
Oleh: Darius Leka, S.H., M.H. – Advokat, Aktivis Rasul Awam Gereja Katolik sekaligus Koordinator KOMSOS Paroki Santo Paulus Depok periode 2010-2013
KOTA DEPOK - Perayaan Natal dan Tahun Baru adalah momen puncak dalam
kehidupan umat Kristiani. Di Paroki St. Paulus Depok, perayaan Natal 2011 dan
Tahun Baru 2012 berlangsung dengan penuh sukacita dan berjalan relatif lancar.
Namun, di balik kemeriahan liturgi dan semangat iman, tersimpan dinamika
pelayanan yang menuntut refleksi dan evaluasi mendalam.
Pada Minggu, 8 Januari 2012, sekitar 25 pengurus dan panitia
berkumpul di ruang gereja lama untuk melakukan evaluasi menyeluruh. Tujuannya
jelas: menelaah pelaksanaan kegiatan dan penggunaan dana, serta menyusun
catatan perbaikan untuk masa depan.
Salah satu catatan menarik datang dari Ambros S. Mally,
anggota panitia, yang menggambarkan suasana misa malam Natal pukul 17.30
sebagai “seperti arisan.” Umat yang membludak terpaksa duduk di tikar hingga
memenuhi lorong dan taman gereja. Kekhusyukan misa pun sedikit terganggu karena
ketertiban sulit dikendalikan.
Fenomena ini mencerminkan dua sisi: antusiasme umat yang
tinggi, namun belum diimbangi dengan kesiapan sarana dan prasarana. Ini menjadi
tantangan nyata bagi kerasulan awam dalam mengelola dinamika komunitas iman
yang terus bertumbuh.
Ketua Panitia, Andreas Sugeng Mulyono, menyampaikan bahwa
evaluasi ini mencakup semua aspek: liturgi, keamanan, logistik, hingga
komunikasi antar seksi. “Apakah masukan ini akan dilaksanakan atau tidak, kita
serahkan kepada panitia berikutnya. Yang penting, kita belajar dari
pengalaman,” ujarnya.
Evaluasi ini bukan sekadar kritik, tetapi bentuk tanggung
jawab kerasulan awam dalam memastikan bahwa setiap perayaan iman menjadi ruang
yang nyaman, tertib, dan bermakna bagi seluruh umat.
Keterlibatan umat dalam kepanitiaan adalah wujud nyata
kerasulan awam. Mereka bukan hanya pelaksana teknis, tetapi juga pewarta kasih
Allah melalui pelayanan. Evaluasi ini menjadi bagian dari proses pembelajaran
kolektif, agar pelayanan semakin profesional, inklusif, dan berorientasi pada
kebutuhan umat.
Gereja yang hidup adalah gereja yang mau mendengar, belajar,
dan berubah. Evaluasi Natal dan Tahun Baru ini menjadi contoh bagaimana
komunitas iman tidak berhenti pada selebrasi, tetapi terus bergerak menuju
pelayanan yang lebih baik. Dalam semangat sinodalitas, setiap suara didengar,
setiap pengalaman dihargai, dan setiap tantangan dijadikan peluang untuk
bertumbuh.
#kerasulanawam #evaluasinatal
#gerejahidup #pelayananumat #stpaulusdepok #imandalamaksi #natalbersama
#sinodalitas #kasihuntuksesama #katolikaktif
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin