah perjalanan pelayanan. Para pengurus telah mengucapkan janji untuk menyumbangkan waktu, tenaga, dan pikiran demi kesejahteraan umat. Kini saatnya menepati janji itu—dengan semangat pembaruan, keberanian untuk berinovasi, dan komitmen untuk mewartakan kasih Allah dalam setiap aspek kehidupan.

Sebagaimana Kristus datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani, demikian pula para pengurus dipanggil untuk menjadi pelayan kasih. Dalam dunia yang haus akan keadilan, solidaritas, dan pengharapan, Gereja harus menjadi tanda dan sarana kasih Allah yang hidup.

️ Oleh: Darius Leka, S.H., M.H., Advokat & Aktivis Kerasulan Awam Gereja Katolik

 

#kerasulanawam #gerejakatolik #pelayananumat #ecclesiasemperreformanda #parokisantopaulusdepok #imanyanghidup #gerejayangbergerak #kasihdalamtindakan #pembaruangereja #omkberkarya #shdariusleka #reels #foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin