Pagi itu, pelataran Gereja St. Paulus dipenuhi ribuan umat dari berbagai
usia. Mereka berkumpul bukan hanya untuk merayakan Ekaristi, tetapi juga untuk
menyambut gunungan hasil bumi—buah, sayur, dan umbi-umbian—yang disusun oleh
Wilayah St. Christophorus. Gunungan ini bukan sekadar tradisi, melainkan simbol
teologis: bahwa bumi adalah rahim kehidupan yang harus dijaga, dan pangan
adalah hak dasar yang tak boleh dikomersialisasi secara serakah.
Pastor Paroki, Rm. Tauchen Hotlan Girsang, OFM, membuka acara dengan
perayaan Ekaristi yang sarat makna ekologis. Altar gereja dihiasi pisang,
kelapa, tomat, singkong, dan jagung, seolah mengingatkan umat bahwa liturgi
bukan hanya soal roti dan anggur, tetapi juga soal tanah dan petani.
“Mari kita doakan para petani yang dengan setia menyediakan hasil bumi. Kita
akan kesulitan jika mereka berdemo,” ujar Pastor Tauchen dalam homilinya yang
menyentuh.
Perayaan Ekaristi pagi itu diiringi koor dari siswa-siswi Desa Putra,
menambah nuansa inkulturatif yang kuat. Musik, doa, dan hasil bumi berpadu
dalam satu harmoni spiritual yang mengangkat kesadaran umat akan pentingnya
gaya hidup sehat dan berkelanjutan. Gereja tidak hanya berbicara tentang surga,
tetapi juga tentang tanah yang diinjak dan pangan yang dimakan.
Setelah misa, umat diajak menikmati makanan dan minuman tradisional yang
disediakan oleh 18 wilayah paroki. Ini bukan sekadar pesta, melainkan bentuk
nyata dari solidaritas sosial. Sie PSE (Pengembangan Sosial Ekonomi) dan Wanita
Katolik Republik Indonesia (WKRI) cabang St. Paulus menjadi motor penggerak
kegiatan ini, membuktikan bahwa kerasulan awam bukan sekadar wacana, tetapi
aksi nyata yang menyentuh perut dan hati masyarakat.
Kegiatan ini juga menjadi ruang edukasi tentang pentingnya kedaulatan
pangan—sebuah konsep yang digaungkan Gereja Katolik dalam berbagai dokumen
sosialnya, termasuk dalam ensiklik “Laudato Si’” yang menekankan ekologi
integral dan keadilan sosial.
Sebagai seorang advokat dan aktivis kerasulan awam, saya melihat bahwa kegiatan
seperti ini adalah bentuk nyata dari evangelisasi sosial. Gereja tidak boleh
hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menjadi ruang perjuangan bagi keadilan
pangan, keberlanjutan lingkungan, dan martabat petani. Dalam konteks Indonesia,
di mana ketimpangan agraria masih menjadi luka terbuka, Gereja dipanggil untuk
menjadi suara kenabian yang menyuarakan keadilan.
Hari Pangan Sedunia bukan hanya seremoni tahunan, tetapi panggilan abadi
bagi umat Katolik untuk menjadi pelayan kasih di tengah dunia yang lapar—bukan
hanya lapar roti, tetapi juga lapar keadilan. Gereja St. Paulus Depok telah
menunjukkan bahwa iman yang hidup adalah iman yang memberi makan, bukan hanya
secara spiritual, tetapi juga secara jasmani.
Semoga semangat ini terus menyala, dan menjadi inspirasi bagi paroki-paroki
lain untuk menjadikan kerasulan awam sebagai jantung dari pewartaan kasih Allah
di dunia.
*) Ditulis oleh: Darius Leka, S.H., M.H. – Advokat, Aktivis Rasul Awam Gereja Katolik (Koordinator KOMSOS Paroki Santo Paulus Depok periode 2010-2013)
#haripangansedunia #kedaulatanpangan #kerasulanawam #gerejakatolik #wkri
#pse #gerejapedulipetani #laudatosi #imandanpangan #stpaulusdepok
#evangelisasisosial #cintakasihallah #shdariusleka #reels #foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin