Kamis, 09 Februari 2017

Perbedaan bukan ancaman bagi OMK yang relasi lintas batasnya kuat karena internet

Yang menonjol dari orang muda adalah kekuatan relasi yang lintas batas dengan kekuatan media, dengan internet dan sebagainya. Dengan kekuatan ini, segala perbedaan bukanlah ancaman tetapi peluang, kata Delegatus Komisi Kepemudaan Keuskupan Agung Semarang (KAS).
Pastor Heribertus Budi Purwantoro Pr berbicara dalam Temu Pastoral (Tepas) Kevikepan Semarang bertema “Mengembangkan Pastoral Orang Muda yang Bergairah di Tengah Masyarakat Multikultur.” “Indonesia adalah multikultur. Yang khas Indonesia adalah kebhinekaan,” kata imam itu.

Dalam Tepas yang berlangsung di Muntilan, 18-20 Januari 2017, Pastor Budi menegaskan bahwa peran OMK tergantung keluasan pergaulan OMK. “Semakin orang muda mencintai pergaulan lebih luas, lingkaran kepedulian mereka semakin banyak. Semakin mereka berelasi, kepedulian mereka semakin muncul,” kata imam itu.

Maka, imam itu merasa perlu adanya desain strategis pendampingan sehingga OMK dengan formatio yang memiliki jejaring lebih luas untuk peran lebih luas. Formatio OMK berbasis paroki tetap harus dijalankan dengan memperhatikan fenomena yang sedang berkembang, kata Pastor Budi yang melihat dua macam OMK, “yang banyak berperan dalam Gereja dan yang bergaul di luar konteks Gereja dan menyentuh urusan-urusan sosial kemasyarakatan.”

Mantan Ketua Komisi Kepemudaan KWI Pastor Yohanes Dwi Harsanto Pr mengangkat perbedaan antara Mudika dan OMK. “Mudika berada di teritorial, sedangkan OMK kategorial. Maksudnya, OMK ada untuk memudahkan pendampingan, bahkan yang tidak pernah ke gereja pun bisa terdampingi.”

Imam itu menegaskan kepada pastor paroki dan aktivis paroki yang berkutat dalam pendampingan OMK bahwa orang muda merindukan arti hidup. “Orang muda sekarang tak sedangkal yang dipikirkan sebagian orang. Orang muda ingin tahu apa sebenarnya hidup itu. Maka, mereka perlu didampingi, karena mereka sedang memasuki masa terminal. Ini penting. Mereka perlu teman. Temannya adalah orang-orang yang sudah punya pengalaman, kalau tidak, bisa keliru,” tegas imam itu.


Tokoh Islam dari Pusat Studi Agama dan Perdamaian, Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Suhadi, yang juga pembicara mengajak OMK supaya membangun budaya damai, antara lain “membuka diri dan tidak hanya fokus pada diri atau kelompok sendiri.”

Dia juga mengajak peserta “mendorong generasi muda agar membangun ruang dan interaksi langsung dalam kemajemukan, mendiseminasikan pendidikan perdamaian bagi kaum muda, menemukan kembali pengikat multikultur, mengaktivasi gerakan-gerakan persaudaraan antaragama dalam arena meso dan mikro, dan mengaktivasi gerakan-gerakan persaudaraan antaragama dalam arena makro, termasuk advokasi kebijakan.”

Tepas itu dimaksudkan untuk mendalami OMK dan multikulutur. Tema itu diangkat dalam rangka menyambut Asian Youth Day yang akan digelar di KAS. Selain itu, Rencana Induk KAS memberikan gambaran persiapan OMK dalam aneka peran lebih luas dalam Gereja, menjadi pionir dan orang-orang yang sungguh-sungguh terlibat di tengah masyarakat, seperti olah raga, karang taruna, atau pemeliharaan alam semesta.

Apapun, tegas Administrator Diosesan KAS Pastor FX Sukendar Pr, bisa dilibati oleh orang-orang muda kita “dengan harapan, mereka menjadi pembawa kabar baik dan pewarta-pewarta pada zamannya.”

Untuk itu, KAS mempersiapkan formatio OMK secara matang. “Kita membuat rancangan formatio mulai dari anak-anak, remaja, sampai mereka semua siap melayani Gereja, hadir membawa warta Gereja ini,” kata Pastor Sukendar.

Selain Kevikepan Semarang, Tepas akan juga digelar untuk Kevikepan Yogyakarta, Kevikepan Surakarta dan Kevikepan Kedu.(penakatolik.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin