Selasa, 03 Juli 2012

HIDUP SEBAGAI UTUSAN


Oleh: Sdr. Yoseph Agut, OFM/ Foto: Darius AR

Hari ini kita merayakan Kelahiran Yohanes Pembaptis. Kita mengenal baik siapa Yohanes Pembaptis itu. Ia adalah “suara yang berseru-seru di padang gurun ‘persiapkanlah jalan bagi Tuhan, luruskanlah jalan bagiNya.” (Mrk 1:2-3) Kita mengimani bahwa Yohanes adalah orang yang diutus oleh Allah sendiri untuk mempersiapkan kehadiran Putera Allah. Daripadanyalah, kita menerima warta pertobatan dan diajak untuk menyambut kehadiran Allah dalam Yesus Kristus dalam suasana diri yang siap.
Ketika saya membaca perikop dari injil ini dan juga beberapa perikop lain tentang Yoahanes Pembaptis, saya teringat akan seorang Pengemis Tua yang sering duduk mengemis di trotoar menuju Gereja Katedral Bogor. Yang menarik dari pengemis ini adalah cara mengemis yang tergolong unik, yakni ia mengemis sambil membaca ayat-ayat suci Al’quran.  Mulutnya komat-kamit membaca surat-surat tersebut.
Kita mungkin tidak tertarik bahkan mungkin mencemooh cara mengemis seperti itu, apalagi itu dilakukannya di depan Gereja. Namun, bagi saudara-saudara yang muslim tentunya pembacaan ayat-ayat suci tersebut memberi manfaat bagi mereka yang memberikan uangnya kepada pengemis itu. Mungkin saja saudara-saudara muslim kebanyakan tidak sempat melafalkan surat-surat tersebut. Tetapi pengemis itu membantu mereka untuk terus menggemakan ayat-ayat suci itu. Kiranya pembacaan spontan seperti itu juga menyelamatkan setiap orang yang lewat.
Kalau kita kembali ke kisah Pewartaan Yohanes Pembaptis, kita mungkin bisa menyamakan dia dengan pengemis tersebut. Apa yang diwartakan Yohanes adalah warta keselamatan yang menguatkan dan meneguhkan Umat Israel bahwa keselamatan akan segera tiba. Bagi kita yang mendengarkan dan mempersiapkan diri dalam karya keselamatan itu, baiklah kita melihat diri kita sebagai orang-orang yang diutus. Kita tidak sekedar menjadi orang yang hanya menanti-nanti tetapi siap sedia menjadi orang-orang yang diutus. Kita adalah Yohanes-yohanes yang baru yang mempunyai tugas sebagai utusan. Untuk itu, baiklah kita melihat dalam figur Yohanes Pembaptis, seperti apa dan bagaimana hidup sebagai utusan.
Pertama, seorang utusan adalah orang yang mewartakan. Unsur penting yang perlu kita renungkan adalah tugas mewartakan. Yohanes Pembaptis adalah seorang Yahudi yang taat, namun dia bukanlah orang yang menanti-nanti begitu saja. Begitu dia tahu bahwa tugasnya adalah mewartakan, maka dia segera bergerak dan menjalankan tugas itu. Unsur yang dapat kita renungkan disana adalah karya aktif.  Kita tidak dapat lagi hanya menanti atau menunggu tetapi menjadi pribadi yang proaktif dalam karya keselamatan Allah itu.
Ketika menjadi pewarta, kita sendiri yang aktif untuk melaksanakan tugas. Dalam diri kita ada sedikit kepastian dan harapan bahwa apa yang kita lakukan berguna bagi diri kita dan bagi sesama kita. Itulah yang seharusnya ada dalam karya kita kepastian dan harapan. Kita tidak bisa hanya bermental pasif, menunggu apa saja yang dilakukan rekan kita. Kita sendirilah yang harus turun tangan mengerjakan dan melaksanakan apa yang menjadi tugas kita.
Kedua, seorang utusan adalah orang yang bertobat. Warta yang disampaikan Yohanes Pembaptis adalah warta pertobatan. Pertobatan bukanlah soal bagaimana kita mengakukan dosa kita di hadapan Tuhan seperti yang akan kita lakukan. Lebih dari itu, sebagai seorang utusan, pertobatan yang dibutuhkan adalah pertobatan dalam tindakan, tindakan yang berasal dari kedalaman hati kita yang berubah (change of heart). Ketika kita diutus untuk mewartakan kabar gembira, pewartaan itu sendiri haruslah berasal dari diri kita sendiri. Kita tidak bisa keluar kepada orang lain, tanpa mulai dari diri sendiri. Orang tentunya akan terlebih dahulu melihat diri kita, bagaimana cara hidup kita, apakah sungguh mewartakan dari hati. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin