Senin, 22 Oktober 2012

HARI PANGAN SEDUNIA; MARI KITA DOAKAN PARA PETANI


Mari kita hargai makanan, (suasana HPS 2012)
Bertepatan dengan hari lahirnya FAO (Food and Agriculture Organization) setiap tanggal 16 Oktober, dunia memperingati Hari Pangan Sedunia (World Food Day). Di Indonesi sejak tahun 1982 Konfrensi Wali Gereja Indonesia telah berpartisipasi aktif dalam setiap kegiatan Hari Pangan Sedunia baik ditingkat nasional maupun ditingkat Keuskupan.

Tujuannya jelas yaitu agar Gereja Katolik turut serta mengemban amanat untuk membangun kesadaran iman yang membentuk prilaku manusia untuk menghargai kehidupan. Cara yang ditempuh adalah dengan mengupaya ketahanan dan kecukupan makanan sehat. Tugas dan amanat dari Hari Pangan Sedunia, yaitu adanya pola baru dalam mengembangakan HPS sebagai sebuah gerakan kehidupan.

Keuskupan Bogor dalam menyambut HPS 2012 mengangkat tema Membangun Kecukupan Pangan Bagi Semua “Gereja Sebagai Komunitas Berbagi Pangan”. Harapannya agar Gereja sebagai komunitas berbagi pangan bisa dikembangkan di kelompok-kelompok basis, lingkungan, wilayah, stasi dan paroki. Dalam konteks kategorial, Gereja sebagai komunitas berbagi pangan dapat juga dikembangkan di sekolah-sekolah, komunitas-komunitas religius, dan organisasi kemasyarakatan. Solidaritas, subsidiaritas dan kemandirian menjadi semangat dasar yang harus ada dan dihidupi kalau Gereja mengarahkannya sebagai komunitas berbagi pangan.

Hormat dan Hargailah Pangan
Dengan tujuan dan semangat yang sama di paroki kita dalam merayakan Hari Pangan Sedunia telah menjadi kegiatan rutin. Seperti dalam kegiatan HPS tahun 2012, sejak pagi sesudah misa pukul 06.00 WIB mulai mempersiapkan menu-menu makanan tradisional di halaman gereja. Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) St. Paulus-Depok menjadi ujung tombak dan dikoordinir oleh Seksi PSE.

“Satu biji beras para petani harus menunggunya hingga 6 bulan, ketika jadi nasi dalam waktu sekejap habis. Bagaimana jadinya jika para petani berdemo untuk tidak menanam padi serta tidak memproduksi makanan tradisional lainya seperti ubi, talas, singkong, dan lain-lain? Tentu kita yang tinggal di kota besar seperti Jakarta akan kerepotan. Untuk itu di Hari Pangan Sedunia saya mengajak untuk hormat dan menghargai pangan”. Selain itu mari kita doakan para petani untuk tetap setia pada profesinya. Demikian kata Pastor Tauchen Hotlan Girsang,OFM dalam misa Hari Pangan Sedunia yang didampingi Pastor Urbanus Kopong Ratu, OFM di Gereja Katolik St. Paulus-Depok, Mingggu (14/10/2012).

Pastor Tauchen mencotohkan sekarang ini banyak kafe, rumah makan, dan lain sebagainya yang menyajikan makanan tradisonal. Pada hal makanan tradisional sudah ada sejak jaman nenek moyang kita. Pertanyaannya apanya yang beda? Jawabannya karena kita kurang peduli dan tidak mengetahui lebih jauh bagaiman proses yang dilakukan oleh para petani. Yang kita tahu adalah yang sudah jadi. Kebiasaan dan cara makan anak-anak kerap kali kurang menaruh rasa hormat dan menghargai pangan. Kebiasaan menyisakan makanan (membuang-buang makanan) ‘atau` memilih-milih makanan, dalam arti luas bisa dikatakan merebut hak pangan orang lain yang kelaparan. Oleh karena itu pendidikan pangan yang berkeadilan dan bercinta kasih perlu untuk diajarkan kepada anak-anak jaman sekarang.

Salah satu umat, Mba Nunik yang sempat diwawancari Warta Paulus-Depok, menuturkan: “Suasana HPS tahun 2012, kurang semeriah tahun lalu. Kalau bisa paroki mengadakan kegiatan ini, tidak berupa makan bersama saja, tetapi bisa lewat bentuk lain. Misalnya memberikan bantuan pangan kepada keluarga miskin, penyuluhan atau seminar tentang pengolahan makanan sehat tradisional. Hal itu sangat cocok dengan situasi jaman sekarang yang semua makanan yang kita makan ‘serba tidak sehat atau dalam tanda petik makanan sudah diracun’ terlebih dahulu”. (Darius AR-Koordinator Sie Komsos)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin