Sebagai seorang advokat dan aktivis kerasulan awam, saya
melihat ensiklik ini sebagai panggilan mendesak bagi kita semua untuk menata
ulang cara kita memandang pembangunan, ekonomi, politik, dan relasi
sosial—bukan semata dari sudut efisiensi atau keuntungan, tetapi dari terang
kasih yang berakar dalam kebenaran.
Paus Benediktus XVI mengingatkan bahwa kasih tanpa kebenaran
akan menjadi sentimental dan manipulatif, sementara kebenaran tanpa kasih akan
menjadi dingin dan menindas. Dalam dunia hukum dan sosial yang saya geluti,
saya menyaksikan sendiri bagaimana kebijakan yang tidak dilandasi kasih sering
kali melahirkan ketidakadilan struktural. Sebaliknya, tindakan kasih yang tidak
berpijak pada kebenaran bisa menjadi populisme yang menyesatkan.
“Hanya dalam kebenaran kasih bersinar, hanya dalam kebenaran
kasih dapat secara otentik dihayati.” (CV, 3)
Ensiklik ini menegaskan bahwa manusia, bukan modal atau
kekuasaan, harus menjadi pusat dari setiap proses pembangunan. Dalam konteks
Indonesia, di mana pembangunan sering kali mengorbankan masyarakat adat, petani
kecil, dan kaum miskin kota, suara ensiklik ini menjadi sangat relevan.
“Manusia adalah sumber, fokus dan tujuan semua kehidupan
ekonomis dan sosial.” (CV, 25)
Sebagai kerasulan awam, kita dipanggil untuk menjadi penjaga
martabat manusia—melalui advokasi hukum, pendidikan kritis, dan pemberdayaan
komunitas.
Paus Benediktus tidak menolak globalisasi, tetapi mengajak
kita untuk mengisinya dengan solidaritas yang terbarukan. Dunia yang saling
terhubung membutuhkan etika global yang menjunjung keadilan dan kepentingan
umum, bukan sekadar kompetisi bebas.
“Masalah-masalah seperti krisis global, kemiskinan,
kelaparan bukan disebabkan oleh globalisasi itu sendiri, tetapi oleh
penggunaannya demi kepentingan pribadi.” (CV, 49)
Kita dipanggil untuk membangun jaringan solidaritas lintas
batas—dari koperasi petani lokal hingga gerakan advokasi internasional.
Salah satu bagian paling profetik dari ensiklik ini adalah
sorotannya terhadap ekologi. Paus menegaskan bahwa lingkungan adalah anugerah
Tuhan, dan kita memiliki tanggung jawab moral untuk menjaganya. Namun lebih
dari itu, beliau memperkenalkan konsep “ekologi manusia”—yakni penghormatan
terhadap struktur moral dan spiritual kehidupan manusia.
“Ketika ekologi manusia dihormati, maka ekologi lingkungan
juga memberi manfaatnya.” (CV, 51)
Dalam dunia yang mengejar pertumbuhan ekonomi dengan
mengorbankan alam dan manusia, suara ini menjadi panggilan untuk bertobat.
Kerasulan awam harus menjadi garda depan dalam membela bumi dan manusia—melalui
gaya hidup ekologis, kebijakan publik yang berkelanjutan, dan spiritualitas
ciptaan.
Akhirnya, Caritas in Veritate mengajak kita untuk mencintai
seperti Allah mencintai: memberi tanpa mengharapkan balasan. Kasih bukanlah
transaksi, tetapi transformasi. Bukan do ut des (aku memberi supaya aku
mendapat), tetapi do quia accepi (aku memberi karena aku telah menerima).
“Dengan Tuhan, cakrawala cinta menjadi luas.” (CV, 78)
Inilah panggilan kerasulan awam: menjadi saksi kasih yang
berakar dalam kebenaran, di tengah dunia yang haus akan keadilan dan
pengharapan.
✍️ Oleh: Darius Leka, S.H., M.H. – Advokat & Aktivis
Kerasulan Awam Katolik
#caritasinveritate #kerasulanawam #ajaransosialgereja
#kasihdalamkebenaran #ekologimanusia #solidaritasglobal #martabatmanusia
#pembangunanintegral #gerejakatolik #cintaallahuntukdunia #shdariusleka #reels #foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin