Senin, 09 Juli 2012

Warna-Warni Iman, Satu Tubuh Kristus; Merayakan Pesta Nama St. Paulus-Depok


KOTA DEPOK - Di tengah hiruk-pikuk kehidupan urban yang kian kompleks, Gereja Katolik St. Paulus-Depok berdiri sebagai mercusuar iman yang tak hanya menyinari umatnya, tetapi juga menanamkan akar sejarah yang dalam. Tanggal 1 Juli 2012 menjadi momentum istimewa: perayaan Pesta Nama Pelindung Paroki, St. Paulus, yang dirayakan dengan semangat, warna, dan refleksi mendalam.

Berdasarkan dokumen resmi Gereja, pada 7 Februari 1960, seorang umat bernama Estalita Esperanza Maria dibaptis secara Katolik oleh Pastor J. J. Rosen, OFM. Peristiwa ini menandai kelahiran Paroki St. Paulus-Depok. Enam bulan kemudian, pada 1 Juli 1960, terbentuklah Dewan Pastoral Paroki dan diterbitkan akta pendirian gereja. Dua tanggal ini kini menjadi tonggak sejarah: 7 Februari sebagai Hari Paroki dan 1 Juli sebagai Pesta Nama Pelindung Paroki.

Misa Pesta Nama St. Paulus tahun ini dipimpin oleh RP. Tauchen Hotlan Girsang, OFM dan RP. Stanislaus Agus Haryanto, OFM. Kasula merah yang dikenakan menjadi simbol semangat dan pengorbanan St. Paulus. Perarakan dari halaman pastoral menuju gereja diiringi tarian khas Batak oleh ibu-ibu dari Lingkungan St. Maria Magdalena, yang juga bertugas sebagai koor.

Dalam upacara persembahan, Lingkungan St. Antonius Padua mempersembahkan tarian khas Jawa. Umat hadir dengan busana adat dari berbagai daerah: Batak, Flores, Toraja, Jawa, Papua, dan lainnya. Ini bukan sekadar perayaan budaya, tetapi perwujudan nyata dari semangat Katolik: universal, inklusif, dan satu dalam iman.

Dalam homilinya, Pastor Tauchen mengajak umat untuk meneladani semangat St. Paulus. “Yang dibawa oleh St. Paulus adalah Yesus, bukan harta atau kekayaan. Ia tidak gentar menghadapi persoalan karena ia membawa keselamatan,” tegasnya.

Ia menekankan pentingnya kesetiaan dalam pelayanan. “Jangan ada yang mengundurkan diri. Memang tidak mudah berjalan bersama Yesus, tetapi kita harus tetap setia seperti St. Paulus,” pesannya kepada seluruh umat, terutama para pengurus lingkungan, wilayah, dan seksi-seksi pelayanan.

Sebagai seorang advokat dan aktivis kerasulan awam, saya melihat perayaan ini sebagai cermin dari Gereja yang hidup. Gereja bukan hanya tempat ibadah, tetapi medan misi. Dalam semangat St. Paulus, kita dipanggil untuk menjadi pewarta kasih dan cinta Allah dalam bidang sosial, ekonomi, hukum, dan kemasyarakatan.

Kita adalah bagian dari tubuh Kristus yang satu, meski berasal dari latar belakang yang beragam. Warna-warni budaya bukanlah penghalang, melainkan kekayaan yang memperindah tubuh Gereja. Dalam keberagaman, kita dipersatukan oleh satu iman, satu Tuhan, satu Baptisan.

Setelah misa, umat berkumpul dalam kebersamaan untuk menikmati rebusan yang disiapkan oleh Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI). Makan bersama ini bukan hanya soal hidangan, tetapi perayaan persaudaraan yang nyata—buah dari iman yang dihidupi.


Oleh: Darius Leka, S.H., M.H. – Advokat, Aktivis Rasul Awam Gereja Katolik sekaligus Koordinator KOMSOS Paroki Santo Paulus Depok periode 2010-2013

#stpaulusdepok #pestanamapelindung #hariparoki #kerasulanawam #gerejahidup #imandalamtindakan #cintaallahuntukdunia #persaudaraandalamiman #katolikuniversal #pelayananumat #shdariusleka #reels #foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin