![]() |
Gereja Katolik tidak memandang pangan hanya sebagai
kebutuhan jasmani, tetapi sebagai bagian dari spiritualitas kehidupan.
Ketahanan dan kecukupan pangan adalah bentuk nyata dari penghargaan terhadap
kehidupan itu sendiri. Maka, Hari Pangan Sedunia bukan hanya soal makan, tetapi
tentang bagaimana kita membangun kesadaran iman yang membentuk perilaku manusia
untuk menghargai ciptaan dan sesama.
Keuskupan Bogor, dalam menyambut HPS 2012, mengangkat tema
“Membangun Kecukupan Pangan Bagi Semua – Gereja Sebagai Komunitas Berbagi
Pangan.” Tema ini mengajak Gereja untuk menjadi komunitas yang hidup dalam
solidaritas, subsidiaritas, dan kemandirian—tiga prinsip sosial Gereja yang
menjadi fondasi gerakan berbagi pangan.
Di Paroki St. Paulus-Depok, semangat ini dihidupi secara
konkret. Sejak pagi, setelah misa pukul 06.00 WIB, halaman gereja berubah
menjadi pasar kecil yang meriah. Aneka makanan tradisional disiapkan oleh
Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) dan dikoordinir oleh Seksi PSE. Ini
bukan sekadar pesta kuliner, tetapi bentuk nyata dari cinta kasih yang
dibagikan melalui pangan.
Dalam homilinya, Pastor Tauchen Hotlan Girsang, OFM,
menyampaikan pesan yang menggugah: “Satu biji beras membutuhkan enam bulan
kerja keras petani. Tapi dalam sekejap, kita habiskan tanpa berpikir. Bagaimana
jika para petani berhenti menanam?” Ia mengajak umat untuk menghormati pangan
dan mendoakan para petani agar tetap setia pada panggilannya.
Pastor Urbanus Kopong Ratu, OFM, yang mendampingi misa,
menegaskan pentingnya pendidikan pangan yang berkeadilan. Ia menyoroti
kebiasaan anak-anak yang menyisakan makanan atau memilih-milih makanan sebagai
bentuk ketidakadilan terhadap mereka yang kelaparan.
Pendidikan pangan bukan hanya urusan dapur, tetapi bagian
dari kerasulan awam. Kita dipanggil untuk menanamkan nilai-nilai keadilan,
kesederhanaan, dan cinta kasih sejak dini. Dalam keluarga, sekolah, dan
komunitas, kita harus mengajarkan bahwa membuang makanan adalah bentuk
ketidakpedulian terhadap sesama.
Mba Nunik, salah satu umat yang diwawancarai Warta
Paulus-Depok, menyampaikan harapannya agar perayaan HPS tidak hanya berupa
makan bersama. “Bisa juga dengan memberi bantuan pangan kepada keluarga miskin,
atau seminar tentang pengolahan makanan sehat tradisional,” usulnya. Ini adalah
suara profetik dari umat yang peduli dan ingin Gereja lebih hadir dalam
kehidupan nyata.
Sebagai aktivis kerasulan awam, saya percaya bahwa meja
makan adalah altar kedua. Di sanalah kita belajar berbagi, bersyukur, dan
mencintai. Gereja yang hidup adalah Gereja yang mengenyangkan—bukan hanya
secara rohani, tetapi juga jasmani.
Hari Pangan Sedunia adalah panggilan untuk bertobat dari
gaya hidup konsumtif dan egois. Ini adalah undangan untuk membangun peradaban
kasih dari hal yang paling sederhana: sebutir nasi, sepotong singkong,
secangkir air.
Oleh: Darius Leka, S.H., M.H. – Advokat, Aktivis Rasul Awam Gereja Katolik sekaligus Koordinator KOMSOS Paroki Santo Paulus Depok periode 2010-2013
#haripangansedunia #gerejaberbagipangan #kerasulanawam
#imandalamtindakan #panganadil #cintaallahuntukdunia #solidaritaspangan
#pendidikanpangan #wkri #stpaulusdepok #shdariusleka #reels #foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin