
Oleh: RP. Tauchen Hotlan Girsang, OFM. – Pastor Paroki Santo Paulus Depok periode 2010-2013
KOTA DEPOK - Dalam
Injil Lukas 24:13–35, kita menemukan sebuah kisah yang begitu manusiawi, begitu
dekat dengan realitas kita hari ini: dua murid berjalan pulang dari Yerusalem
ke Emaus, diliputi kekecewaan dan kehilangan arah. Salah satunya bernama
Kleopas. Mereka baru saja menyaksikan wafatnya Yesus, Sang Guru yang mereka
harapkan akan membebaskan Israel. Harapan mereka runtuh. Masa depan yang mereka
bayangkan lenyap. Mereka pulang dengan langkah berat dan hati yang hancur.
Namun, justru dalam perjalanan itulah, sesuatu yang luar
biasa terjadi. Yesus yang bangkit hadir di tengah mereka. Ia berjalan bersama
mereka, mendengarkan keluh kesah mereka, menjelaskan Kitab Suci, dan akhirnya
memecahkan roti. Dan saat itulah mata mereka terbuka. Mereka mengenali-Nya. Dan
seketika itu juga, Yesus lenyap dari pandangan mereka.
Sebagai seorang advokat dan aktivis kerasulan awam, saya
sering bertemu dengan orang-orang yang kecewa: kecewa pada sistem, pada
pemimpin, pada pasangan, bahkan pada Tuhan. Kekecewaan itu seperti kabut tebal
yang menutupi pandangan. Kita tidak lagi mampu melihat kehadiran Allah dalam
hidup kita. Kita merasa ditinggalkan, padahal sesungguhnya Tuhan sedang
berjalan bersama kita.
Kisah Emaus mengajarkan bahwa kekecewaan harus diungkapkan.
Kleopas dan temannya tidak memendam perasaan mereka. Mereka berbicara. Mereka
mencurahkan isi hati. Dan Yesus mendengarkan. Inilah langkah pertama menuju
pemulihan: keberanian untuk berbicara dari hati ke hati.
Setelah mendengarkan keluh kesah mereka, Yesus menjawab
dengan menjelaskan Kitab Suci. Firman Allah menjadi cahaya yang menuntun mereka
keluar dari kegelapan batin. Dan puncaknya adalah perjamuan: pemecahan roti
yang membuka mata mereka.
Dalam kehidupan kita, dua hal ini tetap menjadi pilar
pemulihan: Sabda dan Sakramen. Ketika kita membaca Kitab Suci dan merayakan
Ekaristi, kita tidak hanya mengenang Yesus, tetapi sungguh berjumpa dengan-Nya.
Ia hadir, menyapa, dan menyembuhkan.
Kisah ini juga mengajak kita untuk merenungkan kembali
pentingnya percakapan dalam keluarga. Di zaman digital ini, banyak keluarga
kehilangan momen bercakap-cakap. Televisi, ponsel, media sosial—semuanya
menyita perhatian kita. Kita duduk bersama, tetapi hati kita berjauhan. Kita
tinggal serumah, tetapi tidak saling mengenal.
Padahal, percakapan dari hati ke hati adalah jalan menuju
pemulihan. Ketika suami dan istri saling mendengarkan, ketika orangtua dan anak
saling berbagi, ketika saudara saling menguatkan—di sanalah Tuhan hadir.
Seperti di jalan Emaus, Ia berjalan di tengah kita, menyembuhkan luka, dan
menyalakan harapan baru.
Setelah perjumpaan itu, dua murid yang tadinya meninggalkan
Yerusalem kini kembali ke sana. Mereka tidak lagi takut. Mereka tidak lagi
kecewa. Mereka membawa kabar sukacita: “Tuhan sungguh telah bangkit!” Inilah
kekuatan perjumpaan dengan Kristus: Ia mengubah arah hidup kita. Ia mengubah
kekecewaan menjadi keberanian. Ia mengubah keputusasaan menjadi misi.
Maka, marilah kita belajar dari dua murid Emaus. Mari kita
buka hati untuk berbicara. Mari kita dengarkan Sabda Tuhan. Mari kita rayakan
Ekaristi dengan iman yang hidup. Dan mari kita pulihkan komunikasi dalam
keluarga kita. Sebab dalam setiap percakapan yang tulus, Tuhan hadir. Dan di
sanalah harapan baru dilahirkan.
#emaushariini
#percakapanyangmenyembuhkan #kekecewaandaniman #kerasulanawam #keluargakatolik
#ekaristidanfirman #imanyanghidup #gerejayangmendampingi #mewartakankasihallah
#katolikaktif
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin