Jumat, 02 Januari 2026

Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah; Pilar Iman, Inspirasi Kerasulan Awam

KOTA DEPOK — Setiap tanggal 1 Januari, dunia larut dalam gegap gempita pergantian tahun. Namun bagi umat Katolik, hari ini menyimpan makna yang jauh lebih dalam: Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah. Sebuah perayaan iman yang bukan sekadar liturgi, melainkan deklarasi teologis yang mengakar pada sejarah keselamatan dan menjadi inspirasi kerasulan awam di tengah dunia yang haus akan kasih dan keadilan.

Dalam homili Misa Kudus 1 Januari 2026 di Gereja Katolik Santo Paulus Depok, RP. Yustinus Agung Setiadi, OFM menegaskan bahwa gelar “Bunda Allah” bukanlah sekadar gelar devosional, melainkan dogma yang ditegaskan oleh Konsili Efesus pada tahun 431 M. Konsili ini menanggapi ajaran Nestorius yang memisahkan kodrat ilahi dan manusia dalam diri Yesus. Gereja menegaskan bahwa Maria adalah Theotokos—Bunda Allah—karena ia melahirkan Yesus Kristus, Allah yang menjadi manusia.

Penetapan 1 Januari sebagai Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah menurut Pater Agung panggilan akrab umat setempat menjelaskan baru dilakukan oleh Paus Paulus VI pada tahun 1970, dalam reformasi liturgi pasca Konsili Vatikan II. Sebelumnya, hari ini dirayakan sebagai Hari Raya Sunat Tuhan. Perubahan ini bukan sekadar administratif, melainkan penegasan spiritual bahwa Maria adalah awal dari karya keselamatan Allah di dunia.

Maria bukan hanya simbol kesucian, tetapi juga keberanian iman. Ia menerima panggilan Allah dengan penuh kerendahan hati dan ketaatan. Dalam konteks kerasulan awam, Maria menjadi teladan utama: seorang perempuan biasa yang menjalankan misi luar biasa. Ia hadir dalam kehidupan nyata, dalam keluarga, dalam masyarakat, dalam penderitaan dan pengharapan.

Sebagai rasul awam, kita dipanggil untuk meneladani Maria dalam:

  • Membela keadilan sosial melalui advokasi hukum dan perlindungan kaum tertindas.
  • Mengembangkan ekonomi berbasis solidaritas, bukan sekadar keuntungan.
  • Melayani masyarakat marginal, sebagai bentuk nyata cinta kasih Allah.
  • Menjadi suara kenabian, menghadirkan nilai-nilai Injil dalam dunia yang sering kali abai terhadap martabat manusia.

Perayaan 1 Januari bukanlah pesta duniawi, melainkan perayaan iman. Misa Kudus menjadi awal tahun yang penuh makna, tempat kita mempersembahkan tahun yang baru kepada Allah melalui perantaraan Maria. Di tengah hiruk-pikuk dunia, Gereja mengajak kita untuk memulai tahun dengan doa, refleksi, dan komitmen baru dalam kerasulan.

Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah adalah panggilan bagi kita semua—terutama umat awam—untuk menjadi saksi kasih Allah di tengah dunia. Dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan sosial, dan advokasi hukum, kita diundang untuk menghadirkan wajah Kristus yang penuh belas kasih.

Mari kita rayakan 1 Januari bukan sebagai pesta duniawi, tetapi sebagai momentum rohani untuk memperbaharui panggilan kita sebagai rasul awam.

 

Oleh: Darius Leka, S.H., M.H.Advokat dan Aktivis Rasul Awam Gereja Katolik

#harirayamariabundaallah #kerasulanawam #gerejakatolikindonesia #mariateladaniman #theotokos #cintakasihallah #gerejayanghidup #rasulawambergerak #shdariusleka #parokisantopaulusdepok #reels #foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin