KOTA DEPOK - Pada 26 April 2015, aula Paroki Santo Paulus Depok
dipenuhi semangat perempuan Katolik yang bersatu dalam perayaan Hari Kartini.
Bukan sekadar seremoni tahunan, perayaan ini menjadi ruang refleksi mendalam
bagi Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Cabang St. Paulus Depok untuk
menegaskan kembali panggilan kerasulan awam mereka di tengah masyarakat.
WKRI, yang lahir dari semangat emansipasi dan pelayanan,
memiliki akar sejarah yang selaras dengan cita-cita luhur R.A. Kartini:
pendidikan, pemberdayaan, dan keadilan sosial bagi perempuan. Dalam konteks
Katolik, semangat ini diterjemahkan ke dalam aksi nyata: mewarta kasih Allah
melalui pelayanan sosial, ekonomi, hukum, dan kemasyarakatan.
Perayaan tahun itu tidak bisa dilepaskan dari konteks
nasional yang sedang bergelora: kampanye calon Presiden Joko Widodo yang
mengusung gagasan “Revolusi Mental.” Dalam artikelnya di harian Kompas
edisi 14 Mei 2014, Yudi Latif menulis bahwa revolusi mental adalah upaya
membangun kembali karakter bangsa melalui nilai-nilai integritas, etos kerja,
dan gotong royong.
Bagi WKRI, semangat ini bukan hal baru. Sejak awal
berdirinya, WKRI telah menjadi pelopor revolusi mental dalam skala komunitas.
Mereka hadir di tengah masyarakat, mendampingi kaum marjinal, menyuarakan
keadilan, dan membangun solidaritas lintas batas. Dalam terang iman Katolik,
revolusi mental bukan sekadar slogan politik, melainkan panggilan spiritual
untuk bertobat dan memperbarui cara hidup.
Perayaan Hari Kartini di Paroki Santo Paulus Depok bukan hanya
mengenang masa lalu, tetapi juga menegaskan arah masa depan. Dalam sesi
refleksi, para anggota WKRI membahas bagaimana mereka dapat lebih aktif dalam
bidang hukum, ekonomi, dan sosial. Beberapa program yang digagas antara lain:
- Pendidikan
hukum dasar bagi ibu rumah tangga,
agar lebih sadar hak dan kewajiban.
- Pelatihan
kewirausahaan berbasis komunitas,
untuk meningkatkan kemandirian ekonomi keluarga.
- Kunjungan
kasih ke panti jompo dan rumah singgah,
sebagai bentuk nyata cinta kasih Kristiani.
Semua ini menjadi bagian dari kerasulan awam yang
diamanatkan oleh Konsili Vatikan II: bahwa umat awam dipanggil untuk menjadi
garam dan terang dunia, bukan hanya di dalam gereja, tetapi juga di tengah
masyarakat.
Perayaan ini menjadi bukti bahwa semangat Kartini masih
hidup, tidak hanya dalam puisi atau pidato, tetapi dalam tindakan nyata. WKRI
Cabang St. Paulus Depok telah menunjukkan bahwa perempuan Katolik mampu menjadi
agen perubahan sosial, dengan dasar iman yang kokoh dan semangat pelayanan yang
tulus.
Sebagaimana Kartini menulis, “Habis gelap terbitlah terang,”
demikian pula WKRI terus menyalakan terang kasih Allah di tengah dunia yang
sering kali gelap oleh ketidakadilan dan ketimpangan.
Cita-cita Kartini yang tertuang dalam buku Door Duistermis Tox Licht yang kemudian diterjemahkan oleh Armin Pane pada tahun 1933 menjadi 'Habis Gelap Terbitlah Terang' memang belum dirasakan sampai pada beberapa puluh tahun kemudian dikarenakan sikap feodalisme yang masih kuat pada saat itu. Bahkan sampai saat ini masih ada paham-paham konservatif yang menempatkan wanita sebagai subjek eksploitasi dan diskriminasi.
Kita patut bersyukur karena di dalam internal gereja Katolik, ajaran gereja memberikan kesempatan dan kebebasan kepada wanita yang seluas-luasnya. Namun kedaulatan dan kebebasan wanita tersebut harus tetap pada rambu-rambu iman Katolik, kebebasan yang bertanggung jawab, dan tetap pada kodrat seorang wanita. Untuk mengetahui lebih lengkap tentang peranan dan pemberdayaan perempuan Katolik, silakan membaca buku Revolusi Mental dalam Konteks Iman Kristiani menurut Prof. Dr. Paulus Wirutomo, M.Sc.
Sebagai wujud kecintaan akan budaya nasional dan nilai-nilai iman Kristiani yang seratus persen Indonesia dan seratus persen Katolik, WKRI Cabang St. Paulus merasa terpanggil untuk mengajak kaum ibu yang tergabung dalam WKRI untuk mengisi Kartini Day dengan mengembangkan wawasan dan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat.
Perayaan yang dipusatkan di kompleks gereja Katolik St. Paulus Depok Lama pada tanggal 26 April 2015 ini diisi dengan kegiatan seminar ilmiah dan beberapa kegiatan yang mampu menciptakan kreativitas, keterampilan, dan skill. Kegiatan ini dikuti oleh anggota WKRI dari beberapa ranting yang ada di Paroki St. Paulus Depok. Secara umum kegiatan Kartinian ini berlangsung sukses, penuh antusias, dan sangat meriah.
Dalam sambutannya Romo Yosef Tote, OFM menekankan pada hikmah perayaan hari Kartini, menjunjung tinggi sikap sportif dalam perlombaan termasuk di dalamnya menghargai dan mendengar masukan-masukan dari para juri lomba, serta berubahnya pola berpikir perempuan agar lebih maju. Romo Paroki sangat mengharapkan ada implemnetasi dan tindakan nyata di masyarakat setelah kegiatan ini, believe until it happen. Semoga acara ini dapat dijadikan sebagai agenda program untuk tahun-tahun ke depan, banyak anggota WKRI yang ambil bagian, dan banyak orang yang merasakan manfaat dari kegiatan ini.
Berikut ini adalah beberapa kegiatan yang diselenggarakan oleh WKRI Cabang St. Paulus dalam Kartini Day:
- Seminar bertema "Meningkatkan Kemandirian dan Kreativitas Wanita pada Masa Kini" dengan narasumber Ibu Lely Kusumo. Seminar ini dihadiri oleh 110 anggota WKRI Cabang St. Paulus Depok.
- Lomba merangkai buah dan sayuran
- Lomba Busana Nasional Pasutri
- Lomba Nasi Tumpeng
Perlombaan diikuti oleh 10 ranting dan 2 wilayah dengan hasil pemenang sebagai berikut:
1) Lomba Merangkai Buah dan Sayuran:
- Juara I: Ranting 7 (Wilayah St. Ignatius Loyola)
- Juara II: Ranting 2 (Wilayah Thomas Aquinas)
- Juara III: Ranting 10 (Wilayah Sta. Maria Magdalena dan Sta. Theresia)
2) Lomba Busana Nasional Pasutri:
- Juara I: Ranting 7 (Wilayah St. Ignatius Loyola)
- Juara II: Ranting 3 (Wilayah St. Agustinus)
- Juara III: Ranting 11 (Wilayah St. Bonaventura)
3) Lomba Nasi Tumpeng:
- Juara I: Ranting 7 (Wilayah St. Ignatius Loyola)
- Juara II: Ranting 2 (Wilayah St. Thomas Aquinas)
- Juara III: Ranting 9 (Wilayah Sta. Elizabeth)
Setelah kegiatan ini panitia akan segera melakukan evaluasi berkaitan dengan Kartini Day ini dan menyampaikan rekomendasi hal-hal yang baik untuk dilaksanakan pada waktu yang akan datang. Panitia juga meminta masukan, saran, serta kritik yang proporsional agar pelaksanaan Kartinian tahun depan akan lebih baik. Sangat wajar bila pelaksanaan kegiatan Kartinian ini masih banyak kekurangan karena momen ini baru pertama kalinya diadakan di Paroki St. Paulus Depok.
Setali tiga uang, semoga keterampilan dan kreativitas para ibu ini dapat dimanfaatkan untuk kepentingan-kepentingan yang mendukung perayaan liturgi di gereja. Mengutip lagu hasil parodi pelawak Sule, Tak selamanya hias altar itu bunga, sayuran dan buah pun dapat dijadikan sebagai pengganti hiasan untuk altar. Mengapa para wanita ini harus diberdayakan? Karena kalau mereka sendiri dalam kondisi tidak berdaya, bagaimana mereka dapat memberdayakan yang lain. Nemo dat quod non habet. (Sudir M. Editor: Darius AR. Foto: Hito)
#wkri #harikartini2015
#parokistpaulusdepok #kerasulanawam #revolusimental #perempuankatolik
#kasihallahuntukdunia #gerejadanmasyarakat #emansipasidalamiman #shdariusleka #reels #foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin