Jumat, 08 Juli 2011

Inkulturasi Iman, Misi Kasih;51 Tahun Paroki St. Paulus Depok Menjadi Gereja yang Hidup

Oleh: Darius Leka, S.H., M.H. – Advokat, Aktivis Rasul Awam Gereja Katolik sekaligus Koordinator KOMSOS Paroki Santo Paulus Depok periode 2010-2013

KOTA DEPOK
- “Mari kita kembangkan iman dan perkokoh solidaritas umat melalui inkulturasi keanekaragaman budaya.” Tema ini bukan sekadar slogan liturgis, melainkan sebuah panggilan profetik yang menggema dalam perayaan syukur 51 tahun Paroki Santo Paulus Depok. Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi oleh identitas dan perbedaan, Gereja justru diundang untuk menjadi ruang perjumpaan—tempat di mana iman bertumbuh dalam keberagaman, dan kasih menjadi bahasa yang menyatukan.

Minggu, 3 Juli 2011 menjadi puncak perayaan Pesta Nama Pelindung Paroki. Ribuan umat memadati gereja dalam Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Bapa Uskup Bogor, Mgr. Michael Cosmas Angkur, OFM, didampingi para imam dari berbagai ordo dan wilayah. Yang istimewa, liturgi hari itu dibalut dengan nuansa budaya Sunda: dari lagu-lagu hingga tarian persembahan. Sebuah simbol bahwa Gereja Katolik bukan hanya universal, tetapi juga kontekstual—mampu meresapi dan mengangkat nilai-nilai lokal sebagai bagian dari kekayaan iman.

Sebagai seorang advokat dan aktivis kerasulan awam, saya melihat bahwa inkulturasi bukanlah kompromi terhadap ajaran, melainkan ekspresi iman yang hidup. Ketika budaya lokal diberi ruang dalam liturgi, umat merasa lebih dekat, lebih terlibat, dan lebih dimiliki oleh Gereja.

Dalam homilinya, Mgr. Angkur menegaskan kembali semangat misioner Santo Paulus. “Celakalah aku jika tidak mewartakan Injil,” kutipnya. Gereja, menurut beliau, harus menjadi Gereja yang misioner—yang tidak hanya menunggu, tetapi pergi keluar, menjumpai, dan menyapa dunia.

Semangat ini menjadi sangat relevan di usia ke-51 paroki. RP. Adrianus Sunarko, OFM, menyebut usia ini sebagai “usia rentan”—bukan dalam arti fisik, tetapi dalam tantangan menjaga semangat awal. Namun ia menegaskan, “Usia boleh rentan, tetapi semangat harus tetap menyala.”

Tahun 2011 ditetapkan Keuskupan Bogor sebagai Tahun Keluarga dengan fokus pada kaum muda. Dalam semangat itu, Bapa Uskup melantik pengurus Orang Muda Katolik (OMK) Paroki St. Paulus Depok periode 2011–2013. Beliau menegaskan bahwa kaum muda bukan hanya harapan masa depan, tetapi juga penggerak masa kini.

“Kaum muda adalah pembawa perubahan kehidupan menggereja,” tegasnya. Mereka diharapkan menjadi saksi iman—baik dalam hidup berkeluarga maupun dalam panggilan hidup membiara. Sebuah pesan yang kuat di tengah arus zaman yang kerap menenggelamkan nilai-nilai spiritual.

RD Andreas Bramantyo, Pastor Deken Dekenat Utara, menyebut Paroki St. Paulus sebagai paroki tertua di wilayahnya. Sebuah kehormatan, sekaligus tanggung jawab. “Proficiat,” ucapnya, “semoga semakin maju.”

Sementara Pastor Paroki, RP. Tauchen Hotlan Girsang, OFM, mengajak umat untuk terus membangun rasa kebersamaan. Sebab Gereja bukanlah gedung, melainkan komunitas. Dan komunitas yang hidup adalah komunitas yang saling menerima, saling melayani, dan saling menguatkan.

Perayaan 51 tahun ini bukan hanya nostalgia, tetapi momentum. Momentum untuk menegaskan kembali identitas kita sebagai Gereja yang hidup, yang misioner, dan yang terbuka terhadap keanekaragaman. Sebab hanya dengan hati yang terbuka dan iman yang bertumbuh, kita bisa menjadi saksi kasih Allah di tengah dunia.

Mari kita terus kembangkan iman. Mari kita perkokoh solidaritas. Dan mari kita rayakan keanekaragaman sebagai anugerah, bukan ancaman. Sebab di sanalah Gereja menemukan wajah Kristus yang sesungguhnya.

 

#51tahunstpaulusdepok #inkulturasiiman #gerejayangmisioner #omkbergerak #kerasulanawam #gerejayanghidup #mewartakankasihallah #katolikaktif #solidaritasumat #stpaulusdepok

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin