KOTA DEPOK - Pada Senin malam, 15 Desember 2025, Ruang Galatia di Gedung Pastoral Santo Paulus II, Depok Lama, menjadi saksi perjumpaan penuh makna antara umat, para pelayan Gereja, dan para pemimpin Keuskupan Bogor. Dalam suasana hangat dan penuh harapan, pertemuan ini bukan sekadar seremoni laporan pertanggungjawaban, melainkan momentum sinodal yang menegaskan kembali panggilan Gereja untuk berjalan bersama—dalam kasih, pelayanan, dan tanggung jawab.
RP. Agustinus Anton Widarto, OFM—yang akrab disapa Pater Anton—membuka
pertemuan dengan narasi perjuangan pastoral selama masa pandemi COVID-19. Dari
Depok, salah satu episentrum awal pandemi di Indonesia, Gereja Santo Paulus
tidak menyerah. Justru dari keterbatasan, lahir kreativitas dan solidaritas.
Dalam masa “new normal”, pelayanan pastoral tidak hanya pulih, tetapi
berkembang pesat.
Kini, di usia 65 tahun, Paroki Santo Paulus telah mekar menjadi 18 wilayah
dan 43 lingkungan. Pertumbuhan umat mencapai 60% dalam rentang lima tahun
terakhir, didorong oleh perpindahan umat dari DKI Jakarta ke wilayah penyangga.
Namun, bukan sekadar angka yang menjadi ukuran, melainkan semangat pelayanan
yang hidup—terutama bagi anak dan remaja—yang menjadi denyut nadi masa depan
Gereja.
Dalam sambutannya, Uskup Bogor, Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM, menegaskan
pentingnya sinergi antara pastor paroki dan umat. “Jangan sampai jajan
sendiri-sendiri,” tegasnya, mengingatkan bahwa Gereja bukanlah kumpulan
individu, melainkan tubuh Kristus yang satu. Ia mengajak para pengurus baru
untuk melanjutkan semangat pelayanan dari para pendahulu, dengan semangat
kolaborasi dan keterbukaan.
RD Habel Jadera, Vikaris Jenderal yang baru, memberikan apresiasi atas
hidupnya katekese dan semangat menggereja di Paroki Santo Paulus. Namun, ia
juga menekankan pentingnya keamanan data umat—sebuah isu yang kerap terabaikan
namun krusial di era digital.
Sementara itu, RD Petrus Sunosmo Sombolinggi, Ekonom Keuskupan, menyoroti
pentingnya jaminan kesejahteraan karyawan Gereja. Ia mempertanyakan efektivitas
koperasi sebagai satu-satunya solusi, dan mendorong pencarian alternatif yang
lebih aman dan berkelanjutan.
RD Fabianus Sebastian Heatubun turut mengingatkan soal pentingnya pelaporan
aset Gereja secara rinci. Meski pihak DPP/DKP menyatakan akan menyampaikan
laporan tertulis, transparansi tetap menjadi pilar utama dalam tata kelola
Gereja yang akuntabel.
Pertemuan ini menjadi cermin bagaimana kerasulan awam bukan sekadar
pelengkap, melainkan jantung dari kehidupan Gereja. Dalam bidang sosial,
ekonomi, hukum, dan kemasyarakatan, umat awam dipanggil untuk menjadi garam dan
terang dunia. Melalui pelayanan yang konkret—dari koperasi umat, pendampingan
hukum, hingga pendidikan anak dan remaja—Gereja hadir di tengah masyarakat,
mewartakan kasih Allah yang hidup.
Di akhir pertemuan, Mgr. Paskalis mengucapkan terima kasih atas laporan dan
dedikasi para pengurus. Ia berharap agar pengurus baru tidak hanya meneruskan
yang baik, tetapi juga berani membangun yang baru—dengan semangat “Servite in
Caritate”, melayani dalam kasih.
Pertemuan ini bukanlah akhir, melainkan awal dari babak baru perjalanan
Gereja yang terus bergerak, bertumbuh, dan bersaksi di tengah dunia. Sebuah
panggilan bagi kita semua—untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi pelaku
dalam sejarah keselamatan.
✍️
Oleh: Darius Leka, S.H., M.H. - Advokat & Aktivis Kerasulan Awam Gereja
Katolik
#shdariusleka #reels #foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang #kerasulanawam
#gerejakatolik #santopaulusdepok #serviteincaritate #pastoraltransparan
#sinodalitas #gerejayanghidup

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin