![]() |
Berdasarkan dokumen resmi Gereja, pada 7 Februari 1960,
seorang umat bernama Estalita Esperanza Maria dibaptis secara Katolik oleh
Pastor J. J. Rosen, OFM. Peristiwa ini menandai kelahiran Paroki St.
Paulus-Depok. Enam bulan kemudian, pada 1 Juli 1960, terbentuklah Dewan
Pastoral Paroki dan diterbitkan akta pendirian gereja. Dua tanggal ini kini
menjadi tonggak sejarah: 7 Februari sebagai Hari Paroki dan 1 Juli sebagai
Pesta Nama Pelindung Paroki.
Misa Pesta Nama St. Paulus tahun ini dipimpin oleh RP.
Tauchen Hotlan Girsang, OFM dan RP. Stanislaus Agus Haryanto, OFM. Kasula merah
yang dikenakan menjadi simbol semangat dan pengorbanan St. Paulus. Perarakan
dari halaman pastoral menuju gereja diiringi tarian khas Batak oleh ibu-ibu
dari Lingkungan St. Maria Magdalena, yang juga bertugas sebagai koor.
Dalam upacara persembahan, Lingkungan St. Antonius Padua
mempersembahkan tarian khas Jawa. Umat hadir dengan busana adat dari berbagai
daerah: Batak, Flores, Toraja, Jawa, Papua, dan lainnya. Ini bukan sekadar
perayaan budaya, tetapi perwujudan nyata dari semangat Katolik: universal,
inklusif, dan satu dalam iman.
Dalam homilinya, Pastor Tauchen mengajak umat untuk meneladani
semangat St. Paulus. “Yang dibawa oleh St. Paulus adalah Yesus, bukan harta
atau kekayaan. Ia tidak gentar menghadapi persoalan karena ia membawa
keselamatan,” tegasnya.
Ia menekankan pentingnya kesetiaan dalam pelayanan. “Jangan
ada yang mengundurkan diri. Memang tidak mudah berjalan bersama Yesus, tetapi
kita harus tetap setia seperti St. Paulus,” pesannya kepada seluruh umat,
terutama para pengurus lingkungan, wilayah, dan seksi-seksi pelayanan.
Sebagai seorang advokat dan aktivis kerasulan awam, saya
melihat perayaan ini sebagai cermin dari Gereja yang hidup. Gereja bukan hanya
tempat ibadah, tetapi medan misi. Dalam semangat St. Paulus, kita dipanggil
untuk menjadi pewarta kasih dan cinta Allah dalam bidang sosial, ekonomi,
hukum, dan kemasyarakatan.
Kita adalah bagian dari tubuh Kristus yang satu, meski
berasal dari latar belakang yang beragam. Warna-warni budaya bukanlah
penghalang, melainkan kekayaan yang memperindah tubuh Gereja. Dalam
keberagaman, kita dipersatukan oleh satu iman, satu Tuhan, satu Baptisan.
Setelah misa, umat berkumpul dalam kebersamaan untuk
menikmati rebusan yang disiapkan oleh Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI).
Makan bersama ini bukan hanya soal hidangan, tetapi perayaan persaudaraan yang
nyata—buah dari iman yang dihidupi.
Oleh: Darius Leka, S.H., M.H. – Advokat, Aktivis Rasul Awam Gereja Katolik sekaligus Koordinator KOMSOS Paroki Santo Paulus Depok periode 2010-2013
#stpaulusdepok #pestanamapelindung #hariparoki
#kerasulanawam #gerejahidup #imandalamtindakan #cintaallahuntukdunia
#persaudaraandalamiman #katolikuniversal #pelayananumat #shdariusleka #reels #foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin