
Oleh: Darius Leka, S.H., M.H. – Advokat, Aktivis Rasul Awam Gereja Katolik sekaligus Koordinator KOMSOS Paroki Santo Paulus Depok periode 2010-2013
KOTA DEPOK, 25
Juni 2011 — Malam itu, ruang utama Gereja St. Paulus Depok tidak hanya dipenuhi
umat, tetapi juga dipenuhi harmoni. Dalam rangka memeriahkan HUT ke-51 Pesta
Nama Pelindung Paroki dan ulang tahun ke-2 Saint Paul Choir (SPC), panitia
sukses menyelenggarakan Konser Paduan Suara yang menggugah hati dan menyatukan
jiwa. Di tengah keterbatasan waktu persiapan, konser ini menjadi bukti bahwa
ketika iman dan seni berpadu, Gereja menjadi ruang yang hidup dan
menginspirasi.
Acara yang dijadwalkan pukul 19.00 WIB ini sempat molor 15
menit, namun tidak mengurangi antusiasme umat. Para pastor, pengurus Dewan
Pastoral Paroki (DPP), dan undangan lainnya telah memenuhi bangku-bangku yang
disediakan. Di balik layar, kerja keras dua minggu terakhir menjadi nyata dalam
setiap nada yang dilantunkan.
Aloysius Suryadi, koordinator pelaksana konser dan mantan
ketua OMK, mengungkapkan bahwa konser ini bukan hanya soal pertunjukan. “Kami
ingin umat tertarik untuk bernyanyi, dan lebih dari itu, terlibat aktif dalam
kelompok koor. Karena musik liturgi bukan sekadar hiburan, tetapi bagian dari
doa dan pewartaan,” ujarnya.
Konser dibagi dalam dua sesi, menampilkan lagu-lagu yang
biasa dinyanyikan dalam Perayaan Ekaristi, dari lagu pembukaan hingga penutup.
Yang tampil bukan hanya kelompok lingkungan atau kategorial, tetapi mereka yang
benar-benar siap mempersembahkan suara terbaiknya. Di antaranya: Saint Paul
Choir (SPC), Saint Paul Choir Children (SPCC), Lingkungan St. Antonius Padua,
Bonaventura, St. Agustinus, Sta. Maria Magdalena, WKRI, dan Novisiat Transitus
Depok.
Sebagai seorang advokat dan aktivis kerasulan awam, saya
percaya bahwa paduan suara bukan hanya soal teknik vokal, tetapi juga soal
formasi rohani. Dalam koor, umat belajar disiplin, kerjasama, dan penghayatan
liturgi. Mereka tidak hanya menyanyi, tetapi juga mewartakan kasih Allah
melalui harmoni.
Bapak Waluyo Susanto dari Lingkungan St. Agustinus menyebut
konser ini sebagai “terobosan yang baik.” Ia melihat semangat kaum muda yang
bangkit, dan berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut di tingkat
lingkungan.
Senada dengan itu, Rm. Tauchen Hotlan Girsang, OFM, yang
turut hadir malam itu, menegaskan bahwa koor bukan milik kaum muda saja.
“Bernyanyi adalah soal bakat. Maka keanggotaannya terbuka bagi siapa saja,”
ujarnya. Ia juga menekankan pentingnya pembinaan berkelanjutan agar kaum muda
terpanggil mempersembahkan talenta mereka kepada Tuhan.
Konser ini bukan hanya perayaan ulang tahun, tetapi perayaan
iman. Ia menunjukkan bahwa kerasulan awam bisa hadir dalam berbagai
bentuk—termasuk dalam nyanyian. Ketika umat bernyanyi dengan hati, mereka tidak
hanya mengisi liturgi, tetapi juga mengisi hidup Gereja dengan semangat dan
sukacita.
Mari kita dukung terus karya-karya kerasulan seperti ini.
Mari kita buka ruang bagi talenta, bagi semangat, dan bagi suara-suara yang
ingin memuliakan Tuhan. Sebab Gereja yang bernyanyi adalah Gereja yang hidup.
Dan Gereja yang hidup adalah Gereja yang terus mewartakan kasih Allah kepada
dunia.
#konserpaduansuaraspc
#hutstpaulusdepok #koorliturgi #kerasulanawam #omkstpaulus #gerejayangbernyanyi
#mewartakankasihallah #katolikaktif #musikliturgihidup #stpaulusdepok
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin