Jumat, 06 Mei 2011

Dari Emaus ke Rumah Kita; Percakapan yang Menyembuhkan Luka dan Menyalakan Harapan

Oleh: RP. Tauchen Hotlan Girsang, OFM. – Pastor Paroki Santo Paulus Depok periode 2010-2013

KOTA DEPOK -
Dalam Injil Lukas 24:13–35, kita menemukan sebuah kisah yang begitu manusiawi, begitu dekat dengan realitas kita hari ini: dua murid berjalan pulang dari Yerusalem ke Emaus, diliputi kekecewaan dan kehilangan arah. Salah satunya bernama Kleopas. Mereka baru saja menyaksikan wafatnya Yesus, Sang Guru yang mereka harapkan akan membebaskan Israel. Harapan mereka runtuh. Masa depan yang mereka bayangkan lenyap. Mereka pulang dengan langkah berat dan hati yang hancur.

Namun, justru dalam perjalanan itulah, sesuatu yang luar biasa terjadi. Yesus yang bangkit hadir di tengah mereka. Ia berjalan bersama mereka, mendengarkan keluh kesah mereka, menjelaskan Kitab Suci, dan akhirnya memecahkan roti. Dan saat itulah mata mereka terbuka. Mereka mengenali-Nya. Dan seketika itu juga, Yesus lenyap dari pandangan mereka.

Sebagai seorang advokat dan aktivis kerasulan awam, saya sering bertemu dengan orang-orang yang kecewa: kecewa pada sistem, pada pemimpin, pada pasangan, bahkan pada Tuhan. Kekecewaan itu seperti kabut tebal yang menutupi pandangan. Kita tidak lagi mampu melihat kehadiran Allah dalam hidup kita. Kita merasa ditinggalkan, padahal sesungguhnya Tuhan sedang berjalan bersama kita.

Kisah Emaus mengajarkan bahwa kekecewaan harus diungkapkan. Kleopas dan temannya tidak memendam perasaan mereka. Mereka berbicara. Mereka mencurahkan isi hati. Dan Yesus mendengarkan. Inilah langkah pertama menuju pemulihan: keberanian untuk berbicara dari hati ke hati.

Setelah mendengarkan keluh kesah mereka, Yesus menjawab dengan menjelaskan Kitab Suci. Firman Allah menjadi cahaya yang menuntun mereka keluar dari kegelapan batin. Dan puncaknya adalah perjamuan: pemecahan roti yang membuka mata mereka.

Dalam kehidupan kita, dua hal ini tetap menjadi pilar pemulihan: Sabda dan Sakramen. Ketika kita membaca Kitab Suci dan merayakan Ekaristi, kita tidak hanya mengenang Yesus, tetapi sungguh berjumpa dengan-Nya. Ia hadir, menyapa, dan menyembuhkan.

Kisah ini juga mengajak kita untuk merenungkan kembali pentingnya percakapan dalam keluarga. Di zaman digital ini, banyak keluarga kehilangan momen bercakap-cakap. Televisi, ponsel, media sosial—semuanya menyita perhatian kita. Kita duduk bersama, tetapi hati kita berjauhan. Kita tinggal serumah, tetapi tidak saling mengenal.

Padahal, percakapan dari hati ke hati adalah jalan menuju pemulihan. Ketika suami dan istri saling mendengarkan, ketika orangtua dan anak saling berbagi, ketika saudara saling menguatkan—di sanalah Tuhan hadir. Seperti di jalan Emaus, Ia berjalan di tengah kita, menyembuhkan luka, dan menyalakan harapan baru.

Setelah perjumpaan itu, dua murid yang tadinya meninggalkan Yerusalem kini kembali ke sana. Mereka tidak lagi takut. Mereka tidak lagi kecewa. Mereka membawa kabar sukacita: “Tuhan sungguh telah bangkit!” Inilah kekuatan perjumpaan dengan Kristus: Ia mengubah arah hidup kita. Ia mengubah kekecewaan menjadi keberanian. Ia mengubah keputusasaan menjadi misi.

Maka, marilah kita belajar dari dua murid Emaus. Mari kita buka hati untuk berbicara. Mari kita dengarkan Sabda Tuhan. Mari kita rayakan Ekaristi dengan iman yang hidup. Dan mari kita pulihkan komunikasi dalam keluarga kita. Sebab dalam setiap percakapan yang tulus, Tuhan hadir. Dan di sanalah harapan baru dilahirkan.

 

#emaushariini #percakapanyangmenyembuhkan #kekecewaandaniman #kerasulanawam #keluargakatolik #ekaristidanfirman #imanyanghidup #gerejayangmendampingi #mewartakankasihallah #katolikaktif


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin