
Oleh: Darius Leka, S.H., M.H. – Advokat, Aktivis Rasul Awam Gereja Katolik sekaligus Koordinator KOMSOS Paroki Santo Paulus Depok periode 2010-2013
Dalam audiensi resmi bersama pimpinan Majelis Permusyawaratan
Rakyat (MPR) RI di Gedung Nusantara III, Jakarta, delegasi Komkep KWI yang
dipimpin oleh Pastor Yohanes Dwi Harsanto, Pr, menyampaikan komitmen mereka
untuk menjadi bagian dari gerakan nasional membumikan nilai-nilai dasar
kehidupan berbangsa. “Kami tidak ingin menjadi generasi yang buta terhadap 4
Pilar,” tegasnya.
Sebagai seorang advokat dan aktivis kerasulan awam, saya
melihat langkah Komkep KWI ini bukan sekadar simbolik. Ini adalah bentuk nyata
dari semangat “100% Katolik, 100% Indonesia” yang diwariskan oleh Mgr. Albertus
Soegijapranata. Dalam konteks kekinian, menjadi Katolik tidak berarti menjauh
dari urusan kebangsaan. Justru sebaliknya, iman Katolik mendorong kita untuk
mencintai tanah air sebagai bagian dari panggilan hidup.
Pastor Harsanto menyoroti pentingnya pendidikan politik bagi
kaum muda Katolik. “Setelah era reformasi, pendidikan formal di sekolah-sekolah
sudah bergeser. Maka, penyadaran hidup berbangsa dan bernegara menjadi sangat
penting,” ujarnya. Dengan 60% populasi Indonesia adalah generasi muda, mereka
adalah kekuatan strategis untuk menjaga keutuhan bangsa.
Pastor Guido Suprapto, yang turut hadir dalam audiensi,
menegaskan bahwa bagi Gereja Katolik Indonesia, 4 Pilar adalah sesuatu yang
final. “Komkep KWI tidak perlu diragukan lagi dalam hal ini,” katanya. Ia
mengingatkan bahwa sejak Sidang KWI tahun 2005, sudah ada rekomendasi agar
Gereja aktif memperbaiki kondisi bangsa melalui penguatan 4 Pilar.
Komkep KWI bahkan memiliki komisi khusus untuk menumbuhkan
cinta tanah air di kalangan OMK. Ini bukan gerakan sesaat, tetapi bagian dari
spiritualitas sosial Gereja yang berpihak pada keutuhan bangsa dan
kesejahteraan bersama.
Kehadiran Komkep KWI disambut hangat oleh Ketua MPR, Taufiq
Kiemas, dan para wakil ketua. “Dengan anak-anak muda, kita bisa membumikan
Pancasila,” ujar Taufiq. Ia menegaskan bahwa sosialisasi 4 Pilar tidak akan
berhasil tanpa dukungan generasi muda. Karena itu, ia menyambut baik kerja sama
dengan Komkep KWI.
Hajriyanto Y. Thohari, Wakil Ketua MPR, juga menekankan
pentingnya peran organisasi keagamaan dalam menjaga ideologi bangsa. “Kami
sangat membuka peluang kerja sama dengan Komkep KWI,” katanya. Ia menyebut
bahwa MPR memiliki banyak program sosialisasi 4 Pilar yang bisa disinergikan
dengan gerakan kaum muda Katolik.
Langkah Komkep KWI ini adalah contoh konkret bagaimana
kerasulan awam tidak hanya bergerak di altar dan ruang doa, tetapi juga di
ruang publik dan kebijakan. Menjadi Katolik berarti menjadi warga negara yang
bertanggung jawab. Dan menjadi muda berarti menjadi penggerak perubahan, bukan
penonton sejarah.
Mari kita dukung gerakan ini. Mari kita tanamkan kembali
nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika dalam keluarga,
komunitas, dan Gereja. Sebab hanya dengan fondasi yang kokoh, bangsa ini akan
tetap berdiri teguh di tengah badai zaman.
#komkepkwi #4pilarkebangsaan
#omkindonesia #100persenkatolik100persenindonesia #kerasulanawam
#pancasilafinal #gerejayangmendidik #mewartakankasihallah #katolikaktif
#sinergigerejadannegara
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin