Jumat, 08 April 2011

Tubuh dan Darah Kristus; Mengapa Umat Hanya Menerima Hostia?

Oleh: RP. Stanilaus Agus Haryanto, OFM. – Pastor Vikaris Paroki Santo Paulus Depok 2010-2013

Syalom dan salam damai Kristus.

Pertanyaan dari saudara Hendrik di Citayam—“Mengapa saat komuni umat hanya menerima hostia kudus saja, padahal dalam Perjamuan Terakhir Yesus memberikan roti dan anggur?”—bukan hanya pertanyaan liturgis, tetapi juga sebuah undangan untuk menyelami lebih dalam makna teologis dan pastoral dari Sakramen Ekaristi, pusat kehidupan iman Katolik.

Terimakasih dan berkat Tuhan sebelumnya. Sakramen Ekaristi bukan sekadar ritual mingguan, melainkan perayaan kurban Kristus yang hidup dan kekal. Dalam Ekaristi, kita tidak hanya mengenang wafat dan kebangkitan-Nya, tetapi sungguh hadir dalam misteri kasih yang menyelamatkan. Kristus hadir secara nyata, substansial, dan sakramental—dalam rupa roti dan anggur, namun dengan Tubuh, Darah, Jiwa, dan Keilahian-Nya secara utuh.

Sebagaimana ditegaskan dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK 1374), kehadiran Kristus dalam Ekaristi adalah “kehadiran yang sejati, nyata, dan substansial.” Maka, ketika kita menyambut hostia kudus, kita tidak hanya menerima “roti surgawi”, tetapi seluruh pribadi Kristus—Tubuh dan Darah-Nya.

Pertanyaan ini sering muncul, terutama dari umat yang ingin menghayati Ekaristi secara lebih utuh. Secara teologis, Gereja mengajarkan bahwa dalam setiap rupa—baik roti maupun anggur—terkandung keseluruhan Kristus. Artinya, menerima hostia saja sudah berarti menerima Tubuh dan Darah Kristus secara penuh. Ini disebut prinsip “konkomitansi”.

Namun, mengapa umat tidak menerima anggur juga? Di sinilah pertimbangan pastoral dan praktis berperan. Dalam perayaan Ekaristi dengan jumlah umat yang besar, seperti di Paroki St. Paulus Depok yang bisa mencapai ribuan orang, penyediaan anggur dalam jumlah besar dan distribusinya secara aman dan layak menjadi tantangan tersendiri. Maka, demi keteraturan dan kekhusyukan, penerimaan dalam satu rupa—yakni hostia—menjadi pilihan yang sah dan sahih.

Imam yang memimpin Ekaristi tetap menerima dalam dua rupa, mewakili seluruh umat. Ini bukan pengurangan makna, melainkan bentuk representasi liturgis yang telah diatur dan diakui oleh Gereja universal.

Namun, dalam perayaan Ekaristi komunitas kecil—seperti retret, kelompok kategorial, atau komunitas basis—penerimaan dalam dua rupa bisa dan sering dilakukan. Ini menjadi kesempatan untuk menghayati secara simbolik dan spiritual kesatuan Tubuh dan Darah Kristus dalam rupa roti dan anggur.

Sebagai aktivis kerasulan awam, saya melihat bahwa pemahaman umat tentang Ekaristi perlu terus dibina. Banyak umat yang masih memandang hostia hanya sebagai “roti suci”, tanpa menyadari bahwa di dalamnya hadir Kristus secara penuh. Maka, tugas kita bersama—imam, awam, dan komunitas—adalah membina pemahaman iman yang benar, mendalam, dan menyentuh hati.

Ekaristi bukan hanya soal menerima, tetapi juga memberi. Dalam setiap perayaan, kita dipanggil untuk mempersembahkan hidup kita—doa, pekerjaan, penderitaan, dan sukacita—sebagai bagian dari kurban Kristus. Inilah makna kerasulan awam: menjadikan hidup sehari-hari sebagai liturgi kasih yang nyata.

Ketika kita menyambut Kristus dalam Ekaristi, kita dipanggil untuk menjadi Kristus bagi sesama. Dalam keluarga, tempat kerja, masyarakat, dan pelayanan sosial, kita membawa kehadiran-Nya yang menyembuhkan dan menyelamatkan.

Saudara Hendrik dan umat sekalian, semoga pertanyaan ini menjadi pintu masuk untuk mencintai Ekaristi lebih dalam. Bukan hanya sebagai ritus, tetapi sebagai sumber dan puncak hidup Kristiani. Mari kita sambut Kristus dengan hati yang penuh syukur, dan hayati kehadiran-Nya dalam setiap langkah hidup kita.

Tuhan memberkati.


#sakramenekaristi #tubuhdandarahkristus #komunikudus #kerasulanawam #imanyanghidup #liturgikatolik #stpaulusdepok #mewartakankasihallah #katolikaktif #ekaristiadalahhidup

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin