Jumat, 01 Juli 2011

Tubuh dan Darah Kristus; Ketika Anak-Anak Menjadi Saksi Iman yang Hidup

Oleh: Darius Leka, S.H., M.H. – Advokat, Aktivis Rasul Awam Gereja Katolik sekaligus Koordinator KOMSOS Paroki Santo Paulus Depok periode 2010-2013

KOTA DEPOK
, 26 Juni 2011 — Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus tahun ini menjadi momen istimewa bagi 92 anak Paroki St. Paulus Depok. Dalam Perayaan Ekaristi pukul 08.00 WIB yang dipimpin secara konselebrasi oleh Pastor Tauchen Hotlan Girsang, OFM, Pastor Stanislaus Agus Haryanto, OFM, dan Diakon Agustinus Anton Widarto, OFM, anak-anak ini untuk pertama kalinya menyambut Tubuh dan Darah Kristus—sebuah tonggak penting dalam perjalanan iman mereka.

Di tengah suasana liturgi yang khidmat dan penuh sukacita, koor Saint Paul Choir Children (SPCC) mengiringi misa dengan lantunan lagu-lagu rohani yang menyentuh hati. Namun yang paling menyentuh adalah momen ketika anak-anak, dengan wajah bersinar dan langkah penuh harap, maju satu per satu untuk menerima Komuni Kudus.

Dalam homilinya, Pastor Tauchen mengajak anak-anak dan umat untuk merenungkan misteri Ekaristi. “Roti dan anggur setelah konsekrasi berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Apakah kamu percaya?” tanyanya kepada para calon komuni pertama. Ia menegaskan bahwa hanya dengan mata iman kita dapat melihat kehadiran Yesus yang sejati dalam Ekaristi.

“Kalau kita memandangnya dengan pikiran manusia, itu hanya roti dan anggur. Tapi dengan iman, kita tahu: itu adalah Yesus sendiri, santapan jiwa kita,” tegasnya. Ia juga mengingatkan bahwa menerima Komuni bukan sekadar ritual, tetapi perjumpaan pribadi dengan Kristus yang mengubah hidup.

Ibu Maria Melania Kusmawati, Koordinator Bina Iman Anak, menjelaskan bahwa anak-anak telah dibina selama satu tahun penuh sebelum menerima Komuni Pertama. “Dari semua anak yang dibimbing, hanya satu yang tidak bisa ikut karena pindah ke Solo,” ujarnya. Ia juga mengakui bahwa kendala utama selama proses pembinaan lebih bersifat administratif, seperti keterlambatan pengumpulan formulir.

Namun di balik tantangan itu, ada dedikasi dan cinta yang besar dari para pembina. Mereka bukan hanya mengajarkan teori, tetapi juga menanamkan nilai-nilai iman, doa, dan kasih kepada anak-anak. Sebab pembinaan iman bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi pembentukan hati.

Bapak Frans Datang, salah satu orangtua, menyampaikan harapannya agar putranya menjadi anak yang baik dan aktif dalam kegiatan gereja. “Mudah-mudahan dia bisa ikut koor seperti SPCC, atau kegiatan lainnya. Pokoknya jadi anak yang baik,” ujarnya penuh harap.

Rosi, siswi kelas IV dari Lingkungan Santa Elisabeth, mengaku sangat bahagia bisa menerima Komuni Pertama. “Saya ingin jadi misdinar,” katanya polos namun penuh semangat. Sebuah harapan kecil yang mencerminkan kerinduan besar untuk melayani Tuhan.

Sebagai seorang advokat dan aktivis kerasulan awam, saya percaya bahwa masa depan Gereja tidak dibangun di altar saja, tetapi juga di ruang-ruang kelas Bina Iman, di rumah-rumah keluarga Katolik, dan di hati anak-anak yang dibentuk dalam kasih Kristus. Komuni Pertama bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang dalam iman.

Maka, mari kita dukung anak-anak kita. Mari kita hadir sebagai orangtua, pembina, dan komunitas yang membimbing mereka untuk terus bertumbuh dalam kasih Allah. Sebab dalam setiap anak yang menerima Komuni Kudus, kita melihat Gereja yang hidup, yang bertumbuh, dan yang terus mewartakan kasih Allah kepada dunia.

#komunipertamastpaulusdepok #tubuhdandarahkristus #binaimananak #kerasulanawam #gerejayanghidup #imananakmuda #mewartakankasihallah #katolikaktif #stpaulusdepok #ekaristiadalahyesus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin