KOTA DEPOK - Minggu pagi, 16 Februari 2014, menjadi saksi bisu sebuah langkah awal yang penuh harapan di Paroki St. Paulus-Depok. Meski belum resmi dilantik, para pengurus baru Dewan Pastoral Paroki (DPP) dan Dewan Keuangan Paroki (DKP) periode 2013–2016 berkumpul dalam rapat pleno perdana. Di tengah transisi kepemimpinan dari RP. Tauchen Hotlan Girsang, OFM kepada RP. Yosef Paleba Tolok Tote, OFM, semangat pelayanan justru menyala lebih terang.
Rapat ini bukan sekadar rutinitas administratif. Ia adalah
denyut awal dari sebuah gerakan kerasulan awam yang terstruktur, terarah, dan menyentuh
denyut nadi umat. Dihadiri lebih dari 40 orang—mulai dari pastor paroki,
pengurus harian, koordinator seksi, ketua wilayah, hingga perwakilan Kelompok
Umat Basis (KUB) dan kategorial—rapat ini menjadi ruang dialog, refleksi, dan
penyatuan visi.
Dalam suasana yang hangat dan penuh kekeluargaan, Aline
Subianto membuka rapat dengan catatan positif: “Tingkat kehadiran cukup tinggi.
Dari 15 seksi, hanya satu yang belum hadir.” Sebuah sinyal bahwa umat siap
melangkah bersama, meski struktur formal belum sepenuhnya terbentuk.
Antonius Gatot Wibisono menegaskan tujuan utama pertemuan
ini: menyatukan pandangan dan konsep demi mendukung pelayanan pastoral yang
lebih baik. “Kita hadir bukan untuk sekadar duduk, tapi untuk bergerak
bersama,” ujarnya.
Pastor Antonius Sahat Manurung, OFM, menambahkan dengan nada
reflektif, “Dengan pastor baru, DPP baru, dan Uskup baru, mari kita evaluasi
dan bertumbuh bersama. Gereja yang hidup adalah gereja yang terus belajar.”
Sebagai seorang advokat dan aktivis kerasulan awam, saya
melihat rapat ini sebagai cermin dari dinamika Gereja yang terus bergerak.
Keterlibatan umat dalam DPP dan DKP bukan sekadar formalitas struktural,
melainkan panggilan untuk menjadi garam dan terang dunia—melalui pelayanan
sosial, ekonomi, hukum, dan kemasyarakatan.
Pastor Yosef Tote, OFM, menekankan pentingnya pembekalan
teknis bagi para pengurus sebelum pelantikan resmi pada 9 Maret 2014. “Pengurus
harus paham cara menyusun program kerja, membuat proposal, dan mengelola
kegiatan. Maka pembekalan pada 1–2 Maret nanti wajib diikuti,” tegasnya.
Ini bukan sekadar pelatihan administratif. Ini adalah proses
pemurnian niat dan penyelarasan langkah agar setiap program pastoral
benar-benar menjawab kebutuhan umat dan masyarakat sekitar.
Dalam konteks sosial yang semakin kompleks, Gereja tidak
bisa hanya berkutat di altar. Ia harus hadir di pasar, di ruang sidang, di
kampung-kampung, dan di hati mereka yang terpinggirkan. Kerasulan awam adalah
jembatan antara altar dan dunia. Dan rapat ini adalah fondasi dari jembatan
itu.
Kita tidak bisa menunggu semuanya sempurna. Justru dalam
ketidaksempurnaan, kita dipanggil untuk bertindak. Seperti para murid yang
dipanggil bukan karena mereka sempurna, tetapi karena mereka bersedia berjalan
bersama Sang Guru.
Rapat pleno perdana ini adalah awal dari perjalanan panjang.
Tapi seperti benih yang ditanam di tanah yang subur, ia akan tumbuh jika
dirawat dengan doa, kerja keras, dan semangat pelayanan.
Mari kita jadikan DPP dan DKP bukan sekadar struktur, tetapi
wajah nyata dari Gereja yang solider, dialogal, dan misioner. Gereja yang tidak
hanya berbicara tentang kasih, tetapi mewujudkannya dalam tindakan nyata.
*) Ditulis oleh: Darius Leka, S.H., M.H. – Advokat, Aktivis
Rasul Awam Gereja Katolik (Koordinator KOMSOS Paroki Santo Paulus Depok periode
2010-2013)
#kerasulanawam #parokistpaulusdepok #gerejayanghadir
#pelayananumat #dppdkp2013_2016 #misikasih #gerejasolider #kabarsukacita #shdariusleka #reels #foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin