Namun, di balik liturgi yang agung dan simbol-simbol yang
kaya makna, tersimpan sebuah panggilan yang lebih luas: keterlibatan umat awam
dalam mewartakan kasih dan cinta Allah kepada dunia yang terluka.
Pekan Suci dibuka dengan Minggu Palma. Umat membawa daun
palma, mengenang Yesus yang dielu-elukan saat memasuki Yerusalem. Namun, hanya
dalam hitungan hari, sorak-sorai berubah menjadi teriakan “Salibkan Dia!”
Kontras ini adalah cermin kehidupan kita. Kita sering memuji
Tuhan saat segalanya baik, namun mudah berpaling saat salib datang. Dalam
kerasulan awam, kita dipanggil untuk tetap setia, bahkan ketika suara mayoritas
menolak kebenaran.
Kamis Putih memperingati Perjamuan Terakhir. Di sinilah
Yesus menetapkan Ekaristi dan membasuh kaki para murid—tindakan radikal yang
membalikkan logika kekuasaan dunia. Ia menjadi pelayan, bukan penguasa.
Sebagai umat awam, kita diundang untuk meneladani semangat
ini: melayani, bukan dilayani. Dalam bidang hukum, ekonomi, sosial, dan
kemasyarakatan, kita harus menjadi saksi kasih yang konkret—membela yang lemah,
memperjuangkan keadilan, dan merawat martabat manusia.
Jumat Agung adalah hari paling sunyi dalam kalender liturgi.
Tidak ada misa, hanya adorasi salib. Kita mengenang penderitaan dan wafat
Kristus—pengorbanan tertinggi demi keselamatan umat manusia.
Di tengah dunia yang memuliakan kenyamanan dan menghindari
penderitaan, salib menjadi tanda kontradiktif. Namun justru di sanalah letak
kekuatan kita. Dalam kerasulan awam, salib bukan beban, melainkan jalan. Jalan
untuk menyatu dengan penderitaan sesama, dan menjadi alat keselamatan bagi
dunia.
Tablo atau drama Jalan Salib bukan sekadar pertunjukan. Ia
adalah pewartaan visual yang menyentuh hati. Ketika umat—anak-anak, remaja,
orang dewasa—memerankan kisah sengsara Kristus, mereka tidak hanya bermain
peran, tetapi menjadi bagian dari kisah keselamatan.
Inilah bentuk kerasulan awam yang hidup: menggunakan talenta
untuk mewartakan Injil. Di sekolah, kantor, komunitas, kita bisa menjadi “tablo
hidup” yang menampilkan kasih Kristus dalam tindakan nyata.
Triduum Suci—Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu
Vigili—adalah satu kesatuan liturgi yang tak terpisahkan. Ini bukan sekadar
ritual, tetapi perjalanan rohani yang mengubah cara kita melihat hidup,
penderitaan, dan harapan.
Dalam Triduum, kita belajar bahwa kematian bukan akhir.
Bahwa dalam kegelapan, ada cahaya. Bahwa dalam keheningan Sabtu Suci, Allah
sedang bekerja diam-diam untuk membangkitkan kehidupan baru.
Paskah adalah puncak segalanya. Kristus bangkit! Ini bukan
sekadar peristiwa sejarah, tetapi realitas iman yang terus hidup.
Kebangkitan-Nya adalah jaminan bahwa kasih lebih kuat dari kebencian,
pengampunan lebih kuat dari dendam, dan kehidupan lebih kuat dari kematian.
Sebagai umat awam, kita dipanggil untuk menjadi saksi
kebangkitan ini. Bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan hidup yang
diperbarui. Dengan menjadi terang di tempat kerja, garam di tengah masyarakat,
dan ragi di tengah dunia yang kehilangan arah.
Tri Hari Suci bukan hanya milik altar. Ia adalah panggilan
bagi seluruh umat—imam, biarawan, dan awam—untuk menghidupi iman secara utuh.
Dalam kerasulan awam, kita tidak hanya mengenang sengsara Kristus, tetapi
meneruskannya dalam pelayanan. Kita tidak hanya merayakan kebangkitan-Nya,
tetapi mewartakannya dalam tindakan.
Mari kita jadikan Pekan Suci sebagai momentum pertobatan,
pembaruan, dan pengutusan. Karena dunia membutuhkan lebih dari sekadar
seremoni. Dunia membutuhkan saksi. Dan saksi itu adalah kita.
✍️ Oleh: Darius Leka, S.H., M.H., Advokat & Aktivis
Kerasulan Awam Gereja Katolik
#triharisuci #pekansuci #kamisputih #jumatagung #paskah
#kerasulanawam #gerejakatolik #imanyanghidup #salibdankebangkitan
#tablojalansalib #ekaristidanpelayanan #saksikebangkitan #cintaallahuntukdunia #shdariusleka #reels #foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin