
✍️ Oleh: Darius Leka, S.H., M.H., Advokat & Aktivis Kerasulan Awam Gereja Katolik
KOTA DEPOK - Setiap kali Misa berakhir, kita mendengar
seruan yang sama: “Marilah pergi, kita diutus.” Namun, seberapa sering kita
merenungkan makna kalimat itu? Apakah ia hanya menjadi penutup liturgi yang
formal, ataukah sungguh menjadi panggilan hidup yang menggerakkan kita untuk
mewartakan Injil dalam keseharian?
Di Paroki St. Paulus Depok, seruan itu tidak dibiarkan
menjadi hampa. Ia dijawab dengan tindakan nyata melalui penyelenggaraan Kursus
Evangelisasi Pribadi (KEP) angkatan ke-2—sebuah program yang dirancang untuk
membentuk para rasul awam yang siap diutus, bukan hanya dalam kata, tetapi
dalam karya.
KEP bukanlah sekadar kursus biasa. Ia lahir dari semangat
pembaruan Gereja pasca Konsili Vatikan II, yang menegaskan bahwa evangelisasi
adalah tugas seluruh umat, bukan hanya para imam dan religius. Dirintis oleh Pastor
L. Sugiri van den Heuvel, SJ pada 1988, KEP bertujuan membentuk pribadi-pribadi
yang mengalami pertobatan mendalam, mencintai doa, memahami ajaran Gereja, dan
siap menjadi saksi Kristus di tengah dunia.
Dekrit Apostolicam Actuositatem (Nomor 2 & 6) menegaskan
bahwa kerasulan awam harus berorientasi pada penginjilan, pengudusan, dan
pembaruan tata dunia. KEP menjawab panggilan itu dengan membekali umat untuk
menginjili diri sendiri terlebih dahulu, sebelum mewartakan kepada orang lain.
Berdasarkan informasi dari Sie Kitab Suci, Bapak Andreas
Muhammad Sirad, hingga 30 Oktober 2011 tercatat sekitar 20 peserta yang
mendaftar. Setelah melalui berbagai pertimbangan, kursus ini dijadwalkan
dimulai pada 13 November 2011, setiap Sabtu dan Minggu pukul 19.00–21.00 WIB.
Dalam Misa kedua pada Minggu, 30 Oktober, Pastor Stanislaus
Agus Haryanto, OFM, menegaskan kembali pentingnya evangelisasi dalam homilinya.
Ia menyampaikan empat karakter yang harus dimiliki umat Katolik:
- Missioner: Hidup dalam perwartaan, menghadirkan Kristus melalui
tindakan nyata, bukan sekadar kata-kata. Evangelisasi bukan soal
menjadikan orang lain Katolik, tetapi menghadirkan kebaikan Kristus dalam
hidup bersama.
- Mandiri: Umat harus menghidupi imannya tanpa bergantung pada
paroki atau hierarki. Gereja hidup karena umatnya hidup.
- Berdaya
Tahan: Dalam dunia yang penuh
tantangan, umat harus memiliki ketangguhan spiritual dan sosial untuk
tetap setia pada iman.
- Berdaya
Pikat: Gereja harus menjadi tempat
yang menarik, terbuka, dan mampu menjalin dialog lintas iman.
Sebagai aktivis kerasulan awam, saya percaya bahwa KEP
adalah salah satu bentuk konkret dari pemberdayaan umat. Ia bukan hanya
membentuk pengetahuan, tetapi juga membentuk hati. Ia mengajak kita untuk tidak
hanya menjadi umat yang duduk di bangku gereja, tetapi menjadi pewarta yang
berjalan di tengah masyarakat.
Evangelisasi bukanlah monopoli para imam. Setiap orang yang
telah dibaptis dipanggil untuk menjadi saksi Kristus. Dan dalam dunia yang
semakin sekuler, suara awam menjadi semakin penting. Kita dipanggil untuk
menjadi terang dan garam, bukan dengan menghakimi, tetapi dengan mengasihi.
KEP adalah panggilan untuk bergerak. Untuk keluar dari zona
nyaman. Untuk menjadikan iman sebagai kekuatan yang mengubah hidup, keluarga,
dan masyarakat. Maka, ketika kita mendengar seruan “Marilah pergi, kita
diutus,” mari kita jawab dengan penuh kesadaran: “Ya Tuhan, utuslah aku.”
Sebab dunia menanti pewarta-pewarta baru. Dan Gereja menanti
kita untuk menjawab panggilan itu.
#kursusevangelisasipribadi
#marilahpergikitadiutus #kerasulanawam #gerejahadiruntukdunia
#rasulawamberkarya #evangelisasiadalahtugaskita #imanyanghidup
#kepstpaulusdepok #pewartakristuszamanini #beranidiutus
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin