Selasa, 08 November 2011

“Marilah Pergi, Kita Diutus”; KEP dan Misi Evangelisasi Awam di Tengah Dunia

️ Oleh: Darius Leka, S.H., M.H., Advokat & Aktivis Kerasulan Awam Gereja Katolik

KOTA DEPOK
- Setiap kali Misa berakhir, kita mendengar seruan yang sama: “Marilah pergi, kita diutus.” Namun, seberapa sering kita merenungkan makna kalimat itu? Apakah ia hanya menjadi penutup liturgi yang formal, ataukah sungguh menjadi panggilan hidup yang menggerakkan kita untuk mewartakan Injil dalam keseharian?

Di Paroki St. Paulus Depok, seruan itu tidak dibiarkan menjadi hampa. Ia dijawab dengan tindakan nyata melalui penyelenggaraan Kursus Evangelisasi Pribadi (KEP) angkatan ke-2—sebuah program yang dirancang untuk membentuk para rasul awam yang siap diutus, bukan hanya dalam kata, tetapi dalam karya.

KEP bukanlah sekadar kursus biasa. Ia lahir dari semangat pembaruan Gereja pasca Konsili Vatikan II, yang menegaskan bahwa evangelisasi adalah tugas seluruh umat, bukan hanya para imam dan religius. Dirintis oleh Pastor L. Sugiri van den Heuvel, SJ pada 1988, KEP bertujuan membentuk pribadi-pribadi yang mengalami pertobatan mendalam, mencintai doa, memahami ajaran Gereja, dan siap menjadi saksi Kristus di tengah dunia.

Dekrit Apostolicam Actuositatem (Nomor 2 & 6) menegaskan bahwa kerasulan awam harus berorientasi pada penginjilan, pengudusan, dan pembaruan tata dunia. KEP menjawab panggilan itu dengan membekali umat untuk menginjili diri sendiri terlebih dahulu, sebelum mewartakan kepada orang lain.

Berdasarkan informasi dari Sie Kitab Suci, Bapak Andreas Muhammad Sirad, hingga 30 Oktober 2011 tercatat sekitar 20 peserta yang mendaftar. Setelah melalui berbagai pertimbangan, kursus ini dijadwalkan dimulai pada 13 November 2011, setiap Sabtu dan Minggu pukul 19.00–21.00 WIB.

Dalam Misa kedua pada Minggu, 30 Oktober, Pastor Stanislaus Agus Haryanto, OFM, menegaskan kembali pentingnya evangelisasi dalam homilinya. Ia menyampaikan empat karakter yang harus dimiliki umat Katolik:

  1. Missioner: Hidup dalam perwartaan, menghadirkan Kristus melalui tindakan nyata, bukan sekadar kata-kata. Evangelisasi bukan soal menjadikan orang lain Katolik, tetapi menghadirkan kebaikan Kristus dalam hidup bersama.
  2. Mandiri: Umat harus menghidupi imannya tanpa bergantung pada paroki atau hierarki. Gereja hidup karena umatnya hidup.
  3. Berdaya Tahan: Dalam dunia yang penuh tantangan, umat harus memiliki ketangguhan spiritual dan sosial untuk tetap setia pada iman.
  4. Berdaya Pikat: Gereja harus menjadi tempat yang menarik, terbuka, dan mampu menjalin dialog lintas iman.

Sebagai aktivis kerasulan awam, saya percaya bahwa KEP adalah salah satu bentuk konkret dari pemberdayaan umat. Ia bukan hanya membentuk pengetahuan, tetapi juga membentuk hati. Ia mengajak kita untuk tidak hanya menjadi umat yang duduk di bangku gereja, tetapi menjadi pewarta yang berjalan di tengah masyarakat.

Evangelisasi bukanlah monopoli para imam. Setiap orang yang telah dibaptis dipanggil untuk menjadi saksi Kristus. Dan dalam dunia yang semakin sekuler, suara awam menjadi semakin penting. Kita dipanggil untuk menjadi terang dan garam, bukan dengan menghakimi, tetapi dengan mengasihi.

KEP adalah panggilan untuk bergerak. Untuk keluar dari zona nyaman. Untuk menjadikan iman sebagai kekuatan yang mengubah hidup, keluarga, dan masyarakat. Maka, ketika kita mendengar seruan “Marilah pergi, kita diutus,” mari kita jawab dengan penuh kesadaran: “Ya Tuhan, utuslah aku.”

Sebab dunia menanti pewarta-pewarta baru. Dan Gereja menanti kita untuk menjawab panggilan itu.

 

#kursusevangelisasipribadi #marilahpergikitadiutus #kerasulanawam #gerejahadiruntukdunia #rasulawamberkarya #evangelisasiadalahtugaskita #imanyanghidup #kepstpaulusdepok #pewartakristuszamanini #beranidiutus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin