BOGOR – Pada Rabu sore yang syahdu, 22 Februari 2017, di Gereja Katolik Santo Fransiskus Assisi, Sukasari, Bogor, sebuah peristiwa sakral dan penuh makna terjadi. Empat diakon ditahbiskan menjadi imam oleh Uskup Keuskupan Bogor, Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM. Mereka adalah Diakon Jeremias Uskono, Diakon Paulus Piter, Diakon Gregorius Agus Edi Cahyono, dan Diakon Agustinus Hardono. Di tengah arus zaman yang kian sekular dan pragmatis, tahbisan ini bukan sekadar seremoni liturgis, melainkan sebuah pernyataan iman yang menggugah: bahwa panggilan imamat adalah jawaban atas cinta Allah yang tak bersyarat.
Dalam homilinya, Mgr. Paskalis menegaskan bahwa para imam
bukanlah manusia super. Mereka adalah pribadi-pribadi rapuh, yang dengan rendah
hati menyerahkan diri kepada rahmat Allah untuk turut serta dalam karya
keselamatan-Nya. “Mereka manusia biasa, yang memiliki banyak kelemahan, tapi
dengan Rahmat Allah menjadikan mereka untuk ikut serta dalam karya keselamatan
dari Allah,” ujar Uskup dengan nada lembut namun tegas.
Pernyataan ini bukan sekadar retorika. Ia adalah pengingat
bagi seluruh umat, termasuk kami para rasul awam, bahwa Gereja dibangun bukan
oleh kekuatan manusia, melainkan oleh kasih karunia Allah yang bekerja melalui
manusia yang bersedia diutus.
Dalam nada pastoral yang penuh kasih namun tidak
kompromistis, Mgr. Paskalis juga mengingatkan bahwa imamat bukanlah jalan yang
bisa ditempuh dengan keterpaksaan. “Jika kalian merasa terpaksa menjadi imam,
akan lebih baik jika saudara keluar saja!” tegasnya. Pernyataan ini menggugah
kesadaran kita akan pentingnya kebebasan batin dalam menjawab panggilan Tuhan.
Sebagai aktivis kerasulan awam, saya melihat bahwa pesan ini
juga berlaku bagi kita semua. Dalam pelayanan sosial, hukum, ekonomi, dan
kemasyarakatan, kita pun dipanggil untuk melayani bukan karena keterpaksaan,
tetapi karena cinta. Cinta yang lahir dari pengalaman akan kasih Allah yang
lebih dahulu mengasihi kita.
Usai tahbisan, wajah-wajah keempat imam baru memancarkan
sukacita yang tulus. Salah satunya, Romo Agustinus Hardono, yang pernah
menjalani masa diakonat di Paroki Santo Matheus, Depok II Tengah, tampak tak
kuasa menyembunyikan kebahagiaannya. Ini bukan sekadar kebahagiaan personal,
melainkan sukacita Gereja yang menerima gembala-gembala baru.
Sebagai bagian dari komunitas kerasulan awam, kita memiliki
tanggung jawab untuk mendukung para imam dalam karya pelayanan mereka. Dukungan
ini bukan hanya dalam bentuk doa, tetapi juga melalui kerja nyata di tengah
masyarakat: membela keadilan, memperjuangkan martabat manusia, dan menghadirkan
wajah Allah dalam bidang sosial, ekonomi, hukum, dan kemasyarakatan.
Imam dan awam bukan dua kutub yang terpisah, melainkan dua
tangan yang bekerja bersama dalam tubuh mistik Kristus. Dalam terang Konsili
Vatikan II, kerasulan awam bukanlah pelengkap, tetapi bagian integral dari misi
Gereja.
Peristiwa tahbisan ini adalah momentum reflektif bagi kita
semua. Di tengah dunia yang haus akan makna dan keadilan, Gereja dipanggil
untuk menjadi tanda kasih Allah yang hidup. Para imam adalah gembala, dan kita
para awam adalah domba yang juga diutus untuk menggembalakan sesama.
Mari kita terus mewartakan kasih dan cinta Allah, bukan
hanya di altar, tetapi juga di pasar, pengadilan, sekolah, rumah sakit, dan
jalanan. Karena di sanalah Kristus hadir, menanti untuk dikenali dan dilayani.
Oleh: Darius Leka, S.H., M.H. – Advokat & Aktivis
Kerasulan Awam Katolik
#tahbisanimam #keuskupanbogor
#kerasulanawam #imamatkatolik #gerejahidup #kasihallah #romobaru
#panggilanimamat #katolikaktif #melayanidengansukacita

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin