Rabu, 08 Februari 2017

Rumah Allah, Rumah Solidaritas; Peresmian Gereja Keluarga Kudus Cibinong

CIBINONG
- Tanggal 25 Januari 2017 menjadi hari yang tak terlupakan bagi umat Paroki Keluarga Kudus Cibinong (PKKC). Di bawah langit Bogor yang bersahabat, umat berkumpul dalam sukacita dan syukur untuk menyaksikan peresmian dan pemberkatan Gereja Keluarga Kudus Cibinong—buah dari perjuangan panjang, doa yang tak henti, dan semangat gotong royong yang tak pernah padam.

Hari itu bukan sekadar seremoni. Ia adalah perayaan iman. Ia adalah bukti bahwa Gereja bukan hanya bangunan, tetapi komunitas yang hidup, yang dibangun di atas dasar kasih dan pengharapan.

Acara dimulai dengan pemberkatan patung Keluarga Kudus di halaman gereja oleh Uskup Bogor, Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM. Patung ini bukan sekadar ornamen, tetapi simbol spiritualitas keluarga Nazaret—keluarga yang sederhana, taat, dan penuh kasih. Sebuah teladan bagi setiap keluarga Katolik masa kini.

Misa konselebrasi kemudian dipimpin oleh Yang Mulia Nunsius Apostolik untuk Indonesia, Mgr. Antonio Guido Filipazzi, didampingi oleh Mgr. Paskalis Bruno Syukur, Uskup Emeritus Mgr. Michael Cosmas Angkur, RD Michael Harsono selaku pastor paroki, serta para imam Unio Keuskupan Bogor. Dalam liturgi yang khidmat, altar dan tiang-tiang gereja diurapi dengan minyak suci—tanda bahwa tempat ini telah dikuduskan sebagai Bait Allah.

Dalam homilinya, Nunsius Filipazzi menekankan pentingnya iman dan kasih dalam setiap kunjungan ke gereja. Ia mengajak umat untuk menjadikan gereja sebagai tempat yang bersih, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara rohani—tempat di mana sakramen-sakramen menjadi sumber kekuatan dan pengudusan.

“Gereja harus menjadi tempat yang hidup, yang menghormati keluarga kudus dan memelihara kerukunan antarumat beragama,” tegasnya.

Pesan ini sangat relevan dalam konteks Indonesia yang majemuk. Gereja dipanggil untuk tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga rumah dialog, rumah damai, dan rumah solidaritas.

Mgr. Paskalis Bruno Syukur dalam sambutannya menyampaikan apresiasi mendalam kepada umat PKKC. Ia menyebut gereja ini sebagai “Rumah Solidaritas”—karena dibangun bukan oleh satu tangan, tetapi oleh banyak hati yang bersatu dalam iman.

“Mari kita berjalan bersama dalam Keuskupan kita, dalam Kristus. Rumah ini adalah perjuangan kita bersama,” ujar Uskup Paskalis.

Setelah Misa, acara dilanjutkan dengan penandatanganan prasasti sebagai tanda resmi peresmian gereja. Kemudian, merpati dilepaskan ke langit—simbol damai dan kebebasan. Balon-balon warna-warni pun menghiasi langit Cibinong, membawa harapan dan doa umat ke hadapan Tuhan.

Sambutan dari staf Bupati Bogor menegaskan dukungan pemerintah terhadap keberadaan gereja sebagai mitra dalam membangun masyarakat yang harmonis dan berkeadaban. Acara ditutup dengan makan siang bersama, mempererat tali persaudaraan lintas komunitas.

Sebagai aktivis kerasulan awam, saya melihat peresmian ini bukan hanya sebagai pencapaian fisik, tetapi sebagai perwujudan spiritualitas awam yang hidup. Gereja ini berdiri karena umat percaya bahwa iman harus diwujudkan dalam tindakan. Bahwa kasih kepada Allah harus diterjemahkan dalam kerja nyata—dalam batu bata, dalam dana, dalam doa, dan dalam peluh.

Gereja Keluarga Kudus Cibinong adalah bukti bahwa kerasulan awam bukan sekadar konsep. Ia adalah gerakan. Ia adalah semangat. Ia adalah cinta yang menjadi bangunan.

Selamat kepada seluruh umat Paroki Keluarga Kudus Cibinong. Gereja ini bukan akhir, tetapi awal dari perutusan baru. Mari kita isi rumah ini dengan doa, pelayanan, dan kasih. Mari kita jadikan rumah ini sebagai tempat di mana setiap orang merasa diterima, dicintai, dan dikuatkan.

Karena Gereja bukan hanya tempat kita berdoa. Ia adalah tempat kita menjadi.

️ Oleh: Darius Leka, S.H., M.H., Advokat & Aktivis Kerasulan Awam Gereja Katolik

 

#gerejakeluargakuduscibinong #peresmiangerejakatolik #kerasulanawam #gerejakatolik #wartakasih #imanyanghidup #rumahsolidaritas #evangelisasiawam #cintadalamtindakan #keuskupanbogor #shdariusleka #reels #foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin