Senin, 16 Januari 2012

Evaluasi Natal; Cermin Kerasulan Awam dalam Pelayanan Gereja

Oleh: Darius Leka, S.H., M.H. – Advokat, Aktivis Rasul Awam Gereja Katolik sekaligus Koordinator KOMSOS Paroki Santo Paulus Depok periode 2010-2013

KOTA DEPOK
- Perayaan Natal dan Tahun Baru adalah momen puncak dalam kehidupan umat Kristiani. Di Paroki St. Paulus Depok, perayaan Natal 2011 dan Tahun Baru 2012 berlangsung dengan penuh sukacita dan berjalan relatif lancar. Namun, di balik kemeriahan liturgi dan semangat iman, tersimpan dinamika pelayanan yang menuntut refleksi dan evaluasi mendalam.

Pada Minggu, 8 Januari 2012, sekitar 25 pengurus dan panitia berkumpul di ruang gereja lama untuk melakukan evaluasi menyeluruh. Tujuannya jelas: menelaah pelaksanaan kegiatan dan penggunaan dana, serta menyusun catatan perbaikan untuk masa depan.

Salah satu catatan menarik datang dari Ambros S. Mally, anggota panitia, yang menggambarkan suasana misa malam Natal pukul 17.30 sebagai “seperti arisan.” Umat yang membludak terpaksa duduk di tikar hingga memenuhi lorong dan taman gereja. Kekhusyukan misa pun sedikit terganggu karena ketertiban sulit dikendalikan.

Fenomena ini mencerminkan dua sisi: antusiasme umat yang tinggi, namun belum diimbangi dengan kesiapan sarana dan prasarana. Ini menjadi tantangan nyata bagi kerasulan awam dalam mengelola dinamika komunitas iman yang terus bertumbuh.

Ketua Panitia, Andreas Sugeng Mulyono, menyampaikan bahwa evaluasi ini mencakup semua aspek: liturgi, keamanan, logistik, hingga komunikasi antar seksi. “Apakah masukan ini akan dilaksanakan atau tidak, kita serahkan kepada panitia berikutnya. Yang penting, kita belajar dari pengalaman,” ujarnya.

Evaluasi ini bukan sekadar kritik, tetapi bentuk tanggung jawab kerasulan awam dalam memastikan bahwa setiap perayaan iman menjadi ruang yang nyaman, tertib, dan bermakna bagi seluruh umat.

Keterlibatan umat dalam kepanitiaan adalah wujud nyata kerasulan awam. Mereka bukan hanya pelaksana teknis, tetapi juga pewarta kasih Allah melalui pelayanan. Evaluasi ini menjadi bagian dari proses pembelajaran kolektif, agar pelayanan semakin profesional, inklusif, dan berorientasi pada kebutuhan umat.

Gereja yang hidup adalah gereja yang mau mendengar, belajar, dan berubah. Evaluasi Natal dan Tahun Baru ini menjadi contoh bagaimana komunitas iman tidak berhenti pada selebrasi, tetapi terus bergerak menuju pelayanan yang lebih baik. Dalam semangat sinodalitas, setiap suara didengar, setiap pengalaman dihargai, dan setiap tantangan dijadikan peluang untuk bertumbuh.

 

#kerasulanawam #evaluasinatal #gerejahidup #pelayananumat #stpaulusdepok #imandalamaksi #natalbersama #sinodalitas #kasihuntuksesama #katolikaktif

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin