Namun di balik keunikan itu, saya melihat sesuatu yang lebih dalam: sebuah Gereja yang berjuang untuk tetap hadir di tengah masyarakat yang makin sekuler, makin sibuk, dan makin jauh dari altar.
Fenomena “Ashes to Go” di Amerika bukan sekadar strategi marketing rohani. Ia adalah respons pastoral terhadap realitas zaman. Ketika umat tak lagi datang ke gereja, maka gereja yang datang kepada umat. Ini bukan kompromi iman, melainkan bentuk inkulturasi pastoral yang berani. Namun, apakah pendekatan ini relevan untuk konteks Indonesia?
Saya kira belum. Di negeri ini, semangat beribadah masih membara. Bahkan kadang berlebihan. Di Jawa, misalnya, gereja-gereja baru bermunculan di ruko, garasi, hingga aula hotel—meski gereja lama belum tentu penuh. Sebuah paradoks antara semangat dan substansi.
Membaca berita itu, ingatan saya melayang ke kampung halaman di Lembata, Flores Timur. Tahun 1980-an, pastor adalah sosok langka. Mereka datang dari Belanda, dari kongregasi SVD, menunggang kuda putih, membawa misa dan sakramen ke desa-desa terpencil. Pater Geurtz dan Pater Van de Leur adalah dua nama yang tak pernah saya lupakan.
Karena misa hanya sebulan sekali, umat biasa mencegat pastor di jalan. Mereka mengaku dosa di pinggir jalan, meminta berkat untuk rosario, bahkan untuk kalung atau alat kerja. Sakramen menjadi perjumpaan yang spontan, penuh kerinduan, dan sangat manusiawi.
Kini, situasinya terbalik. Di kota-kota besar seperti Surabaya atau Sidoarjo, satu gereja dilayani tiga hingga empat pastor. Namun kamar pengakuan sepi. “Malu, nggak enak,” begitu alasan yang sering saya dengar. Sakramen tobat menjadi ritual yang asing, bahkan menakutkan. Padahal, di masa lalu, umat berebut untuk mengaku dosa, bahkan tanpa ruang khusus.
Sebagai aktivis kerasulan awam, saya percaya bahwa tugas kita bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi menjembatani iman dengan realitas hari ini. Kita harus kreatif seperti pastor di New Orleans, namun tetap setia seperti Pater Geurtz di Flores. Kita harus hadir di jalanan modern—entah itu mal, media sosial, atau ruang kerja—tanpa kehilangan kedalaman spiritualitas kita.
Kita harus menjadi jembatan antara altar dan aspal, antara sakristi dan pasar, antara liturgi dan kehidupan.
Abu di dahi bukan sekadar simbol. Ia adalah pengingat bahwa kita rapuh, namun dicintai. Bahwa kita berdosa, namun diundang untuk bertobat. Bahwa Gereja bukan museum orang suci, tetapi rumah bagi para pendosa yang ingin pulang.
Mari kita pulihkan semangat sakramen tobat. Mari kita
hidupkan kembali iman yang mencegat pastor di jalan. Mari kita bawa Gereja ke
dunia, bukan dengan kopi gratis, tetapi dengan kasih yang nyata.
#kerasulanawam #gerejakatolik #rabuabu #ashestogo
#imandijalanan #sakramentobat #liturgidankehidupan #pastordipedalaman
#kudaputihflores #cintaallahuntukdunia #shdariusleka #reels #foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin