![]() |
| Oleh: Darius Leka, S.H., M.H. – Advokat, Aktivis Rasul Awam Gereja Katolik sekaligus Koordinator KOMSOS Paroki Santo Paulus Depok periode 2010-2013 |
Dengan format yang santai namun sarat makna, talk show ini
berhasil menarik 115 peserta dari total 152 yang terdaftar. “Kehadiran peserta
melebihi ekspektasi,” ujar Bapak Andreas Muhammad Sirad, Koordinator Seksi
Kitab Suci. “Ini menunjukkan bahwa semangat untuk mengenal lebih dalam sosok
pelindung paroki kita masih sangat kuat.”
Dalam sesi pertama, Pater Robby mengajak peserta menyelami
kisah pertobatan Saulus menjadi Paulus. Sebagai seorang Farisi yang taat dan
cerdas, Saulus awalnya adalah penganiaya umat Kristen. Namun perjumpaannya
dengan Kristus di jalan menuju Damsyik mengubah segalanya. Dalam kondisi buta
dan tak berdaya, Saulus justru menemukan terang sejati. Ia dibaptis, dan sejak
saat itu hidupnya diabdikan untuk mewartakan Injil.
Pertobatan ini bukan sekadar perubahan nama, tetapi
transformasi total dalam cara berpikir, bertindak, dan mengasihi. Sebuah
pelajaran penting bagi kita semua: bahwa kedewasaan iman dimulai dari
keberanian untuk mengakui kelemahan dan membuka diri terhadap rahmat Allah.
Sesi kedua membahas karya-karya Paulus dalam bentuk
surat-surat kepada jemaat-jemaat Kristen perdana. Setidaknya 13 surat dalam
Perjanjian Baru dikaitkan dengan Paulus. Meski para ahli berbeda pendapat soal
keaslian penulisannya, isi surat-surat tersebut tetap menjadi fondasi teologis
dan pastoral Gereja hingga kini.
Surat-surat Paulus bukan hanya dokumen sejarah, tetapi
cermin dari pergulatan iman yang nyata. Ia menulis untuk membimbing, menegur,
menguatkan, dan menyemangati. Dalam surat-suratnya, kita menemukan wajah Gereja
yang hidup: penuh tantangan, namun juga penuh harapan.
Sesi ketiga menyoroti peran Paulus sebagai rasul. Ia menempuh
lebih dari 15.000 km dengan berjalan kaki demi mewartakan Kabar Gembira. Ia
menghadapi penganiayaan, penolakan, bahkan ancaman kematian. Namun semangatnya
tak pernah padam. Ia merasa berbahagia karena boleh menderita demi Kristus.
Sebagai duta Kristus, Paulus selalu mendahulukan kepentingan
orang lain. Ia tidak mencari kenyamanan pribadi, tetapi keselamatan jiwa-jiwa.
Tak heran jika Paus Benediktus XVI menetapkan tahun 2007–2008 sebagai Tahun
Paulus, untuk mengajak umat meneladani semangatnya: bersukacita dalam segala
situasi, berani, mandiri, menyangkal diri, setia, penuh kasih, dan simpatik.
Sebagai seorang advokat dan aktivis kerasulan awam, saya
percaya bahwa Gereja membutuhkan lebih banyak “Paulus” masa kini—pribadi-pribadi
yang berani bersaksi, yang tidak takut berbeda, yang setia pada Injil meski
harus melawan arus zaman. Talk show ini bukan hanya mengenang sosok Paulus,
tetapi mengajak kita untuk meneladaninya.
Menjadi dewasa dalam iman bukan soal usia, tetapi soal
kedalaman relasi dengan Kristus. Dan seperti Paulus, kita pun dipanggil untuk
menjadi pewarta kasih Allah—di rumah, di tempat kerja, di komunitas, dan di
tengah masyarakat.
#santopaulus #talkshowiman #kerasulanawam #omkstpaulusdepok #kitabsucihidup #pertobatanpaulus #gerejayangmendidik #mewartakankasihallah #katolikaktif #stpaulusdepok

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin