
Oleh: RP. Tauchen Hotlan Girsang, OFM. – Pastor Paroki Santo Paulus Depok periode 2010-2013
KOTA DEPOK - Selamat Paskah!
Dalam terang kebangkitan Kristus, saya mengajak kita semua—umat Paroki St.
Paulus Depok—untuk kembali ke Galilea. Bukan sekadar tempat geografis, Galilea
adalah simbol panggilan awal, tempat di mana Yesus memanggil para murid untuk
pertama kalinya. Di sanalah mereka mengenal suara-Nya, meninggalkan jala
mereka, dan memulai perjalanan iman yang mengubah dunia.
Kini, di tengah dunia yang berubah cepat, kita pun diajak
untuk kembali ke semangat awal berdirinya paroki kita. Kembali ke motivasi
murni untuk melayani, untuk bersatu, dan untuk menjadi terang di tengah
masyarakat.
Paroki St. Paulus Depok adalah bagian dari 21 paroki di
Keuskupan Bogor, terdiri dari tujuh wilayah dan tujuh belas lingkungan, dengan
lebih dari 3.500 jiwa. Dalam arah dasar Keuskupan Bogor 2010–2012 yang
dicanangkan oleh Mgr. Cosmas Michael Angkur, OFM, kita diajak untuk menaruh
perhatian serius pada keluarga: tahun 2010 untuk pasutri, 2011 untuk kaum muda,
dan 2012 untuk anak-anak.
Tahun ini, tema Aksi Puasa Pembangunan (APP) mengangkat isu
yang sangat relevan: “Kaum Muda Membangun Diri di Era Globalisasi.” Sebuah
refleksi yang menggugah, karena kita hidup di tengah dunia yang serba cepat,
serba digital, dan serba berubah. Dunia telah menjadi kampung global, di mana
informasi menyebar dalam hitungan detik, dan nilai-nilai pun ikut
terombang-ambing.
Dalam situasi ini, keluarga sebagai Gereja mini menjadi
garda terdepan. Keluarga yang rapuh akan mudah terinfeksi oleh nilai-nilai
negatif zaman. Sebaliknya, keluarga yang kuat dalam iman dan moral akan menjadi
agen transformasi yang menyuntikkan harapan dan kasih ke dalam dunia.
Kebangkitan Yesus adalah jawaban atas segala ketakutan dan
ketidakpastian. Ketika para murid tercerai-berai, kehilangan arah, dan diliputi
rasa takut, berita kebangkitan membangkitkan kembali iman mereka. Dari diam
menjadi bersaksi. Dari takut menjadi berani. Dari terpencar menjadi bersatu.
Yesus memanggil mereka kembali ke Galilea—tempat awal
panggilan mereka. Sebab di sanalah mereka akan melihat Dia. Maka, Paskah bukan
hanya perayaan liturgis, tetapi ajakan untuk melakukan kilas balik kehidupan.
Untuk mengingat janji baptis kita. Untuk memperbaharui janji perkawinan kita.
Untuk meneguhkan kembali komitmen pelayanan kita.
Dalam semangat Paskah dan arah dasar keuskupan, Paroki St.
Paulus telah memulai langkah-langkah pembaruan. Dua agenda utama sedang
dijalankan:
- Reformasi
Keuangan: Melalui Dewan Keuangan,
pos-pos anggaran dirampingkan dan sistem pengelolaan diperketat agar dana
umat digunakan secara tepat, transparan, dan akuntabel.
- Pengarsipan
Pastoral: Melalui Dewan Pastoral Paroki,
setiap kegiatan dicatat, dievaluasi, dan didokumentasikan. Sebab pastoral
yang tidak direfleksikan adalah pastoral yang stagnan.
Sebagai advokat dan aktivis kerasulan awam, saya percaya
bahwa Gereja yang hidup adalah Gereja yang terus bertanya: “Tuhan, apa yang
Engkau kehendaki kami perbuat?” Pertanyaan ini menjadi tema pembekalan DPP-DKP
2011–2013, dan menjadi kompas dalam setiap langkah pelayanan kita.
Paskah adalah momentum untuk kembali ke semangat awal. Bukan
nostalgia, tetapi pembaruan. Bukan sekadar mengenang, tetapi melangkah maju
dengan motivasi yang diperbaharui. Kita diajak untuk kembali ke Galilea—ke
tempat di mana kita pertama kali jatuh cinta pada Tuhan, pada Gereja, dan pada
pelayanan.
Mari kita bangkit bersama Kristus. Mari kita bangun kembali
spirit of togetherness. Mari kita jadikan paroki ini bukan hanya tempat ibadah,
tetapi komunitas yang hidup, yang saling menopang, dan yang mewartakan kasih
Allah kepada dunia.
Selamat Paskah! Kristus telah bangkit. Ia hidup di antara
kita. Dan Ia memanggil kita kembali—ke Galilea, ke panggilan awal, ke semangat
yang murni.
#paskah2025 #kembalikegalilea
#kebangkitankristus #kerasulanawam #parokistpaulusdepok #tahunkeluarga
#kaummudakatolik #gerejayanghidup #mewartakankasihallah #katolikaktif
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin