
Oleh: Fr. Leonardus Hambur, OFM, yang kini sedang menjalan Tahun Orientasi Pastoral di Paroki Santo Paulus Depok
KOTA DEPOK - Dalam sejarah keselamatan, nama Yohanes
Pembaptis tidak pernah tenggelam. Ia bukan hanya tokoh transisi antara Perjanjian
Lama dan Baru, tetapi juga menjadi figur profetik yang menggetarkan hati dan
menggugah kesadaran. Ia bukan nabi biasa. Ia adalah suara yang berseru-seru di
padang gurun, mempersiapkan jalan bagi Tuhan. Dan lebih dari itu, ia adalah
teladan kerendahan hati yang radikal.
Yesus sendiri memberikan kesaksian yang luar biasa tentang
Yohanes. “Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak
pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis” (Mat
11:11). Namun, Yohanes tidak pernah menepuk dada. Ia tidak membangun panggung
untuk dirinya. Ia justru berkata, “Ia (Yesus) harus makin besar, tetapi aku
harus makin kecil” (Yoh 3:30).
Dalam dunia yang haus akan pengakuan dan sorotan, Yohanes
tampil sebagai anomali. Ia hidup di padang gurun, mengenakan pakaian dari bulu
unta, dan makan belalang serta madu hutan. Ia tidak mencari kenyamanan, apalagi
popularitas. Ia tidak tertarik menjadi pusat perhatian. Ia tahu siapa dirinya:
bukan Mesias, bukan Elia, bukan nabi besar yang ditunggu-tunggu. Ia hanyalah
suara. Suara yang memanggil pertobatan. Suara yang menunjuk kepada Sang Terang.
Yesus mengajukan pertanyaan retoris kepada orang banyak:
“Untuk apakah kamu pergi ke padang gurun? Melihat buluh yang digoyangkan angin?
Melihat orang berpakaian halus?” Tidak. Mereka pergi untuk melihat nabi. Dan
bukan sembarang nabi, melainkan utusan yang mempersiapkan jalan bagi Tuhan.
Yohanes adalah pribadi yang tahu tempatnya. Ia tidak
mengambil kemuliaan yang bukan miliknya. Ia tidak membiarkan orang-orang
mengkultuskannya. Ia menolak semua klaim kebesaran. Ia tahu bahwa tugasnya
adalah membuka jalan, bukan menjadi tujuan. Ia tahu bahwa dirinya hanyalah
lentera, bukan cahaya itu sendiri.
Namun, kerendahan hatinya tidak membuatnya lemah. Ia adalah
nabi yang berani. Ia mengkritik ketidakadilan, bahkan kepada penguasa. Ia
menegur Herodes karena mengambil istri saudaranya, dan karena itu ia dipenjara
dan akhirnya dipenggal. Tapi Yohanes tidak pernah mundur. Ia tetap setia pada
kebenaran, meski harus membayar dengan nyawa.
Dalam masa Advent ini, Yohanes mengajak kita untuk
menyiapkan jalan bagi Tuhan—bukan di padang gurun, tetapi di hati kita. Ia
mengajak kita untuk merendahkan diri, membersihkan hati dari kesombongan, dan
membuka ruang bagi Kristus untuk lahir. Sebab Yesus tidak lahir di istana,
tetapi di kandang yang sederhana. Maka, hanya hati yang sederhana yang mampu
menyambut-Nya.
Sebagai umat Katolik, kita dipanggil untuk menjadi seperti
Yohanes: menjadi suara yang menghadirkan terang Kristus bagi mereka yang
menderita, tersingkir, tertawan, dan miskin. Kita dipanggil untuk berkarya
bukan demi kemuliaan pribadi, tetapi demi kemuliaan Allah. Kita dipanggil untuk
menjadi besar dalam kerendahan hati, bukan dalam kesombongan.
Pertanyaan reflektif untuk kita semua: Apakah kita siap
menjadi kecil agar Kristus semakin besar? Apakah kita bersedia menjadi suara
yang memudar agar terang Kristus bersinar? Apakah kita cukup rendah hati untuk
mengakui bahwa kita hanyalah utusan, bukan tujuan?
Yohanes Pembaptis telah menunjukkan jalannya. Kini giliran
kita untuk melanjutkan jejaknya.
#yohanespembaptis #advent #kerasulanawam #gerejahadiruntukdunia #rasulawamberkarya #imanyanghidup #kerendahanhati #yesussemakinbesar #suaradipadanggurun #pewartakebenaran
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin