
Oleh: Darius Leka, S.H., M.H. – Advokat, Aktivis Rasul Awam Gereja Katolik sekaligus Koordinator KOMSOS Paroki Santo Paulus Depok periode 2010-2013
KOTA DEPOK, 26 Juni 2011 — Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus
tahun ini menjadi momen istimewa bagi 92 anak Paroki St. Paulus Depok. Dalam
Perayaan Ekaristi pukul 08.00 WIB yang dipimpin secara konselebrasi oleh Pastor
Tauchen Hotlan Girsang, OFM, Pastor Stanislaus Agus Haryanto, OFM, dan Diakon
Agustinus Anton Widarto, OFM, anak-anak ini untuk pertama kalinya menyambut
Tubuh dan Darah Kristus—sebuah tonggak penting dalam perjalanan iman mereka.
Di tengah suasana liturgi yang khidmat dan penuh sukacita,
koor Saint Paul Choir Children (SPCC) mengiringi misa dengan lantunan lagu-lagu
rohani yang menyentuh hati. Namun yang paling menyentuh adalah momen ketika
anak-anak, dengan wajah bersinar dan langkah penuh harap, maju satu per satu
untuk menerima Komuni Kudus.
Dalam homilinya, Pastor Tauchen mengajak anak-anak dan umat
untuk merenungkan misteri Ekaristi. “Roti dan anggur setelah konsekrasi berubah
menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Apakah kamu percaya?” tanyanya kepada para
calon komuni pertama. Ia menegaskan bahwa hanya dengan mata iman kita dapat
melihat kehadiran Yesus yang sejati dalam Ekaristi.
“Kalau kita memandangnya dengan pikiran manusia, itu hanya
roti dan anggur. Tapi dengan iman, kita tahu: itu adalah Yesus sendiri,
santapan jiwa kita,” tegasnya. Ia juga mengingatkan bahwa menerima Komuni bukan
sekadar ritual, tetapi perjumpaan pribadi dengan Kristus yang mengubah hidup.
Ibu Maria Melania Kusmawati, Koordinator Bina Iman Anak,
menjelaskan bahwa anak-anak telah dibina selama satu tahun penuh sebelum
menerima Komuni Pertama. “Dari semua anak yang dibimbing, hanya satu yang tidak
bisa ikut karena pindah ke Solo,” ujarnya. Ia juga mengakui bahwa kendala utama
selama proses pembinaan lebih bersifat administratif, seperti keterlambatan
pengumpulan formulir.
Namun di balik tantangan itu, ada dedikasi dan cinta yang
besar dari para pembina. Mereka bukan hanya mengajarkan teori, tetapi juga
menanamkan nilai-nilai iman, doa, dan kasih kepada anak-anak. Sebab pembinaan
iman bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi pembentukan hati.
Bapak Frans Datang, salah satu orangtua, menyampaikan
harapannya agar putranya menjadi anak yang baik dan aktif dalam kegiatan
gereja. “Mudah-mudahan dia bisa ikut koor seperti SPCC, atau kegiatan lainnya.
Pokoknya jadi anak yang baik,” ujarnya penuh harap.
Rosi, siswi kelas IV dari Lingkungan Santa Elisabeth,
mengaku sangat bahagia bisa menerima Komuni Pertama. “Saya ingin jadi
misdinar,” katanya polos namun penuh semangat. Sebuah harapan kecil yang
mencerminkan kerinduan besar untuk melayani Tuhan.
Sebagai seorang advokat dan aktivis kerasulan awam, saya
percaya bahwa masa depan Gereja tidak dibangun di altar saja, tetapi juga di
ruang-ruang kelas Bina Iman, di rumah-rumah keluarga Katolik, dan di hati
anak-anak yang dibentuk dalam kasih Kristus. Komuni Pertama bukanlah akhir,
melainkan awal dari perjalanan panjang dalam iman.
Maka, mari kita dukung anak-anak kita. Mari kita hadir
sebagai orangtua, pembina, dan komunitas yang membimbing mereka untuk terus
bertumbuh dalam kasih Allah. Sebab dalam setiap anak yang menerima Komuni
Kudus, kita melihat Gereja yang hidup, yang bertumbuh, dan yang terus
mewartakan kasih Allah kepada dunia.
#komunipertamastpaulusdepok
#tubuhdandarahkristus #binaimananak #kerasulanawam #gerejayanghidup #imananakmuda
#mewartakankasihallah #katolikaktif #stpaulusdepok #ekaristiadalahyesus
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin