Jumat, 01 Juli 2011

Darah, Doa, dan Dedikasi; Ketika Gereja Menjadi Rumah Kesembuhan

Oleh: Darius Leka, S.H., M.H. – Advokat, Aktivis Rasul Awam Gereja Katolik sekaligus Koordinator KOMSOS Paroki Santo Paulus Depok periode 2010-2013

KOTA DEPOK - Minggu, 19 Juni 2011 — Di tengah semarak perayaan HUT ke-51 Pesta Nama Pelindung Paroki Santo Paulus Depok, ada satu kegiatan yang tak hanya menyentuh hati, tetapi juga menyentuh tubuh: bakti sosial dan donor darah. Di balik keramaian liturgi dan lomba-lomba, Gereja menampilkan wajahnya yang paling otentik—sebagai rumah kasih dan penyembuhan bagi semua.

Sejak pagi, halaman parkir gereja berubah menjadi klinik terbuka. Ratusan umat dari berbagai lingkungan dan masyarakat sekitar berdatangan untuk mengikuti pengobatan gratis. Mereka datang bukan hanya membawa keluhan fisik, tetapi juga harapan akan hidup yang lebih sehat dan bermakna.

Kegiatan ini meliputi konsultasi kesehatan, pemeriksaan gula darah, kolesterol, osteoporosis, hingga deteksi dini diabetes. Para dokter dan perawat dari paroki setempat dan paroki tetangga melayani dengan penuh dedikasi. Tak ada sekat antara pasien dan petugas medis—yang ada hanyalah semangat untuk melayani.

Ibu Hilda, umat dari Lingkungan St. Agustinus, adalah salah satu peserta yang memanfaatkan layanan ini. “Saya pernah mengalami stroke ringan tahun 2008. Sejak itu saya lebih peduli pada kesehatan,” ujarnya. “Hari ini saya periksa gula darah, dan hasilnya cukup baik. Saya jadi lebih semangat menjaga pola makan.”

Sebagai seorang advokat dan aktivis kerasulan awam, saya percaya bahwa perhatian terhadap kesehatan bukan hanya urusan medis, tetapi juga bagian dari spiritualitas. Tubuh adalah bait Roh Kudus. Maka, merawat tubuh adalah bentuk syukur atas anugerah kehidupan.

Sementara itu, di ruang Galatia, kegiatan donor darah berlangsung dengan tertib dan antusias. Ibu Icha dari PMI Depok menjelaskan bahwa syarat menjadi pendonor cukup sederhana: usia 17–60 tahun, berat badan minimal 45 kg, tidak sedang sakit atau dalam masa haid, hamil, atau menyusui.

Bapak Beta dari Lingkungan Bonaventura adalah salah satu pendonor rutin. “Saya sudah biasa donor darah. Tidak ada efek samping, malah badan terasa lebih segar,” tuturnya. Kesaksian ini membantah mitos-mitos yang sering membuat orang ragu untuk mendonorkan darah.

Bapak Agustinus Subianto, Ketua Panitia Pelaksana, menyampaikan bahwa target peserta hampir tercapai. “Sekitar 70 orang donor darah, dan lebih dari 100 orang mengikuti pengobatan gratis. Ini pencapaian yang menggembirakan,” ujarnya.

Namun lebih dari sekadar angka, kegiatan ini menunjukkan bahwa kasih bisa diwujudkan dalam tindakan nyata. Bahwa iman yang hidup adalah iman yang bergerak—menyentuh, melayani, dan menyembuhkan.

Kegiatan bakti sosial dan donor darah ini adalah cermin dari wajah Gereja yang sejati: Gereja yang peduli, yang hadir, yang menjadi rumah bagi yang lemah dan sakit. Di tengah dunia yang sering kali sibuk dengan urusan pribadi, Gereja dipanggil untuk menjadi tanda kasih Allah yang menyembuhkan.

Mari kita jadikan kegiatan ini bukan sekadar agenda tahunan, tetapi gaya hidup. Mari kita terus berbagi, bukan hanya darah, tetapi juga waktu, perhatian, dan kasih. Sebab di situlah kita menjadi saksi Kristus yang hidup—yang hadir di tengah umat-Nya, menyembuhkan luka dunia dengan kasih yang mengalir tanpa henti.

 

#baktisosialstpaulusdepok #donordarahgereja #kerasulanawam #gerejayangmelayani #imanyanghidup #kesehatanumat #mewartakankasihallah #katolikaktif #stpaulusdepok #gerejapedulisesama

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin