
Oleh: Darius Leka, S.H., M.H. – Advokat, Aktivis Rasul Awam Gereja Katolik sekaligus Koordinator KOMSOS Paroki Santo Paulus Depok periode 2010-2013
Sejak pagi, halaman parkir gereja berubah menjadi klinik
terbuka. Ratusan umat dari berbagai lingkungan dan masyarakat sekitar
berdatangan untuk mengikuti pengobatan gratis. Mereka datang bukan hanya
membawa keluhan fisik, tetapi juga harapan akan hidup yang lebih sehat dan
bermakna.
Kegiatan ini meliputi konsultasi kesehatan, pemeriksaan gula
darah, kolesterol, osteoporosis, hingga deteksi dini diabetes. Para dokter dan
perawat dari paroki setempat dan paroki tetangga melayani dengan penuh
dedikasi. Tak ada sekat antara pasien dan petugas medis—yang ada hanyalah
semangat untuk melayani.
Ibu Hilda, umat dari Lingkungan St. Agustinus, adalah salah
satu peserta yang memanfaatkan layanan ini. “Saya pernah mengalami stroke
ringan tahun 2008. Sejak itu saya lebih peduli pada kesehatan,” ujarnya. “Hari
ini saya periksa gula darah, dan hasilnya cukup baik. Saya jadi lebih semangat
menjaga pola makan.”
Sebagai seorang advokat dan aktivis kerasulan awam, saya
percaya bahwa perhatian terhadap kesehatan bukan hanya urusan medis, tetapi
juga bagian dari spiritualitas. Tubuh adalah bait Roh Kudus. Maka, merawat
tubuh adalah bentuk syukur atas anugerah kehidupan.
Sementara itu, di ruang Galatia, kegiatan donor darah
berlangsung dengan tertib dan antusias. Ibu Icha dari PMI Depok menjelaskan
bahwa syarat menjadi pendonor cukup sederhana: usia 17–60 tahun, berat badan
minimal 45 kg, tidak sedang sakit atau dalam masa haid, hamil, atau menyusui.
Bapak Beta dari Lingkungan Bonaventura adalah salah satu
pendonor rutin. “Saya sudah biasa donor darah. Tidak ada efek samping, malah
badan terasa lebih segar,” tuturnya. Kesaksian ini membantah mitos-mitos yang
sering membuat orang ragu untuk mendonorkan darah.
Bapak Agustinus Subianto, Ketua Panitia Pelaksana,
menyampaikan bahwa target peserta hampir tercapai. “Sekitar 70 orang donor
darah, dan lebih dari 100 orang mengikuti pengobatan gratis. Ini pencapaian
yang menggembirakan,” ujarnya.
Namun lebih dari sekadar angka, kegiatan ini menunjukkan
bahwa kasih bisa diwujudkan dalam tindakan nyata. Bahwa iman yang hidup adalah
iman yang bergerak—menyentuh, melayani, dan menyembuhkan.
Kegiatan bakti sosial dan donor darah ini adalah cermin dari
wajah Gereja yang sejati: Gereja yang peduli, yang hadir, yang menjadi rumah
bagi yang lemah dan sakit. Di tengah dunia yang sering kali sibuk dengan urusan
pribadi, Gereja dipanggil untuk menjadi tanda kasih Allah yang menyembuhkan.
Mari kita jadikan kegiatan ini bukan sekadar agenda tahunan,
tetapi gaya hidup. Mari kita terus berbagi, bukan hanya darah, tetapi juga
waktu, perhatian, dan kasih. Sebab di situlah kita menjadi saksi Kristus yang
hidup—yang hadir di tengah umat-Nya, menyembuhkan luka dunia dengan kasih yang
mengalir tanpa henti.
#baktisosialstpaulusdepok
#donordarahgereja #kerasulanawam #gerejayangmelayani #imanyanghidup
#kesehatanumat #mewartakankasihallah #katolikaktif #stpaulusdepok
#gerejapedulisesama
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin