Jumat, 01 Juli 2011

Nada-Nada Iman; Konser Paduan Suara dan Semangat Kerasulan Awam di Paroki St. Paulus Depok

Oleh: Darius Leka, S.H., M.H. – Advokat, Aktivis Rasul Awam Gereja Katolik sekaligus Koordinator KOMSOS Paroki Santo Paulus Depok periode 2010-2013

KOTA
DEPOK, 25 Juni 2011 — Malam itu, ruang utama Gereja St. Paulus Depok tidak hanya dipenuhi umat, tetapi juga dipenuhi harmoni. Dalam rangka memeriahkan HUT ke-51 Pesta Nama Pelindung Paroki dan ulang tahun ke-2 Saint Paul Choir (SPC), panitia sukses menyelenggarakan Konser Paduan Suara yang menggugah hati dan menyatukan jiwa. Di tengah keterbatasan waktu persiapan, konser ini menjadi bukti bahwa ketika iman dan seni berpadu, Gereja menjadi ruang yang hidup dan menginspirasi.

Acara yang dijadwalkan pukul 19.00 WIB ini sempat molor 15 menit, namun tidak mengurangi antusiasme umat. Para pastor, pengurus Dewan Pastoral Paroki (DPP), dan undangan lainnya telah memenuhi bangku-bangku yang disediakan. Di balik layar, kerja keras dua minggu terakhir menjadi nyata dalam setiap nada yang dilantunkan.

Aloysius Suryadi, koordinator pelaksana konser dan mantan ketua OMK, mengungkapkan bahwa konser ini bukan hanya soal pertunjukan. “Kami ingin umat tertarik untuk bernyanyi, dan lebih dari itu, terlibat aktif dalam kelompok koor. Karena musik liturgi bukan sekadar hiburan, tetapi bagian dari doa dan pewartaan,” ujarnya.

Konser dibagi dalam dua sesi, menampilkan lagu-lagu yang biasa dinyanyikan dalam Perayaan Ekaristi, dari lagu pembukaan hingga penutup. Yang tampil bukan hanya kelompok lingkungan atau kategorial, tetapi mereka yang benar-benar siap mempersembahkan suara terbaiknya. Di antaranya: Saint Paul Choir (SPC), Saint Paul Choir Children (SPCC), Lingkungan St. Antonius Padua, Bonaventura, St. Agustinus, Sta. Maria Magdalena, WKRI, dan Novisiat Transitus Depok.

Sebagai seorang advokat dan aktivis kerasulan awam, saya percaya bahwa paduan suara bukan hanya soal teknik vokal, tetapi juga soal formasi rohani. Dalam koor, umat belajar disiplin, kerjasama, dan penghayatan liturgi. Mereka tidak hanya menyanyi, tetapi juga mewartakan kasih Allah melalui harmoni.

Bapak Waluyo Susanto dari Lingkungan St. Agustinus menyebut konser ini sebagai “terobosan yang baik.” Ia melihat semangat kaum muda yang bangkit, dan berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut di tingkat lingkungan.

Senada dengan itu, Rm. Tauchen Hotlan Girsang, OFM, yang turut hadir malam itu, menegaskan bahwa koor bukan milik kaum muda saja. “Bernyanyi adalah soal bakat. Maka keanggotaannya terbuka bagi siapa saja,” ujarnya. Ia juga menekankan pentingnya pembinaan berkelanjutan agar kaum muda terpanggil mempersembahkan talenta mereka kepada Tuhan.

Konser ini bukan hanya perayaan ulang tahun, tetapi perayaan iman. Ia menunjukkan bahwa kerasulan awam bisa hadir dalam berbagai bentuk—termasuk dalam nyanyian. Ketika umat bernyanyi dengan hati, mereka tidak hanya mengisi liturgi, tetapi juga mengisi hidup Gereja dengan semangat dan sukacita.

Mari kita dukung terus karya-karya kerasulan seperti ini. Mari kita buka ruang bagi talenta, bagi semangat, dan bagi suara-suara yang ingin memuliakan Tuhan. Sebab Gereja yang bernyanyi adalah Gereja yang hidup. Dan Gereja yang hidup adalah Gereja yang terus mewartakan kasih Allah kepada dunia.

#konserpaduansuaraspc #hutstpaulusdepok #koorliturgi #kerasulanawam #omkstpaulus #gerejayangbernyanyi #mewartakankasihallah #katolikaktif #musikliturgihidup #stpaulusdepok

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin