KH. Zaenal Abidin, Ketua Umum Presidium BASOLIA, dalam
sambutannya mengungkapkan bahwa embrio gerakan ini telah tumbuh sejak awal
2000-an. Kala itu, para tokoh lintas agama rutin berdialog tentang teologi.
Namun, dialog semacam itu, meski harmonis di tingkat elite, ternyata tidak
menyentuh akar rumput. “Dialog teologi sering kali justru mempertegas
perbedaan,” ujarnya. Maka lahirlah gagasan untuk membentuk organisasi yang
tidak berhenti pada wacana, tetapi bergerak dalam tindakan nyata.
BASOLIA hadir sebagai organisasi sosial non-pemerintah dan
non-politik, yang mengedepankan pendekatan persaudaraan tanpa diskriminasi
terhadap suku, agama, ras, atau golongan. Visi besarnya adalah membangun
masyarakat yang berkeadilan sosial melalui kegiatan kemanusiaan seperti
pengobatan massal, penyuluhan hukum, dan pembagian sembako.
Deklarasi BASOLIA bukan sekadar seremoni. Ia adalah perayaan
kebhinekaan yang hidup. Tari Karo dari Pemuda GBKP Depok membuka acara dengan
semangat budaya Nusantara. Disusul paduan suara dari Komisi Perempuan PGI-S,
atraksi Pagar Nusa dari NU, paduan suara Gereja Katolik dan HKBP, marawis dari
pesantren NU, hingga barongsai—semua tampil dalam satu panggung, satu semangat.
Dari pukul 19.30 hingga 22.30 WIB, ratusan umat dari
berbagai latar belakang larut dalam suasana yang merepresentasikan Indonesia
sejati: Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI sebagai fondasi
bersama. Hadir pula tokoh-tokoh penting seperti Ketua DPRD Kota Depok Hendrik
Tangke Allo, Ketua KNPI Dody Riyanto, mantan Wakil Wali Kota Depok Dr. Yuyun
Wirasaputra, serta perwakilan dari Polsek Beji.
Sebagai aktivis kerasulan awam, saya melihat BASOLIA sebagai
bentuk nyata dari panggilan Gereja untuk hadir di tengah dunia. Dalam ajaran sosial
Gereja Katolik, solidaritas dan subsidiaritas adalah prinsip utama. BASOLIA
menjawab keduanya: ia membangun solidaritas lintas iman dan memberi ruang bagi
komunitas untuk bertindak langsung demi kesejahteraan bersama.
Kehadiran Gereja Katolik dalam BASOLIA bukan sekadar
simbolik. Paduan suara umat Katolik yang turut tampil, serta keterlibatan dalam
pembagian sembako, menunjukkan bahwa kerasulan awam tidak hanya hidup di dalam
tembok gereja, tetapi juga di jalan-jalan kota, di tengah masyarakat yang membutuhkan.
Salah satu momen paling menyentuh adalah ketika enam tokoh
agama menandatangani kesepakatan bersama dan secara simbolik membagikan sembako
kepada masyarakat. Sudirman, warga Beji Timur, mengungkapkan rasa syukurnya:
“Saya sangat berterima kasih dengan kegiatan sosial yang memberikan sembako
tanpa membeda-bedakan agama, suku, ras, dan golongan.”
Inilah wajah Indonesia yang kita rindukan: masyarakat yang
saling mengasihi, bukan mencurigai; yang saling menguatkan, bukan memecah
belah. BASOLIA bukan hanya organisasi, tetapi gerakan moral yang mengingatkan
kita bahwa kemanusiaan lebih tinggi dari sekat-sekat identitas.
Menanggapi kekhawatiran akan tumpang tindih dengan Forum
Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Ketua DPRD Hendrik Tangke Allo menegaskan bahwa
keduanya memiliki peran berbeda. FKUB fokus pada fasilitasi rumah ibadah,
sementara BASOLIA bergerak di bidang sosial kemasyarakatan. “Keduanya saling
melengkapi, bukan bersaing,” tegasnya.
Ia juga mendorong agar BASOLIA segera mendaftarkan diri ke
Kesbangpol agar mendapat pembinaan dan dukungan dari pemerintah. Sebab, dalam
negara demokratis yang sehat, inisiatif masyarakat sipil seperti BASOLIA adalah
mitra strategis dalam membangun bangsa.
Gereja Katolik, melalui kerasulan awamnya, dipanggil untuk
menjadi garam dan terang dunia. BASOLIA adalah salah satu medan pewartaan itu.
Di sana, kasih Allah tidak hanya dikhotbahkan, tetapi dihidupi. Di sana, cinta
Kristus menjelma dalam sembako, dalam senyum, dalam pelukan lintas iman.
Mari kita dukung gerakan seperti BASOLIA. Sebab hanya dengan
berdiri bersama, kita bisa membangun Indonesia yang adil, damai, dan sejahtera
bagi semua.
✍️ Oleh: Darius Leka, S.H., M.H., Advokat & Aktivis
Kerasulan Awam Gereja Katolik
#basolia #kerasulanawam #gerejakatolik
#persaudaraanlintasagama #keadilansosial #kasihtanpabatas #nkrihargamati
#bhinekatunggalika #gerejauntukmasyarakat #solidaritaslintasiman #shdariusleka #reels #foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang

terimakash
BalasHapus