![]() |
Dasar Kitab Suci untuk Sakramen ini sangat jelas. Dalam
Kisah Para Rasul 8:16–17 dan 19:5–6, kita membaca bagaimana para rasul menumpangkan
tangan dan Roh Kudus turun atas mereka yang telah dibaptis. Dalam tradisi
Gereja, penumpangan tangan ini dilengkapi dengan pengurapan minyak Krisma—tanda
bahwa seseorang telah dikuduskan, dikhususkan, dan diberi kuasa untuk
menjalankan tugas perutusannya.
Minggu, 7 Oktober 2012, menjadi hari penuh makna bagi 86
umat Paroki St. Paulus-Depok. Mereka terdiri dari 31 umat tingkat SMP, 30 umat
tingkat SMA, dan 25 umat dewasa. Dalam suasana liturgi yang khidmat, Bapak
Uskup Bogor, Mgr. Michael Cosmas Angkur, OFM, memimpin perayaan Sakramen
Krisma, didampingi oleh Pastor Tauchen Hotlan Girsang, OFM dan Pastor
Stanislaus Agus Haryanto, OFM.
Dengan penumpangan tangan dan pengurapan minyak Krisma di
dahi, para peserta menerima meterai Roh Kudus—tanda bahwa mereka kini telah
dewasa dalam iman dan siap untuk menjadi saksi Kristus.
Namun, seperti ditegaskan oleh Pastor Tauchen, Roh Kudus
tidak akan berkarya jika kita sendiri tidak menginginkannya. Sakramen Krisma
bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan baru dalam iman. Bapa Uskup
hanya dapat memberikan meterai, tetapi keputusan untuk hidup dalam semangat Roh
Kudus ada di tangan kita masing-masing.
Kita dipanggil untuk menjadi saksi Kristus—bukan hanya dalam
kata, tetapi dalam tindakan nyata. Roh Kudus telah menyalakan api cinta kasih
dalam hati kita. Ia mempersatukan, membimbing, dan menguatkan kita untuk hidup
dalam sukacita Kerajaan Allah.
Sebagai aktivis kerasulan awam, saya percaya bahwa setiap
penerima Krisma memiliki tanggung jawab untuk mewartakan iman dalam kehidupan
sehari-hari. Dalam bidang sosial, ekonomi, hukum, dan kemasyarakatan, kita
dipanggil untuk menjadi terang dan garam dunia. Kita adalah bagian dari Gereja
yang hidup, yang terus bergerak dan bersaksi.
Kita tidak bisa hanya menerima Roh Kudus sebagai simbol.
Kita harus menghidupinya dalam pelayanan, dalam keberanian untuk bersuara, dan
dalam kesetiaan untuk mencintai. Seperti para rasul yang diutus, kita pun
diutus—untuk menjadi saksi yang hidup, yang berakar dalam iman, harapan, dan
cinta kasih.
Oleh: Darius Leka, S.H., M.H. – Advokat, Aktivis Rasul Awam Gereja Katolik sekaligus Koordinator KOMSOS Paroki Santo Paulus Depok periode 2010-2013
#sakramenkrisma #rohkudus #saksikristus #kerasulanawam
#gerejahidup #imandalamtindakan #cintaallahuntukdunia #stpaulusdepok
#penguataniman #karuniarohkudus #shdariusleka #reels #foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin