Perayaan Natal Bersama Umat Kristiani se-Kota Depok yang
diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Depok bersama Forum Komunikasi dan
Kerjasama Umat Kristiani Kota Depok (FKKUKD) menjadi momentum penting dalam
membangun jembatan antarumat, antariman, dan antarkepentingan. Di tengah
dinamika sosial dan politik yang kerap menguji kebhinekaan, perayaan ini
menjadi oase harapan.
Tema yang diangkat, “Yesus Datang Membawa Persatuan” (Yoh
17:20–21), bukan sekadar kutipan Alkitab. Ia adalah doa Yesus sendiri, yang
memohon agar semua murid-Nya menjadi satu, seperti Ia dan Bapa adalah satu.
Dalam sambutannya, Ketua FKKUKD, Pdt. Martin Luther Batubara, M.Th, menegaskan
bahwa tema ini adalah panggilan bagi umat Kristiani untuk menjadi agen
persatuan—di keluarga, di gereja, dan di masyarakat.
“Harapan dan doa melalui perayaan Natal malam hari ini
semoga kita akan melihat dan mengalami kasih Kristus yang mendorong umat
Kristiani yang telah dibenarkan dan diperdamaikan oleh Tuhan Yesus dapat
menjadi agen pembawa persatuan,” ujar Pdt. Martin.
Acara ini dihadiri oleh berbagai tokoh penting, termasuk
Ketua DPRD Kota Depok Hendrik Tangke Allo, S.Sos, Danramil Pancoran Mas Kapten
Arh Sairi, serta anggota DPRD Agustina Simanjuntak dan Marjaya, S.Sos, M.Si.
Namun, ketidakhadiran Walikota dan Wakil Walikota Depok menjadi catatan
tersendiri.
Marjaya, mewakili Pemkot, menyampaikan permohonan maaf dan
pesan Natal dari Walikota K.H. Dr. Mohammad Idris, MA. Pesan itu menekankan
pentingnya menjaga persatuan dan membangun Kota Depok yang unggul, aman, dan
religius.
Namun, Ketua DPRD Hendrik Tangke Allo menyampaikan kekecewaannya
secara terbuka:
“Saya agak kecewa dengan tidak hadirnya walikota atau wakil
walikota dalam acara seperti ini. Mereka adalah kepala pemerintahan, artinya
mereka merupakan orangtua dari seluruh masyarakat Kota Depok.”
Pernyataan ini bukan sekadar kritik, tetapi juga refleksi
atas pentingnya kehadiran simbolik dan nyata dari pemimpin dalam setiap ruang
masyarakat, tanpa memandang latar belakang agama atau suku.
Sebagai aktivis kerasulan awam, saya melihat bahwa perayaan
Natal seperti ini bukan hanya liturgi sosial, tetapi juga tindakan profetik. Ia
adalah bentuk nyata dari iman yang hidup—iman yang tidak hanya berdoa, tetapi
juga membangun. Ketika umat Kristiani berkumpul lintas denominasi, ketika pemerintah
dan masyarakat duduk bersama, ketika suara kritis disampaikan dengan kasih, di
situlah Injil menjadi nyata.
Natal bukan hanya tentang kelahiran Yesus di Betlehem. Ia
adalah tentang kelahiran harapan, kelahiran solidaritas, dan kelahiran komitmen
untuk membangun masyarakat yang adil dan bersatu.
Perayaan Natal Bersama Umat Kristiani se-Kota Depok adalah
cermin kecil dari wajah Indonesia yang besar. Ia menunjukkan bahwa di tengah
keberagaman, kita bisa bersatu. Bahwa di tengah perbedaan, kita bisa saling
menghormati. Dan bahwa di tengah tantangan, kita bisa tetap berharap.
Mari kita terus menjadi pembawa damai, pembangun jembatan,
dan pewarta kasih—di mana pun kita berada.
✍️ Oleh: Darius Leka, S.H., M.H., Advokat &
Aktivis Kerasulan Awam Gereja Katolik
#natalbersamadepok
#yesusdatangmembawapersatuan #kerasulanawam #gerejakatolik #wartakasih
#imanyanghidup #persatuandalamkeberagaman #depokuntukindonesia
#cintadalamtindakan #umatkristianibersatu #shdariusleka #reels #foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin