Senin, 11 Juni 2012

MEMAKNAI HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS

Oleh: P. Yan Ladju, OFM
Dalam kalender Gereja, hari minggu kedua sesudah Pentakosta, selalu dirayakan sebagai Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Tahun 2012 ini, peristiwa itu jatuh pada hari Minggu ini, tanggal 10 Juni. Lalu, apa intinya ?
Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus adalah sebuah perayaan yang istimewa dan penting karena intinya adalah : merayakan Tuhan yang hadir secara nyata dalam Ekaristi. Dalam perayaan Ekaristi, Tuhan sungguh hadir : Ia dapat dilihat, diraba dan dapat dirasakan dengan seluruh panca indra kita dalam wujud roti dan anggur yang dikonsekrir di atas altar melalui tangan imam. Roti dan Anggur menjadi lambang kehadiran Tuhan, karena ia sendiri bersabda : “terimalah, … inilah Tubuh-Ku, … inilah Darah-Ku, … yang diserahkan bagimu … demi pengampunan dosa … lakukanlah ini untuk mengenangkan Daku …” (Lihat : Mat. 26:26-28 ; Luk. 23 :19-20 ; Mrk. 14:22-24). Jadi, Ekaristi adalah mengenang sekaligus mengulang perjamuan Tuhan, sesuai dengan pesan Yesus sendiri. Artinya, dalam Ekaristi Tuhan sekali lagi memberikan diri-Nya, melanjutkan pengorbanan-Nya di salib. Maka sakramen Ekaristi sering juga disebut dengan nama-nama seperti : sakramen altar, sakramen cintakasih, atau korban misa. Tetapi sakramen Ekaristi juga “sakramen Puncak”. Artinya, puncak perjumpaan antara Allah dan manusia. Dalam Ekaristi Tuhan merendah dan memberikan diri-Nya kepada manusia, dan manusia (yang menyambut komuni) menerima Tuhan sendiri.
Karena “peristiwa perjumpaan yang Agung” itulah, di banyak paroki (seperti di St. Paulus ini), Hari Raya Tubuh dan Darah Tuhan dipilih sebagai hari yang cocok untuk perayaan Komuni Pertama.
Menurut St. Fransiskus Asisi, menerima komuni adalah momen yang sangat penting dan sangat mulia sebab menyambut berarti bersatu dengan Tuhan. Tuhan yang mahatinggi sudi merendahkan diri untuk mempersatukan kita dengan diri-Nya. Kita diangkat ke tingkat ilahi, dan yang ilahi “berdiam” di dalam diri kita. Kita disucikan dan menjadi “tempat kediaman” Allah. Menurut Fransiskus, melalui Ekaristi Allah Putera tidak hanya lahir di Betlehem tetapi juga lahir kembali dalam diri kita. Dalam Ekaristi, Yesus tidak hanya mengorbankan diri-Nya di salib tetapi juga di atas altar, dan melalui tangan imam, menyerahkan diri-Nya agar kita hidup. Itulah kebahagiaan orang kristen : bahagia karena boleh bersatu dengan Tuhan, dan boleh menerima Tuhan. Peristiwa persatuan seperti ini, hanya terjadi pada sakramen Ekaristi, dan tidak pada sakramen-sakramen lain. Juga tidak ada dalam agama-agama lain.
Berdasarkan ajaran tentang Ekaristi seperti dijelaskan di atas, maka beberapa hal berikut patut kita perhatikan :
Pertama, agar sebelum “misa” perlu persiapan batin yang pantas. Sebelum ke Gereja perlu mempersiapkan hati dan pikiran, agar bersiap-siap menerima Tuhan. Juga persiapan dekat, waktu mulai misa : sejak doa “saya mengaku …dst … hingga menjelang komuni, waktu mengucapkan “…ya Tuhan saya tidak pantas …dst …”. Dengan demikian, kita menyambut Tuhan dengan hati yang sopan.
Kedua, setelah komuni dan habis misa : setelah menyambut, bersikap penuh hormat dan syukur atas Tuhan yang hadir. Maka perlu mengucapkan doa syukur sesudah komuni. Sesudah selesai misa juga begitu. Biar pun imam sudah berkata “misa sudah selesai, pulanglah dalam damai Tuhan”, kita masih perlu mengucapkan doa pribadi sejenak ; jangan cepat-cepat keluar dari gereja.
Ketiga, Komuni sebagai bekal hidup : menyambut komuni adalah menerima Tuhan, dan menerima Tuhan berarti menerima bekal hidup. Karena itu, sangat dianjurkan agar kita sering menerima Komuni, kalau dapat, setiap hari sebab kalau ingin agar Tuhan hadir dalam diri kita, sering menerima komuni berarti semakin akrab dengan Tuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin