
Oleh: Darius Leka, S.H., M.H. – Advokat, Aktivis Rasul Awam Gereja Katolik sekaligus Koordinator KOMSOS Paroki Santo Paulus Depok periode 2010-2013
KOTA DEPOK, 21 April 2011 — Hujan deras mengguyur kota Depok
sore itu. Namun, langit kelabu tak menyurutkan langkah ribuan umat Katolik
Paroki St. Paulus Depok untuk datang dan merayakan Kamis Putih, mengawali Tri
Hari Suci menjelang Paskah. Di tengah guyuran air dan tenda yang sempat roboh,
umat tetap hadir dengan wajah berseri dan hati yang siap menyambut misteri
kasih Allah.
Misa Kamis Putih digelar dua kali, pukul 16.00 dan 19.30
WIB. Sejak satu jam sebelum misa dimulai, umat telah memadati halaman gereja.
Panitia Paskah 2011, yang telah bekerja keras berminggu-minggu sebelumnya,
menyiapkan segala sesuatu dengan cermat: dari altar yang dihiasi warna putih
sebagai simbol kesucian, hingga kursi tambahan yang membentang dari halaman
utama hingga ke belakang gereja.
“Jumlah umat jauh lebih banyak dari misa Minggu biasa,” ujar
salah satu panitia. “Banyak yang datang dari luar paroki, mungkin karena libur
panjang atau ingin merayakan Paskah bersama keluarga di Depok.” Bahkan ketika
tenda di belakang gereja sempat roboh karena hujan deras, panitia sigap
mengatasinya. Sebuah bukti bahwa iman dan pelayanan berjalan seiring.
Dalam homilinya, Pastor Kepala Paroki St. Paulus Depok, Rm.
Tauchen Hotlan Girsang, OFM, yang didampingi Rm. Alex Lanur, OFM, menyampaikan
pesan yang menggugah: “Teruslah berjuang untuk menjadi suci. Kita diajak
mengenang perjamuan Yesus dan pendirian sakramen Ekaristi malam ini dalam
rangka hidup suci. Maka, mari kita berlomba untuk hidup kudus—bukan hanya para
imam, tetapi seluruh umat.”
Sebagai seorang advokat dan aktivis kerasulan awam, saya
percaya bahwa pesan ini sangat relevan. Dalam dunia yang semakin kompleks dan
penuh godaan, panggilan untuk hidup suci bukanlah utopia. Ia adalah perjuangan
harian, keputusan sadar untuk hidup dalam kasih, kejujuran, dan pengampunan.
Dan Kamis Putih menjadi momentum untuk memperbaharui komitmen itu.
Kamis Putih bukan hanya mengenang perjamuan terakhir, tetapi
juga pendirian dua sakramen yang tak terpisahkan: Ekaristi dan Imamat. Dalam
perayaan ini, Gereja mengingat bahwa Yesus menyerahkan diri-Nya dalam rupa roti
dan anggur, dan mempercayakan misteri itu kepada para imam untuk diteruskan
sepanjang zaman.
“Di sinilah letak dua sakramen yang menjadi satu kesatuan,”
ujar Rm. Tauchen. Sakramen Ekaristi adalah sumber kekuatan rohani umat Katolik.
Ia adalah makanan jiwa, bekal dalam perziarahan menuju Allah. Dan para imam
adalah pelayan misteri itu—bukan sebagai pemilik, tetapi sebagai hamba yang
setia.
Misa Kamis Putih ditutup dengan perarakan Sakramen Maha
Kudus. Dalam keheningan yang khusyuk, umat mengikuti prosesi dengan lilin di
tangan dan doa di bibir. Hujan yang sempat turun tak mampu memadamkan semangat.
Sebab dalam hati mereka, ada api iman yang menyala.
Perarakan ini bukan sekadar ritus. Ia adalah simbol bahwa
Kristus berjalan bersama umat-Nya. Bahwa dalam setiap langkah, dalam setiap
tantangan, Tuhan hadir dan menyertai.
Perayaan Kamis Putih tahun ini menjadi bukti bahwa Gereja
bukan hanya bangunan, tetapi komunitas yang hidup. Di tengah hujan, tenda
roboh, dan kursi yang basah, umat tetap hadir. Mereka datang bukan karena
kenyamanan, tetapi karena cinta. Dan cinta itulah yang membuat Gereja tetap
berdiri.
Sebagai bagian dari kerasulan awam, saya melihat bahwa
inilah wajah Gereja yang sejati: Gereja yang melayani, yang bersatu, dan yang
mewartakan kasih Allah di tengah dunia. Mari kita terus membangun Gereja
ini—dalam keluarga, dalam masyarakat, dan dalam setiap tindakan kasih yang
nyata.
#kamisputih #triharisuci
#ekaristidanimamat #stpaulusdepok #kerasulanawam #imanyanghidup #gerejayangmelayani
#mewartakankasihallah #katolikaktif #paskah2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin