KOTA DEPOK — Setiap tanggal 1 Januari, dunia larut dalam gegap gempita pergantian tahun. Namun bagi umat Katolik, hari ini menyimpan makna yang jauh lebih dalam: Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah. Sebuah perayaan iman yang bukan sekadar liturgi, melainkan deklarasi teologis yang mengakar pada sejarah keselamatan dan menjadi inspirasi kerasulan awam di tengah dunia yang haus akan kasih dan keadilan.
Dalam homili Misa Kudus 1 Januari
2026 di Gereja Katolik Santo Paulus Depok, RP. Yustinus Agung Setiadi, OFM
menegaskan bahwa gelar “Bunda Allah” bukanlah sekadar gelar devosional,
melainkan dogma yang ditegaskan oleh Konsili Efesus pada tahun 431 M. Konsili
ini menanggapi ajaran Nestorius yang memisahkan kodrat ilahi dan manusia dalam
diri Yesus. Gereja menegaskan bahwa Maria adalah Theotokos—Bunda Allah—karena
ia melahirkan Yesus Kristus, Allah yang menjadi manusia.
Penetapan 1 Januari sebagai Hari Raya
Santa Perawan Maria Bunda Allah menurut Pater Agung panggilan akrab umat
setempat menjelaskan baru dilakukan oleh Paus Paulus VI pada tahun 1970, dalam
reformasi liturgi pasca Konsili Vatikan II. Sebelumnya, hari ini dirayakan
sebagai Hari Raya Sunat Tuhan. Perubahan ini bukan sekadar administratif,
melainkan penegasan spiritual bahwa Maria adalah awal dari karya keselamatan
Allah di dunia.
Maria bukan hanya simbol kesucian,
tetapi juga keberanian iman. Ia menerima panggilan Allah dengan penuh
kerendahan hati dan ketaatan. Dalam konteks kerasulan awam, Maria menjadi
teladan utama: seorang perempuan biasa yang menjalankan misi luar biasa. Ia
hadir dalam kehidupan nyata, dalam keluarga, dalam masyarakat, dalam
penderitaan dan pengharapan.
Sebagai rasul awam, kita dipanggil
untuk meneladani Maria dalam:
- Membela keadilan sosial melalui advokasi hukum dan
perlindungan kaum tertindas.
- Mengembangkan ekonomi berbasis
solidaritas, bukan
sekadar keuntungan.
- Melayani masyarakat marginal, sebagai bentuk nyata cinta
kasih Allah.
- Menjadi suara kenabian, menghadirkan nilai-nilai Injil
dalam dunia yang sering kali abai terhadap martabat manusia.
Perayaan 1 Januari bukanlah pesta
duniawi, melainkan perayaan iman. Misa Kudus menjadi awal tahun yang penuh
makna, tempat kita mempersembahkan tahun yang baru kepada Allah melalui
perantaraan Maria. Di tengah hiruk-pikuk dunia, Gereja mengajak kita untuk memulai
tahun dengan doa, refleksi, dan komitmen baru dalam kerasulan.
Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda
Allah adalah panggilan bagi kita semua—terutama umat awam—untuk menjadi saksi
kasih Allah di tengah dunia. Dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan sosial, dan
advokasi hukum, kita diundang untuk menghadirkan wajah Kristus yang penuh belas
kasih.
Mari kita rayakan 1 Januari bukan
sebagai pesta duniawi, tetapi sebagai momentum rohani untuk memperbaharui
panggilan kita sebagai rasul awam.
Oleh: Darius Leka, S.H., M.H. — Advokat dan Aktivis Rasul Awam Gereja Katolik
#harirayamariabundaallah #kerasulanawam #gerejakatolikindonesia
#mariateladaniman #theotokos #cintakasihallah #gerejayanghidup #rasulawambergerak
#shdariusleka #parokisantopaulusdepok #reels #foryou #fyp
#jangkauanluas @semuaorang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin