
Oleh: Darius Leka, S.H., M.H. – Advokat, Aktivis Rasul Awam Gereja Katolik sekaligus Koordinator KOMSOS Paroki Santo Paulus Depok periode 2010-2013
KOTA DEPOK - “Mari kita kembangkan iman dan perkokoh
solidaritas umat melalui inkulturasi keanekaragaman budaya.” Tema ini bukan
sekadar slogan liturgis, melainkan sebuah panggilan profetik yang menggema
dalam perayaan syukur 51 tahun Paroki Santo Paulus Depok. Di tengah dunia yang
semakin terfragmentasi oleh identitas dan perbedaan, Gereja justru diundang
untuk menjadi ruang perjumpaan—tempat di mana iman bertumbuh dalam keberagaman,
dan kasih menjadi bahasa yang menyatukan.
Minggu, 3 Juli 2011 menjadi puncak perayaan Pesta Nama
Pelindung Paroki. Ribuan umat memadati gereja dalam Perayaan Ekaristi yang
dipimpin oleh Bapa Uskup Bogor, Mgr. Michael Cosmas Angkur, OFM, didampingi
para imam dari berbagai ordo dan wilayah. Yang istimewa, liturgi hari itu
dibalut dengan nuansa budaya Sunda: dari lagu-lagu hingga tarian persembahan.
Sebuah simbol bahwa Gereja Katolik bukan hanya universal, tetapi juga
kontekstual—mampu meresapi dan mengangkat nilai-nilai lokal sebagai bagian dari
kekayaan iman.
Sebagai seorang advokat dan aktivis kerasulan awam, saya
melihat bahwa inkulturasi bukanlah kompromi terhadap ajaran, melainkan ekspresi
iman yang hidup. Ketika budaya lokal diberi ruang dalam liturgi, umat merasa
lebih dekat, lebih terlibat, dan lebih dimiliki oleh Gereja.
Dalam homilinya, Mgr. Angkur menegaskan kembali semangat
misioner Santo Paulus. “Celakalah aku jika tidak mewartakan Injil,” kutipnya.
Gereja, menurut beliau, harus menjadi Gereja yang misioner—yang tidak hanya
menunggu, tetapi pergi keluar, menjumpai, dan menyapa dunia.
Semangat ini menjadi sangat relevan di usia ke-51 paroki.
RP. Adrianus Sunarko, OFM, menyebut usia ini sebagai “usia rentan”—bukan dalam
arti fisik, tetapi dalam tantangan menjaga semangat awal. Namun ia menegaskan,
“Usia boleh rentan, tetapi semangat harus tetap menyala.”
Tahun 2011 ditetapkan Keuskupan Bogor sebagai Tahun Keluarga
dengan fokus pada kaum muda. Dalam semangat itu, Bapa Uskup melantik pengurus
Orang Muda Katolik (OMK) Paroki St. Paulus Depok periode 2011–2013. Beliau
menegaskan bahwa kaum muda bukan hanya harapan masa depan, tetapi juga
penggerak masa kini.
“Kaum muda adalah pembawa perubahan kehidupan menggereja,”
tegasnya. Mereka diharapkan menjadi saksi iman—baik dalam hidup berkeluarga
maupun dalam panggilan hidup membiara. Sebuah pesan yang kuat di tengah arus
zaman yang kerap menenggelamkan nilai-nilai spiritual.
RD Andreas Bramantyo, Pastor Deken Dekenat Utara, menyebut
Paroki St. Paulus sebagai paroki tertua di wilayahnya. Sebuah kehormatan,
sekaligus tanggung jawab. “Proficiat,” ucapnya, “semoga semakin maju.”
Sementara Pastor Paroki, RP. Tauchen Hotlan Girsang, OFM,
mengajak umat untuk terus membangun rasa kebersamaan. Sebab Gereja bukanlah
gedung, melainkan komunitas. Dan komunitas yang hidup adalah komunitas yang
saling menerima, saling melayani, dan saling menguatkan.
Perayaan 51 tahun ini bukan hanya nostalgia, tetapi
momentum. Momentum untuk menegaskan kembali identitas kita sebagai Gereja yang
hidup, yang misioner, dan yang terbuka terhadap keanekaragaman. Sebab hanya
dengan hati yang terbuka dan iman yang bertumbuh, kita bisa menjadi saksi kasih
Allah di tengah dunia.
Mari kita terus kembangkan iman. Mari kita perkokoh
solidaritas. Dan mari kita rayakan keanekaragaman sebagai anugerah, bukan
ancaman. Sebab di sanalah Gereja menemukan wajah Kristus yang sesungguhnya.
#51tahunstpaulusdepok
#inkulturasiiman #gerejayangmisioner #omkbergerak #kerasulanawam
#gerejayanghidup #mewartakankasihallah #katolikaktif #solidaritasumat
#stpaulusdepok
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin