Kamis, 07 Mei 2015

BASOLIA; Ketika Persaudaraan Menjadi Pilar Keadilan Sosial

KOTA DEPOK
- Di tengah derasnya arus polarisasi sosial dan identitas yang kerap mengoyak tenun kebangsaan, Kota Depok justru menghadirkan sebuah oase persaudaraan. Pada malam yang bertepatan dengan peringatan Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2015, sebuah gerakan lintas iman dan lintas golongan dideklarasikan: Badan Sosial Lintas Agama (BASOLIA). Dengan tema “Berdiri Di Atas Semua Golongan untuk Mensejahterakan Rakyat”, BASOLIA hadir bukan sebagai jargon, tetapi sebagai jawaban konkret atas kebutuhan akan keadilan sosial yang inklusif.

KH. Zaenal Abidin, Ketua Umum Presidium BASOLIA, dalam sambutannya mengungkapkan bahwa embrio gerakan ini telah tumbuh sejak awal 2000-an. Kala itu, para tokoh lintas agama rutin berdialog tentang teologi. Namun, dialog semacam itu, meski harmonis di tingkat elite, ternyata tidak menyentuh akar rumput. “Dialog teologi sering kali justru mempertegas perbedaan,” ujarnya. Maka lahirlah gagasan untuk membentuk organisasi yang tidak berhenti pada wacana, tetapi bergerak dalam tindakan nyata.

BASOLIA hadir sebagai organisasi sosial non-pemerintah dan non-politik, yang mengedepankan pendekatan persaudaraan tanpa diskriminasi terhadap suku, agama, ras, atau golongan. Visi besarnya adalah membangun masyarakat yang berkeadilan sosial melalui kegiatan kemanusiaan seperti pengobatan massal, penyuluhan hukum, dan pembagian sembako.

Deklarasi BASOLIA bukan sekadar seremoni. Ia adalah perayaan kebhinekaan yang hidup. Tari Karo dari Pemuda GBKP Depok membuka acara dengan semangat budaya Nusantara. Disusul paduan suara dari Komisi Perempuan PGI-S, atraksi Pagar Nusa dari NU, paduan suara Gereja Katolik dan HKBP, marawis dari pesantren NU, hingga barongsai—semua tampil dalam satu panggung, satu semangat.

Dari pukul 19.30 hingga 22.30 WIB, ratusan umat dari berbagai latar belakang larut dalam suasana yang merepresentasikan Indonesia sejati: Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI sebagai fondasi bersama. Hadir pula tokoh-tokoh penting seperti Ketua DPRD Kota Depok Hendrik Tangke Allo, Ketua KNPI Dody Riyanto, mantan Wakil Wali Kota Depok Dr. Yuyun Wirasaputra, serta perwakilan dari Polsek Beji.

Sebagai aktivis kerasulan awam, saya melihat BASOLIA sebagai bentuk nyata dari panggilan Gereja untuk hadir di tengah dunia. Dalam ajaran sosial Gereja Katolik, solidaritas dan subsidiaritas adalah prinsip utama. BASOLIA menjawab keduanya: ia membangun solidaritas lintas iman dan memberi ruang bagi komunitas untuk bertindak langsung demi kesejahteraan bersama.

Kehadiran Gereja Katolik dalam BASOLIA bukan sekadar simbolik. Paduan suara umat Katolik yang turut tampil, serta keterlibatan dalam pembagian sembako, menunjukkan bahwa kerasulan awam tidak hanya hidup di dalam tembok gereja, tetapi juga di jalan-jalan kota, di tengah masyarakat yang membutuhkan.

Salah satu momen paling menyentuh adalah ketika enam tokoh agama menandatangani kesepakatan bersama dan secara simbolik membagikan sembako kepada masyarakat. Sudirman, warga Beji Timur, mengungkapkan rasa syukurnya: “Saya sangat berterima kasih dengan kegiatan sosial yang memberikan sembako tanpa membeda-bedakan agama, suku, ras, dan golongan.”

Inilah wajah Indonesia yang kita rindukan: masyarakat yang saling mengasihi, bukan mencurigai; yang saling menguatkan, bukan memecah belah. BASOLIA bukan hanya organisasi, tetapi gerakan moral yang mengingatkan kita bahwa kemanusiaan lebih tinggi dari sekat-sekat identitas.

Menanggapi kekhawatiran akan tumpang tindih dengan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Ketua DPRD Hendrik Tangke Allo menegaskan bahwa keduanya memiliki peran berbeda. FKUB fokus pada fasilitasi rumah ibadah, sementara BASOLIA bergerak di bidang sosial kemasyarakatan. “Keduanya saling melengkapi, bukan bersaing,” tegasnya.

Ia juga mendorong agar BASOLIA segera mendaftarkan diri ke Kesbangpol agar mendapat pembinaan dan dukungan dari pemerintah. Sebab, dalam negara demokratis yang sehat, inisiatif masyarakat sipil seperti BASOLIA adalah mitra strategis dalam membangun bangsa.

Gereja Katolik, melalui kerasulan awamnya, dipanggil untuk menjadi garam dan terang dunia. BASOLIA adalah salah satu medan pewartaan itu. Di sana, kasih Allah tidak hanya dikhotbahkan, tetapi dihidupi. Di sana, cinta Kristus menjelma dalam sembako, dalam senyum, dalam pelukan lintas iman.

Mari kita dukung gerakan seperti BASOLIA. Sebab hanya dengan berdiri bersama, kita bisa membangun Indonesia yang adil, damai, dan sejahtera bagi semua.

️ Oleh: Darius Leka, S.H., M.H., Advokat & Aktivis Kerasulan Awam Gereja Katolik

 

#basolia #kerasulanawam #gerejakatolik #persaudaraanlintasagama #keadilansosial #kasihtanpabatas #nkrihargamati #bhinekatunggalika #gerejauntukmasyarakat #solidaritaslintasiman #shdariusleka #reels #foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang

1 komentar:

Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin