KOTA DEPOK - Di sebuah sudut kota, saya bertemu seorang bapak tua penjual koran. Bajunya lusuh, tangannya kasar, namun wajahnya bersinar. Ia menyapa saya dengan senyum tulus, “Shalom, Pak Darius.” Dalam sekejap, saya merasa ditegur oleh Roh Kudus. Di mata manusia, ia tampak miskin. Tapi di mata Tuhan, ia kaya—kaya akan iman, harapan, dan kasih.
Yesus Kristus, dalam Sabda Bahagia, berkata: “Berbahagialah orang yang
miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga”
(Mat 5:3). Kemiskinan yang dimaksud bukan sekadar ketiadaan materi, melainkan
sikap batin yang rendah hati, terbuka, dan bersandar sepenuhnya pada Allah.
Gereja Katolik tidak pernah memuliakan kemiskinan sebagai penderitaan,
tetapi mengangkatnya sebagai jalan solidaritas dan pembebasan. Santo Fransiskus
dari Assisi adalah teladan nyata: ia meninggalkan kekayaan duniawi demi menjadi
miskin bersama Kristus, dan justru menjadi kaya dalam kasih dan pelayanan.
Namun, realitas di lapangan berkata lain. Di tengah pertumbuhan ekonomi,
jurang antara si kaya dan si miskin kian menganga. Data BPS 2025 menunjukkan
bahwa 9,3% penduduk Indonesia masih hidup di bawah garis kemiskinan. Ironisnya,
banyak dari mereka adalah umat beriman yang setia, namun terpinggirkan secara sistemik.
Sebagai advokat dan aktivis kerasulan awam, saya melihat langsung bagaimana
ketidakadilan struktural—dari akses pendidikan, layanan kesehatan, hingga
hukum—membelenggu mereka yang lemah. Maka, kerasulan awam bukan hanya soal doa
dan liturgi, tetapi juga perjuangan konkret membela martabat manusia.
Di berbagai komunitas Katolik, saya menyaksikan gerakan-gerakan kecil yang
berdampak besar: koperasi umat yang memberdayakan petani, klinik gratis di paroki
terpencil, hingga bantuan hukum bagi buruh migran. Inilah wajah Gereja yang
hidup—yang tidak hanya berkotbah, tetapi hadir dan menyentuh luka dunia.
Kita dipanggil untuk menjadi “garam dan terang” (Mat 5:13-14), bukan dengan
kekuasaan, tetapi dengan pelayanan. Dalam kemiskinan, kita menemukan kekayaan
sejati: solidaritas, pengharapan, dan cinta yang tak bersyarat.
Tuhan tidak menilai dari saldo rekening atau status sosial. Ia melihat hati.
Seorang janda miskin yang memberi dua peser (Mrk 12:41-44) dipuji lebih dari
para dermawan kaya, karena ia memberi dari kekurangannya. Maka, jangan pernah
merasa kecil karena dunia tidak melihatmu. Di mata Kristus, engkau berharga dan
mulia.
Ketika seseorang menyapa “Shalom”, itu bukan basa-basi. Itu adalah
pernyataan iman: bahwa damai Kristus hadir, bahkan di tengah kemiskinan,
penderitaan, dan ketidakpastian. Maka, bagi kita yang Kristiani, mari kita
jawab dengan hidup yang penuh kasih, adil, dan solider.
Oleh: Darius
Leka, S.H., M.H. – Advokat dan Aktivis Kerasulan Awam Gereja Katolik
#shdariusleka
#reels #foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang #kerasulanawam
#kemiskinankristiani #katolikuntukkeadilan #shalomadalahpanggilan
#kayadimatatuhan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin