Jumat, 08 Juli 2011

100% Katolik, 100% Indonesia; Komkep KWI dan Komitmen Mewartakan 4 Pilar Kebangsaan

Oleh: Darius Leka, S.H., M.H. – Advokat, Aktivis Rasul Awam Gereja Katolik sekaligus Koordinator KOMSOS Paroki Santo Paulus Depok periode 2010-2013


JAKARTA, 28 Juni 2011 — Di tengah tantangan kebangsaan yang kian kompleks, ketika semangat persatuan diuji oleh polarisasi dan ideologi sempit, sekelompok anak muda Katolik hadir membawa harapan. Mereka adalah para pengurus Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia (Komkep KWI), yang dengan penuh kesadaran menyatakan dukungan total terhadap sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan: Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.

Dalam audiensi resmi bersama pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI di Gedung Nusantara III, Jakarta, delegasi Komkep KWI yang dipimpin oleh Pastor Yohanes Dwi Harsanto, Pr, menyampaikan komitmen mereka untuk menjadi bagian dari gerakan nasional membumikan nilai-nilai dasar kehidupan berbangsa. “Kami tidak ingin menjadi generasi yang buta terhadap 4 Pilar,” tegasnya.

Sebagai seorang advokat dan aktivis kerasulan awam, saya melihat langkah Komkep KWI ini bukan sekadar simbolik. Ini adalah bentuk nyata dari semangat “100% Katolik, 100% Indonesia” yang diwariskan oleh Mgr. Albertus Soegijapranata. Dalam konteks kekinian, menjadi Katolik tidak berarti menjauh dari urusan kebangsaan. Justru sebaliknya, iman Katolik mendorong kita untuk mencintai tanah air sebagai bagian dari panggilan hidup.

Pastor Harsanto menyoroti pentingnya pendidikan politik bagi kaum muda Katolik. “Setelah era reformasi, pendidikan formal di sekolah-sekolah sudah bergeser. Maka, penyadaran hidup berbangsa dan bernegara menjadi sangat penting,” ujarnya. Dengan 60% populasi Indonesia adalah generasi muda, mereka adalah kekuatan strategis untuk menjaga keutuhan bangsa.

Pastor Guido Suprapto, yang turut hadir dalam audiensi, menegaskan bahwa bagi Gereja Katolik Indonesia, 4 Pilar adalah sesuatu yang final. “Komkep KWI tidak perlu diragukan lagi dalam hal ini,” katanya. Ia mengingatkan bahwa sejak Sidang KWI tahun 2005, sudah ada rekomendasi agar Gereja aktif memperbaiki kondisi bangsa melalui penguatan 4 Pilar.

Komkep KWI bahkan memiliki komisi khusus untuk menumbuhkan cinta tanah air di kalangan OMK. Ini bukan gerakan sesaat, tetapi bagian dari spiritualitas sosial Gereja yang berpihak pada keutuhan bangsa dan kesejahteraan bersama.

Kehadiran Komkep KWI disambut hangat oleh Ketua MPR, Taufiq Kiemas, dan para wakil ketua. “Dengan anak-anak muda, kita bisa membumikan Pancasila,” ujar Taufiq. Ia menegaskan bahwa sosialisasi 4 Pilar tidak akan berhasil tanpa dukungan generasi muda. Karena itu, ia menyambut baik kerja sama dengan Komkep KWI.

Hajriyanto Y. Thohari, Wakil Ketua MPR, juga menekankan pentingnya peran organisasi keagamaan dalam menjaga ideologi bangsa. “Kami sangat membuka peluang kerja sama dengan Komkep KWI,” katanya. Ia menyebut bahwa MPR memiliki banyak program sosialisasi 4 Pilar yang bisa disinergikan dengan gerakan kaum muda Katolik.

Langkah Komkep KWI ini adalah contoh konkret bagaimana kerasulan awam tidak hanya bergerak di altar dan ruang doa, tetapi juga di ruang publik dan kebijakan. Menjadi Katolik berarti menjadi warga negara yang bertanggung jawab. Dan menjadi muda berarti menjadi penggerak perubahan, bukan penonton sejarah.

Mari kita dukung gerakan ini. Mari kita tanamkan kembali nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika dalam keluarga, komunitas, dan Gereja. Sebab hanya dengan fondasi yang kokoh, bangsa ini akan tetap berdiri teguh di tengah badai zaman.

 

#komkepkwi #4pilarkebangsaan #omkindonesia #100persenkatolik100persenindonesia #kerasulanawam #pancasilafinal #gerejayangmendidik #mewartakankasihallah #katolikaktif #sinergigerejadannegara

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin