
Oleh: RP. Stanilaus Agus Haryanto, OFM. – Pastor Vikaris Paroki Santo Paulus Depok 2010-2013
Syalom dan salam damai Kristus.
Pertanyaan dari saudara Hendrik di Citayam—“Mengapa saat komuni umat hanya
menerima hostia kudus saja, padahal dalam Perjamuan Terakhir Yesus memberikan
roti dan anggur?”—bukan hanya pertanyaan liturgis, tetapi juga sebuah undangan
untuk menyelami lebih dalam makna teologis dan pastoral dari Sakramen Ekaristi,
pusat kehidupan iman Katolik.
Terimakasih
dan berkat Tuhan sebelumnya. Sakramen
Ekaristi bukan sekadar ritual mingguan, melainkan perayaan kurban Kristus yang
hidup dan kekal. Dalam Ekaristi, kita tidak hanya mengenang wafat dan
kebangkitan-Nya, tetapi sungguh hadir dalam misteri kasih yang menyelamatkan.
Kristus hadir secara nyata, substansial, dan sakramental—dalam rupa roti dan
anggur, namun dengan Tubuh, Darah, Jiwa, dan Keilahian-Nya secara utuh.
Sebagaimana ditegaskan dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK
1374), kehadiran Kristus dalam Ekaristi adalah “kehadiran yang sejati, nyata,
dan substansial.” Maka, ketika kita menyambut hostia kudus, kita tidak hanya
menerima “roti surgawi”, tetapi seluruh pribadi Kristus—Tubuh dan Darah-Nya.
Pertanyaan ini sering muncul, terutama dari umat yang ingin
menghayati Ekaristi secara lebih utuh. Secara teologis, Gereja mengajarkan
bahwa dalam setiap rupa—baik roti maupun anggur—terkandung keseluruhan Kristus.
Artinya, menerima hostia saja sudah berarti menerima Tubuh dan Darah Kristus
secara penuh. Ini disebut prinsip “konkomitansi”.
Namun, mengapa umat tidak menerima anggur juga? Di sinilah
pertimbangan pastoral dan praktis berperan. Dalam perayaan Ekaristi dengan
jumlah umat yang besar, seperti di Paroki St. Paulus Depok yang bisa mencapai
ribuan orang, penyediaan anggur dalam jumlah besar dan distribusinya secara
aman dan layak menjadi tantangan tersendiri. Maka, demi keteraturan dan
kekhusyukan, penerimaan dalam satu rupa—yakni hostia—menjadi pilihan yang sah
dan sahih.
Imam yang memimpin Ekaristi tetap menerima dalam dua rupa,
mewakili seluruh umat. Ini bukan pengurangan makna, melainkan bentuk
representasi liturgis yang telah diatur dan diakui oleh Gereja universal.
Namun, dalam perayaan Ekaristi komunitas kecil—seperti
retret, kelompok kategorial, atau komunitas basis—penerimaan dalam dua rupa
bisa dan sering dilakukan. Ini menjadi kesempatan untuk menghayati secara
simbolik dan spiritual kesatuan Tubuh dan Darah Kristus dalam rupa roti dan
anggur.
Sebagai aktivis kerasulan awam, saya melihat bahwa pemahaman
umat tentang Ekaristi perlu terus dibina. Banyak umat yang masih memandang
hostia hanya sebagai “roti suci”, tanpa menyadari bahwa di dalamnya hadir
Kristus secara penuh. Maka, tugas kita bersama—imam, awam, dan komunitas—adalah
membina pemahaman iman yang benar, mendalam, dan menyentuh hati.
Ekaristi bukan hanya soal menerima, tetapi juga memberi.
Dalam setiap perayaan, kita dipanggil untuk mempersembahkan hidup kita—doa,
pekerjaan, penderitaan, dan sukacita—sebagai bagian dari kurban Kristus. Inilah
makna kerasulan awam: menjadikan hidup sehari-hari sebagai liturgi kasih yang
nyata.
Ketika kita menyambut Kristus dalam Ekaristi, kita dipanggil
untuk menjadi Kristus bagi sesama. Dalam keluarga, tempat kerja, masyarakat,
dan pelayanan sosial, kita membawa kehadiran-Nya yang menyembuhkan dan
menyelamatkan.
Saudara Hendrik dan umat sekalian, semoga pertanyaan ini
menjadi pintu masuk untuk mencintai Ekaristi lebih dalam. Bukan hanya sebagai
ritus, tetapi sebagai sumber dan puncak hidup Kristiani. Mari kita sambut
Kristus dengan hati yang penuh syukur, dan hayati kehadiran-Nya dalam setiap
langkah hidup kita.
Tuhan
memberkati.
#sakramenekaristi #tubuhdandarahkristus #komunikudus #kerasulanawam #imanyanghidup #liturgikatolik #stpaulusdepok #mewartakankasihallah #katolikaktif #ekaristiadalahhidup
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin