Senin, 03 Maret 2014

Magnificat Anima Mea Dominum; Tahbisan Persaudaraan dan Harapan Baru Keuskupan Bogor


BOGOR
- Sabtu pagi yang basah oleh hujan tak menyurutkan semangat ribuan umat Katolik dari 21 paroki di Keuskupan Bogor. Sejak pukul 06.30 WIB, mereka telah memadati Sentul International Convention Center (SICC), sebuah gedung megah berkapasitas 10.500 tempat duduk, untuk menyambut momen bersejarah: pentahbisan Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM sebagai Uskup Bogor yang baru.

Tepat pada Pesta Takhta Santo Petrus, 22 Februari 2014, Gereja Katolik di Bogor menyaksikan peristiwa iman yang sarat makna: sebuah tahbisan yang bukan hanya seremoni liturgis, tetapi juga simbol kelahiran kembali semangat persaudaraan, pelayanan, dan pewartaan kasih Allah di tengah masyarakat majemuk.

Pentahbisan ini dipimpin oleh Mgr. Michael Cosmas Angkur, OFM, Uskup Emeritus Keuskupan Bogor, didampingi oleh Mgr. Ignatius Suharyo (Uskup Agung Jakarta dan Ketua KWI) serta Mgr. Hubertus Leteng (Uskup Ruteng). Hadir pula 41 uskup dari seluruh Indonesia, 200 imam, serta tokoh-tokoh lintas agama dan pejabat negara, termasuk Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro dan Menteri Pariwisata Mari Elka Pangestu.

Kehadiran para ulama dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) menjadi penanda kuat bahwa Gereja Katolik di Bogor tidak berjalan sendiri, tetapi berdialog dan bersinergi dengan semua elemen bangsa. Inilah wajah kerasulan awam yang sejati: membangun jembatan, bukan tembok.

Dalam homilinya, Mgr. Suharyo menekankan bahwa pilihan tanggal tahbisan yang bertepatan dengan Pesta Takhta Santo Petrus adalah simbol niat Mgr. Paskalis untuk menjadi gembala yang meneladani Rasul Petrus—pemimpin yang rendah hati dan setia.

Mgr. Leo Laba Ladjar, OFM, Uskup Jayapura, mengingatkan bahwa kedekatan geografis Keuskupan Bogor dengan Jakarta akan membawa tantangan sosial, ekonomi, dan hukum yang kompleks. Namun, tantangan itu adalah ladang kerasulan awam yang subur—tempat di mana iman diuji dan diwujudkan dalam tindakan nyata.

Mgr. Angkur, yang telah menggembalakan Keuskupan Bogor selama dua dekade, menyerahkan tongkat estafet dengan penuh harapan. Ia mengajak Uskup baru untuk mengunjungi paroki-paroki di pinggiran seperti Cianjur, Sukabumi, Rangkasbitung, dan Serang. “Jangan takut, orang-orang di Keuskupan Bogor ini baik-baik,” ujarnya disambut tepuk tangan umat.

Pesan ini bukan sekadar ajakan pastoral, melainkan refleksi mendalam tentang spiritualitas inkarnatif: Gereja yang hadir di tengah umat, menyentuh luka sosial, dan menjadi sahabat bagi yang terpinggirkan.

Sebagai aktivis kerasulan awam, saya melihat momentum ini sebagai panggilan untuk memperkuat peran umat dalam bidang sosial, hukum, ekonomi, dan kemasyarakatan. Kerasulan awam bukan sekadar kegiatan rohani, tetapi keterlibatan aktif dalam membangun masyarakat yang adil, solider, dan penuh kasih.

Keuskupan Bogor telah merumuskan visinya sebagai “communio” dari komunitas basis yang beriman mendalam, solider, dialogal, dan misioner. Ini bukan slogan kosong, melainkan arah gerak konkret yang harus diwujudkan dalam pelayanan kepada kaum miskin, advokasi hukum bagi yang tertindas, dan pemberdayaan ekonomi umat.

Dalam sambutannya, Mgr. Paskalis menyebut tahbisannya sebagai “tahbisan persaudaraan.” Ia mengajak semua umat, termasuk yang berbeda keyakinan, untuk menjadi teman seperjalanan. “Mulai hari ini, terbukalah gerbang menuju kasih, solider, memasyarakat, dan merasul,” ujarnya dengan senyum khasnya.

Pernyataan ini adalah undangan bagi kita semua untuk membangun peradaban kasih. Di tengah dunia yang terpolarisasi, Gereja dipanggil menjadi tanda harapan dan alat rekonsiliasi. Dan kerasulan awam adalah ujung tombak dari misi ini.

Pentahbisan Mgr. Paskalis bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang. Dari altar SICC, kita diutus kembali ke jalanan kehidupan: ke pasar, kantor, pengadilan, sekolah, dan kampung-kampung. Di sanalah kita mewartakan Injil bukan hanya dengan kata, tetapi dengan karya.

Semoga semangat “Magnificat Anima Mea Dominum” menjadi nyala dalam setiap langkah kita. Sebab, hanya dengan memuliakan Tuhan dalam hidup sehari-hari, kita bisa menghadirkan Kerajaan-Nya di dunia.

 

*) Ditulis oleh: Darius Leka, S.H., M.H. – Advokat, Aktivis Rasul Awam Gereja Katolik (Koordinator KOMSOS Paroki Santo Paulus Depok periode 2010-2013)

#kerasulanawam #keuskupanbogor #tahbisanuskup #persaudaraansejati #gerejayanghadir #misikasih #magnificatanimameadominum #shdariusleka #reels #foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin