Hari itu bukan sekadar seremoni. Ia adalah perayaan iman. Ia
adalah bukti bahwa Gereja bukan hanya bangunan, tetapi komunitas yang hidup,
yang dibangun di atas dasar kasih dan pengharapan.
Acara dimulai dengan pemberkatan patung Keluarga Kudus di
halaman gereja oleh Uskup Bogor, Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM. Patung ini
bukan sekadar ornamen, tetapi simbol spiritualitas keluarga Nazaret—keluarga
yang sederhana, taat, dan penuh kasih. Sebuah teladan bagi setiap keluarga
Katolik masa kini.
Misa konselebrasi kemudian dipimpin oleh Yang Mulia Nunsius
Apostolik untuk Indonesia, Mgr. Antonio Guido Filipazzi, didampingi oleh Mgr.
Paskalis Bruno Syukur, Uskup Emeritus Mgr. Michael Cosmas Angkur, RD Michael
Harsono selaku pastor paroki, serta para imam Unio Keuskupan Bogor. Dalam
liturgi yang khidmat, altar dan tiang-tiang gereja diurapi dengan minyak
suci—tanda bahwa tempat ini telah dikuduskan sebagai Bait Allah.
Dalam homilinya, Nunsius Filipazzi menekankan pentingnya
iman dan kasih dalam setiap kunjungan ke gereja. Ia mengajak umat untuk
menjadikan gereja sebagai tempat yang bersih, bukan hanya secara fisik, tetapi
juga secara rohani—tempat di mana sakramen-sakramen menjadi sumber kekuatan dan
pengudusan.
“Gereja harus menjadi tempat yang hidup, yang menghormati
keluarga kudus dan memelihara kerukunan antarumat beragama,” tegasnya.
Pesan ini sangat relevan dalam konteks Indonesia yang
majemuk. Gereja dipanggil untuk tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga
rumah dialog, rumah damai, dan rumah solidaritas.
Mgr. Paskalis Bruno Syukur dalam sambutannya menyampaikan
apresiasi mendalam kepada umat PKKC. Ia menyebut gereja ini sebagai “Rumah
Solidaritas”—karena dibangun bukan oleh satu tangan, tetapi oleh banyak hati
yang bersatu dalam iman.
“Mari kita berjalan bersama dalam Keuskupan kita, dalam
Kristus. Rumah ini adalah perjuangan kita bersama,” ujar Uskup Paskalis.
Setelah Misa, acara dilanjutkan dengan penandatanganan
prasasti sebagai tanda resmi peresmian gereja. Kemudian, merpati dilepaskan ke
langit—simbol damai dan kebebasan. Balon-balon warna-warni pun menghiasi langit
Cibinong, membawa harapan dan doa umat ke hadapan Tuhan.
Sambutan dari staf Bupati Bogor menegaskan dukungan
pemerintah terhadap keberadaan gereja sebagai mitra dalam membangun masyarakat
yang harmonis dan berkeadaban. Acara ditutup dengan makan siang bersama,
mempererat tali persaudaraan lintas komunitas.
Sebagai aktivis kerasulan awam, saya melihat peresmian ini
bukan hanya sebagai pencapaian fisik, tetapi sebagai perwujudan spiritualitas
awam yang hidup. Gereja ini berdiri karena umat percaya bahwa iman harus
diwujudkan dalam tindakan. Bahwa kasih kepada Allah harus diterjemahkan dalam
kerja nyata—dalam batu bata, dalam dana, dalam doa, dan dalam peluh.
Gereja Keluarga Kudus Cibinong adalah bukti bahwa kerasulan
awam bukan sekadar konsep. Ia adalah gerakan. Ia adalah semangat. Ia adalah
cinta yang menjadi bangunan.
Selamat kepada seluruh umat Paroki Keluarga Kudus Cibinong.
Gereja ini bukan akhir, tetapi awal dari perutusan baru. Mari kita isi rumah
ini dengan doa, pelayanan, dan kasih. Mari kita jadikan rumah ini sebagai
tempat di mana setiap orang merasa diterima, dicintai, dan dikuatkan.
Karena Gereja bukan hanya tempat kita berdoa. Ia adalah
tempat kita menjadi.
✍️ Oleh: Darius Leka, S.H., M.H., Advokat &
Aktivis Kerasulan Awam Gereja Katolik
#gerejakeluargakuduscibinong
#peresmiangerejakatolik #kerasulanawam #gerejakatolik #wartakasih
#imanyanghidup #rumahsolidaritas #evangelisasiawam #cintadalamtindakan
#keuskupanbogor #shdariusleka #reels #foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin