Senin, 13 Februari 2017

Natal Bersama Umat Kristiani Kota Depok; Merayakan Persatuan dalam Kasih Kristus

KOTA DEPOK -
Sabtu sore menjelang malam, 14 Januari 2017, aula utama GBI Kamboja di Pancoran Mas, Kota Depok, dipenuhi oleh lebih dari seribu umat Kristiani dari berbagai denominasi. Mereka datang bukan sekadar untuk merayakan kelahiran Sang Juru Selamat, tetapi juga untuk merayakan sesuatu yang lebih dalam: persatuan.

Perayaan Natal Bersama Umat Kristiani se-Kota Depok yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Depok bersama Forum Komunikasi dan Kerjasama Umat Kristiani Kota Depok (FKKUKD) menjadi momentum penting dalam membangun jembatan antarumat, antariman, dan antarkepentingan. Di tengah dinamika sosial dan politik yang kerap menguji kebhinekaan, perayaan ini menjadi oase harapan.

Tema yang diangkat, “Yesus Datang Membawa Persatuan” (Yoh 17:20–21), bukan sekadar kutipan Alkitab. Ia adalah doa Yesus sendiri, yang memohon agar semua murid-Nya menjadi satu, seperti Ia dan Bapa adalah satu. Dalam sambutannya, Ketua FKKUKD, Pdt. Martin Luther Batubara, M.Th, menegaskan bahwa tema ini adalah panggilan bagi umat Kristiani untuk menjadi agen persatuan—di keluarga, di gereja, dan di masyarakat.

“Harapan dan doa melalui perayaan Natal malam hari ini semoga kita akan melihat dan mengalami kasih Kristus yang mendorong umat Kristiani yang telah dibenarkan dan diperdamaikan oleh Tuhan Yesus dapat menjadi agen pembawa persatuan,” ujar Pdt. Martin.

Acara ini dihadiri oleh berbagai tokoh penting, termasuk Ketua DPRD Kota Depok Hendrik Tangke Allo, S.Sos, Danramil Pancoran Mas Kapten Arh Sairi, serta anggota DPRD Agustina Simanjuntak dan Marjaya, S.Sos, M.Si. Namun, ketidakhadiran Walikota dan Wakil Walikota Depok menjadi catatan tersendiri.

Marjaya, mewakili Pemkot, menyampaikan permohonan maaf dan pesan Natal dari Walikota K.H. Dr. Mohammad Idris, MA. Pesan itu menekankan pentingnya menjaga persatuan dan membangun Kota Depok yang unggul, aman, dan religius.

Namun, Ketua DPRD Hendrik Tangke Allo menyampaikan kekecewaannya secara terbuka:

“Saya agak kecewa dengan tidak hadirnya walikota atau wakil walikota dalam acara seperti ini. Mereka adalah kepala pemerintahan, artinya mereka merupakan orangtua dari seluruh masyarakat Kota Depok.”

Pernyataan ini bukan sekadar kritik, tetapi juga refleksi atas pentingnya kehadiran simbolik dan nyata dari pemimpin dalam setiap ruang masyarakat, tanpa memandang latar belakang agama atau suku.

Sebagai aktivis kerasulan awam, saya melihat bahwa perayaan Natal seperti ini bukan hanya liturgi sosial, tetapi juga tindakan profetik. Ia adalah bentuk nyata dari iman yang hidup—iman yang tidak hanya berdoa, tetapi juga membangun. Ketika umat Kristiani berkumpul lintas denominasi, ketika pemerintah dan masyarakat duduk bersama, ketika suara kritis disampaikan dengan kasih, di situlah Injil menjadi nyata.

Natal bukan hanya tentang kelahiran Yesus di Betlehem. Ia adalah tentang kelahiran harapan, kelahiran solidaritas, dan kelahiran komitmen untuk membangun masyarakat yang adil dan bersatu.

Perayaan Natal Bersama Umat Kristiani se-Kota Depok adalah cermin kecil dari wajah Indonesia yang besar. Ia menunjukkan bahwa di tengah keberagaman, kita bisa bersatu. Bahwa di tengah perbedaan, kita bisa saling menghormati. Dan bahwa di tengah tantangan, kita bisa tetap berharap.

Mari kita terus menjadi pembawa damai, pembangun jembatan, dan pewarta kasih—di mana pun kita berada.

️ Oleh: Darius Leka, S.H., M.H., Advokat & Aktivis Kerasulan Awam Gereja Katolik

 

#natalbersamadepok #yesusdatangmembawapersatuan #kerasulanawam #gerejakatolik #wartakasih #imanyanghidup #persatuandalamkeberagaman #depokuntukindonesia #cintadalamtindakan #umatkristianibersatu #shdariusleka #reels #foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin