KOTA DEPOK - Di tengah hiruk-pikuk Jakarta Selatan yang tak pernah tidur, Griya Alam Ciganjur menjadi saksi bisu sebuah peristiwa penting dalam perjalanan Gereja Katolik lokal: pembekalan Dewan Pastoral Paroki (DPP) dan Dewan Keuangan Paroki (DKP) St. Paulus-Depok, Sabtu–Minggu, 1–2 Maret 2014. Sebanyak 147 peserta hadir, terdiri dari para pastor, ketua wilayah, pengurus KUB, dan kelompok kategorial. Namun lebih dari sekadar angka, yang hadir adalah para pelayan yang siap menjadi gembala di tengah umat.
Pastor Paroki, RP. Yosef Paleba Tolok, OFM, membuka kegiatan
dengan pesan yang menggugah: “Jangan ada lagi yang berkata ‘saya tidak mampu,
saya tidak layak, saya orang baru’.” Kalimat ini bukan sekadar motivasi,
melainkan ajakan untuk melampaui keraguan dan menanggapi panggilan pelayanan
dengan iman dan keberanian.
Dalam wawancara dengan Warta Paulus, Pastor Tote menegaskan
bahwa pembekalan ini bukan hanya soal teknis organisasi, tetapi juga soal
formasi rohani. “Tugas kita dalam hidup menggereja mungkin selama ini masih
kurang. Tapi dalam segala kelemahan, kita tetap berupaya memperbaiki diri,” ujarnya.
Ia mengajak seluruh pengurus untuk bersatu, saling merangkul, dan membangun
tubuh mistik Kristus dengan semangat pengampunan dan kasih.
RD. Alfons Sutarno, salah satu pembicara, mengangkat tema
keluarga sebagai fokus utama. “Selama 16 tahun saya menjadi imam, baru kali ini
saya diundang berbicara soal keluarga dalam pembekalan DPP,” ungkapnya dengan
antusias. Ia menekankan bahwa keluarga bukan hanya objek pastoral, tetapi
subjek aktif dalam pewartaan. “Jangan hanya mencari pastor saat mau menikah
atau membaptis. Jadilah bagian dari hidup menggereja setiap hari,” tegasnya.
Pesan ini sejalan dengan arah pastoral Keuskupan Bogor yang
menjadikan keluarga sebagai brand kerasulan. Dalam konteks kerasulan awam,
keluarga adalah medan pertama dan utama pewartaan kasih Allah.
Pada hari kedua, RD. Niklaus Jatmiko membawakan tema tentang
Dogma Gereja Katolik Roma. Ia mengingatkan bahwa dalam melayani, pengurus
paroki harus berpegang teguh pada iman yang Satu, Kudus, Katolik, dan
Apostolik. “Jangan mempersulit umat,” katanya lugas. Pelayanan bukanlah
birokrasi, melainkan ekspresi kasih yang konkret.
Suster Mariana, AK, yang hadir sebagai peserta, menambahkan
bahwa pengurus harus meneladani jemaat perdana. “Jika kita tetap terikat dalam
rantai paguyuban dan ajaran Gereja, semuanya akan berjalan baik,” ujarnya.
Pembekalan ini bukan akhir, melainkan awal dari karya nyata.
Dalam program kerja yang dipaparkan, sejumlah rencana konkret telah disusun:
penataan parkir agar tidak becek, pengaturan ventilasi gereja, pembenahan
sekretariat, komputerisasi buku baptis, kunjungan pastoral ke wilayah, hingga
penguatan kerasulan keluarga dan pendalaman iman.
Antonius Gatot Wibisono menyampaikan bahwa penataan lapangan
parkir akan segera dilakukan sebelum Paskah. Ia juga membuka ruang partisipasi
umat dalam bentuk dana atau material. Ini adalah bentuk nyata dari semangat
communio: Gereja yang dibangun bersama, oleh, dan untuk umat.
Suksesnya pembekalan ini, yang ditutup dengan Perayaan
Ekaristi oleh Pastor Tote, tak lepas dari kerja keras panitia Wilayah St.
Stefanus. Namun lebih dari itu, keberhasilan sejati terletak pada kesediaan
setiap peserta untuk melayani dengan hati, berpijak pada ajaran Gereja, dan
bergerak bersama dalam semangat kerasulan awam.
Gereja bukanlah bangunan, melainkan komunitas yang hidup.
Dan kerasulan awam adalah denyut nadinya. Di tengah tantangan sosial, ekonomi,
dan hukum, para pengurus DPP dan DKP adalah wajah Gereja yang hadir di tengah
dunia—mewartakan kasih dan cinta Allah dengan tindakan nyata.
*) Ditulis oleh: Darius Leka, S.H., M.H. – Advokat, Aktivis
Rasul Awam Gereja Katolik (Koordinator KOMSOS Paroki Santo Paulus Depok periode
2010-2013)
#kerasulanawam #parokistpaulusdepok #gerejayanghadir
#pembekalandppdkp #misikeluargakatolik #gerejasolider #pelayananumat
#imankatolikroma #paguyubanumat #membanguntubuhkristus #shdariusleka #reels #foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin