Jumat, 24 Juni 2011

Menjadi Dewasa dalam Iman; Inspirasi Santo Paulus di Tengah Zaman yang Berubah

Oleh: Darius Leka, S.H., M.H. – Advokat, Aktivis Rasul Awam Gereja Katolik sekaligus Koordinator KOMSOS Paroki Santo Paulus Depok periode 2010-2013

KOTA DEPOK, 18 Juni 2011 — Dalam rangkaian Pesta Nama Pelindung Paroki Santo Paulus Depok, sebuah talk show yang menggugah diadakan di Novisiat Transitus OFM, Jalan Kamboja, Depok Lama. Bertajuk “Semua Tentang Santo Paulus: Kita Menjadi Dewasa Seperti Santo Paulus,” acara ini diselenggarakan oleh Seksi Kerasulan Kitab Suci bekerja sama dengan Seksi Katekese dan Orang Muda Katolik (OMK). Talk show ini menghadirkan RP. Robby Wowor, OFM, sebagai narasumber utama.

Dengan format yang santai namun sarat makna, talk show ini berhasil menarik 115 peserta dari total 152 yang terdaftar. “Kehadiran peserta melebihi ekspektasi,” ujar Bapak Andreas Muhammad Sirad, Koordinator Seksi Kitab Suci. “Ini menunjukkan bahwa semangat untuk mengenal lebih dalam sosok pelindung paroki kita masih sangat kuat.”

Dalam sesi pertama, Pater Robby mengajak peserta menyelami kisah pertobatan Saulus menjadi Paulus. Sebagai seorang Farisi yang taat dan cerdas, Saulus awalnya adalah penganiaya umat Kristen. Namun perjumpaannya dengan Kristus di jalan menuju Damsyik mengubah segalanya. Dalam kondisi buta dan tak berdaya, Saulus justru menemukan terang sejati. Ia dibaptis, dan sejak saat itu hidupnya diabdikan untuk mewartakan Injil.

Pertobatan ini bukan sekadar perubahan nama, tetapi transformasi total dalam cara berpikir, bertindak, dan mengasihi. Sebuah pelajaran penting bagi kita semua: bahwa kedewasaan iman dimulai dari keberanian untuk mengakui kelemahan dan membuka diri terhadap rahmat Allah.

Sesi kedua membahas karya-karya Paulus dalam bentuk surat-surat kepada jemaat-jemaat Kristen perdana. Setidaknya 13 surat dalam Perjanjian Baru dikaitkan dengan Paulus. Meski para ahli berbeda pendapat soal keaslian penulisannya, isi surat-surat tersebut tetap menjadi fondasi teologis dan pastoral Gereja hingga kini.

Surat-surat Paulus bukan hanya dokumen sejarah, tetapi cermin dari pergulatan iman yang nyata. Ia menulis untuk membimbing, menegur, menguatkan, dan menyemangati. Dalam surat-suratnya, kita menemukan wajah Gereja yang hidup: penuh tantangan, namun juga penuh harapan.

Sesi ketiga menyoroti peran Paulus sebagai rasul. Ia menempuh lebih dari 15.000 km dengan berjalan kaki demi mewartakan Kabar Gembira. Ia menghadapi penganiayaan, penolakan, bahkan ancaman kematian. Namun semangatnya tak pernah padam. Ia merasa berbahagia karena boleh menderita demi Kristus.

Sebagai duta Kristus, Paulus selalu mendahulukan kepentingan orang lain. Ia tidak mencari kenyamanan pribadi, tetapi keselamatan jiwa-jiwa. Tak heran jika Paus Benediktus XVI menetapkan tahun 2007–2008 sebagai Tahun Paulus, untuk mengajak umat meneladani semangatnya: bersukacita dalam segala situasi, berani, mandiri, menyangkal diri, setia, penuh kasih, dan simpatik.

Sebagai seorang advokat dan aktivis kerasulan awam, saya percaya bahwa Gereja membutuhkan lebih banyak “Paulus” masa kini—pribadi-pribadi yang berani bersaksi, yang tidak takut berbeda, yang setia pada Injil meski harus melawan arus zaman. Talk show ini bukan hanya mengenang sosok Paulus, tetapi mengajak kita untuk meneladaninya.

Menjadi dewasa dalam iman bukan soal usia, tetapi soal kedalaman relasi dengan Kristus. Dan seperti Paulus, kita pun dipanggil untuk menjadi pewarta kasih Allah—di rumah, di tempat kerja, di komunitas, dan di tengah masyarakat.

 

#santopaulus #talkshowiman #kerasulanawam #omkstpaulusdepok #kitabsucihidup #pertobatanpaulus #gerejayangmendidik #mewartakankasihallah #katolikaktif #stpaulusdepok

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin