Dalam sebuah refleksi pada pesta St. Fransiskus Asisi,
Minggu 4 Oktober 2015, Pater Yan pernah berkata, “Menjadi seorang yang murah
hati bagi Fransiskan bukanlah sebuah pilihan, melainkan keharusan.” Kalimat ini
bukan sekadar kutipan, tetapi cerminan dari hidupnya yang penuh dedikasi,
kesederhanaan, dan pelayanan.
Sebagai seorang rasul awam yang bergerak di bidang sosial
dan kemasyarakatan, saya melihat sosok Pater Yan sebagai teladan nyata dari
ajaran Injil: “Berbahagialah orang yang murah hati, karena mereka akan beroleh
belas kasihan” (Mat 5:7).
Lahir di Pagal, Manggarai, NTT pada 19 Februari 1948, Pater
Yan memulai perjalanan imamatnya dengan penuh kesungguhan. Ia dibaptis di
Ruteng, menerima Sakramen Krisma di usia muda, dan memulai formasi Fransiskan
sejak tahun 1970. Setelah tahbisan imam pada 9 April 1978 di Bogor, ia
melanjutkan studi teologi Fransiskan di New York, USA (1980–1982), memperdalam
spiritualitas yang menjadi napas hidupnya.
Seluruh tahapan hidupnya—aspiran, novisiat, profesi
sementara dan kekal, tahbisan diakonat dan imam—dilalui dengan kesetiaan dan
semangat pelayanan. Ia bukan hanya seorang imam, tetapi juga seorang pembimbing
spiritual, pendidik, dan sahabat bagi banyak orang.
Misa penguburan Pater Yan dilaksanakan pada Jumat, 21 Juli
2017 pukul 09.00 WIB di Gereja St. Paulus Depok, dilanjutkan dengan upacara
pemakaman di Kalimulia, Kota Depok. Umat dari berbagai penjuru hadir, bukan
hanya untuk berduka, tetapi untuk merayakan hidup seorang imam yang telah
menjadi tanda kasih Allah di tengah dunia.
Dalam terang ajaran Gereja Katolik, khususnya spiritualitas
Fransiskan, kemurahan hati bukanlah sekadar sikap pribadi, tetapi misi hidup.
Pater Yan telah menghidupi semangat ini dengan konsisten, menjadikan dirinya
sebagai saksi kasih Allah yang nyata.
Sebagai Koordinator Sie Kerawam Paroki St. Paulus Depok,
saya percaya bahwa mengenang Pater Yan bukan hanya soal nostalgia, tetapi juga
panggilan untuk melanjutkan jejaknya. Dalam dunia yang kerap keras dan egois,
kemurahan hati adalah revolusi sunyi yang menyembuhkan.
Kota Depok, 21 Juli 2017
✍️ Ditulis oleh Darius Leka,S.H. (Koordinator
Sie Kerawam Paroki St. Paulus Depok)
#gerejakatolik #fransiskan #rpyohanesladjuofm #murahhati
#spiritualitaskatolik #rasulawam #komsoskatolik #imamyangmelayani #depokberduka
#shdariusleka #reels #foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin