KOTA DEPOK - Selasa, 6 Januari 2015. Senja belum sepenuhnya turun ketika halaman belakang Gereja Katolik Santo Paulus Depok mulai dipenuhi umat. Tenda sederhana berdiri di depan pastoran, dihiasi kursi-kursi plastik dan podium kecil. Tak ada kemewahan, namun suasana hangat dan penuh kasih terasa menyelimuti tempat itu. Hari itu adalah hari istimewa: ulang tahun ke-64 Pater Yosef Paleba Tolok Tote, OFM—gembala umat yang dikenal bersahaja, penuh semangat, dan tak pernah kehilangan senyum khasnya.
Dalam sambutannya sebelum pemotongan kue, Pater Yosef
mengenang asal-usul namanya. “Orangtua saya memilih nama Yosef karena percaya
itu nama yang paling aman,” tuturnya. Nama itu bukan sekadar identitas, tetapi
panggilan hidup: menjadi pelindung, pengayom, dan pelayan seperti Santo Yosef,
ayah angkat Yesus. Lahir di Flores pada 6 Januari 1951, anak ketujuh dari
sepuluh bersaudara ini tumbuh dalam kesederhanaan, hanya mengandalkan ASI tanpa
suplemen modern. “Saya tumbuh alami,” katanya sambil tertawa kecil.
Ditahbiskan pada tahun 1982, Pater Yosef telah menapaki
jalan imamat selama lebih dari tiga dekade. Ia mengakui, masa-masa awal
pelayanannya tidak selalu mulus. “Sebagai imam muda, saya sering memaksakan
kehendak dan kurang mendengar,” ujarnya jujur. Namun pengalaman, seperti guru
yang sabar, membentuknya menjadi pribadi yang lebih bijak. “Saya belajar bahwa
setiap orang punya kelebihan dan kekurangan. Kita harus duduk bersama,
memikirkan bersama.”
Refleksi ini bukan sekadar nostalgia, tetapi cermin dari
spiritualitas Fransiskan yang ia hidupi: rendah hati, terbuka, dan mengakar
pada komunitas. Dalam kerasulan awam, nilai-nilai ini menjadi fondasi penting
untuk membangun sinergi antara imam dan umat, antara hierarki dan awam.
Perayaan ulang tahun ini dirangkai dengan Misa Kudus dan
Natal bersama para pengurus DPP, DKP, dan kelompok kategorial. Anak-anak
Sekolah Dasar mempersembahkan tarian Sunda, menambah semarak suasana. Hadir
pula para pastor rekan dan tetangga paroki seperti RP. Anton Sahat Manurung,
OFM, RP. Alfons S. Suhardi, OFM, dan RD. Yustinus Dwi Karyanto. “Terus
bersemangat melayani umat dan Amin,” ujar RP. Anton singkat namun penuh makna.
Kehadiran umat dari berbagai usia, termasuk anak-anak yang
mungkin tak diundang secara resmi, menunjukkan betapa besar cinta umat kepada
gembalanya. Ini adalah bukti nyata bahwa pelayanan yang tulus akan selalu
menemukan tempat di hati umat.
Dalam wawancara singkat, Pater Yosef menekankan pentingnya
kerja sama. “Kita harus bergandeng tangan, berkomitmen sesuai tugas dan
tanggung jawab masing-masing,” katanya. Pesan ini sangat relevan dalam konteks
kerasulan awam. Gereja bukan hanya milik para imam, tetapi milik seluruh umat
Allah. Setiap orang dipanggil untuk ambil bagian, baik dalam bidang sosial,
ekonomi, hukum, maupun kemasyarakatan.
Sebagai advokat dan aktivis kerasulan awam, saya melihat
bahwa semangat kolaboratif ini adalah kunci untuk membangun Gereja yang hidup
dan relevan. Dalam dunia yang semakin kompleks, Gereja harus hadir sebagai
komunitas yang inklusif, partisipatif, dan transformatif.
Ulang tahun ke-64 Pater Yosef bukan sekadar perayaan
pribadi, tetapi momentum refleksi bersama. Tentang kesetiaan dalam pelayanan.
Tentang pertumbuhan dalam pengalaman. Tentang pentingnya mendengar dan berjalan
bersama. Dan yang terpenting, tentang bagaimana kita semua—imam dan awam—dipanggil
untuk memuliakan Tuhan melalui pelayanan yang sederhana namun bermakna.
Semoga semangat Pater Yosef menjadi inspirasi bagi kita
semua untuk terus melayani dengan rendah hati, bersyukur dalam segala hal, dan
mewartakan kasih Allah di tengah dunia.
✍️ Oleh: Darius Leka, S.H., M.H., Advokat & Aktivis Kerasulan Awam Gereja Katolik
#pateryoseftote #kerasulanawam #gerejakatolik
#parokistpaulusdepok #imamfransiskan #pelayanandengankasih
#syukurdankesederhanaan #gembalayangbaik #kolaborasiimamawam
#cintaallahuntukdunia #shdariusleka #reels #foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin