![]() |
Beberapa waktu lalu, saya menjumpai seorang pengemis tua di
trotoar menuju Gereja Katedral Bogor. Ia mengemis dengan cara yang tidak biasa:
mulutnya komat-kamit melafalkan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Mungkin sebagian
orang akan mencibir atau mengabaikannya. Namun, bagi saudara-saudara Muslim,
suara itu bisa menjadi pengingat spiritual yang menyentuh hati.
Pengemis itu, dalam keterbatasannya, tetap menjadi suara
yang menggemakan firman. Ia tidak menunggu panggung besar atau pengakuan. Ia
bersaksi dari trotoar. Seperti Yohanes Pembaptis, ia menjadi suara di padang
gurun kehidupan kota yang sibuk dan sering kali abai.
Yohanes adalah utusan Allah yang mempersiapkan jalan bagi
Kristus. Ia tidak menunggu kenyamanan atau pengakuan. Ia pergi ke padang gurun,
tempat sunyi dan keras, untuk menyampaikan warta keselamatan. Dari figur
Yohanes, kita belajar dua hal penting tentang hidup sebagai utusan:
1. Pewarta yang Proaktif
Yohanes tidak menunggu. Ia tahu tugasnya dan segera
bertindak. Ia tidak menanti kenyamanan atau pengakuan. Ia bergerak, berseru,
dan membaptis. Ini adalah panggilan bagi kita semua: menjadi pewarta yang
aktif, bukan penonton pasif.
Sebagai kerasulan awam, kita dipanggil untuk turun tangan
dalam karya keselamatan Allah. Dalam bidang sosial, hukum, ekonomi, dan kemasyarakatan,
kita harus menjadi suara yang menyuarakan keadilan, kebenaran, dan kasih. Kita
tidak bisa hanya menunggu orang lain bertindak. Kita adalah bagian dari tubuh
Kristus yang hidup.
2. Pertobatan yang Otentik
Warta Yohanes adalah warta pertobatan. Namun pertobatan yang
ia maksud bukan hanya pengakuan dosa, melainkan perubahan hati yang nyata.
Sebagai utusan, kita harus terlebih dahulu mengalami pertobatan pribadi.
Pewartaan yang tidak lahir dari hati yang bertobat akan kehilangan daya.
Pertobatan dalam tindakan berarti hidup yang mencerminkan
nilai-nilai Injil: kejujuran, kerendahan hati, pelayanan, dan kasih. Dunia
tidak hanya mendengar kata-kata kita, tetapi melihat cara hidup kita. Maka,
pewartaan kita harus dimulai dari dalam.
Kita semua dipanggil untuk menjadi Yohanes-Yohanes baru di
zaman ini. Kita adalah suara yang berseru di padang gurun dunia modern: dunia
yang sering kali bising oleh egoisme, ketidakadilan, dan ketidakpedulian. Kita
dipanggil untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan dalam hati manusia, dalam
struktur sosial, dan dalam kehidupan bersama.
Mari kita menjadi pewarta yang aktif dan pelaku pertobatan
sejati. Mari kita menjadi suara yang menggemakan kasih dan cinta Allah kepada
dunia.
Oleh: Darius Leka, S.H., M.H. – Advokat, Aktivis Rasul Awam Gereja Katolik sekaligus Koordinator KOMSOS Paroki Santo Paulus Depok periode 2010-2013
#yohanespembaptis #kelahiranyohanes #kerasulanawam
#pewartakabarbaik #pertobatanhati #suaradipadanggurun #imandalamtindakan
#cintaallahuntukdunia #gerejahidup #misikristiani #shdariusleka #reels #foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin