KOTA DEPOK - Di tengah gegap gempita Stadion Anfield pada 13 April 2014, saat Liverpool menjamu Manchester City dalam laga Liga Inggris, terdengar lantunan lagu yang menggema dari ribuan pendukung The Reds: “You’ll Never Walk Alone.” Lirik yang sederhana namun sarat makna itu bukan sekadar nyanyian, melainkan pernyataan iman, solidaritas, dan harapan. Sebuah pengingat bahwa dalam perjuangan, tak seorang pun berjalan sendirian.
Lagu itu, meski lahir dari dunia sepak bola, justru menggema
lebih dalam dalam konteks iman Kristiani, terlebih saat kita merayakan
Paskah—kemenangan Kristus atas maut, dan janji-Nya bahwa Ia akan menyertai kita
sampai akhir zaman.
Berita Paskah pertama kali diterima oleh para perempuan yang
datang ke makam Yesus. “Jangan takut,” kata malaikat, “sebab Yesus yang
disalibkan itu telah bangkit” (Mat. 28:10). Pesan ini bukan hanya kabar gembira,
tetapi juga peneguhan: bahwa dalam setiap langkah hidup, kita tidak pernah
sendiri. Kristus yang bangkit berjalan bersama kita.
Sebagai umat Katolik, kita hidup dalam communio—persekutuan
yang dipersatukan oleh kasih Kristus. Dalam keluarga, lingkungan, wilayah, dan
paroki, kita dipanggil untuk membangun kebersamaan yang saling menopang. Kita
tidak dipanggil untuk menjadi pejuang tunggal, tetapi untuk menjadi tubuh
Kristus yang hidup, yang saling menguatkan dan melayani.
Sebagaimana para pemain Liverpool yang dikuatkan oleh
nyanyian suporternya, kita pun dikuatkan oleh kehadiran sesama dalam komunitas
iman. Dalam kerasulan awam, kita sering menghadapi tantangan: ketidakadilan
sosial, tekanan ekonomi, konflik internal, bahkan apatisme rohani. Namun,
Paskah mengingatkan kita bahwa terang selalu menang atas gelap, dan kasih
selalu lebih kuat dari kebencian.
Yesus yang bangkit bukan hanya hadir dalam liturgi yang
meriah, tetapi dalam tindakan kasih yang sederhana: menyapa tetangga,
mendampingi yang lemah, memperjuangkan keadilan, dan membela yang tertindas.
Inilah bentuk nyata dari iman yang hidup.
Sebagai advokat dan aktivis kerasulan awam, saya percaya
bahwa Gereja harus menjadi ruang yang menyembuhkan, bukan menghakimi; yang
memberdayakan, bukan meminggirkan. Kita dipanggil untuk menjadi saksi
kebangkitan Kristus dalam dunia yang haus akan harapan dan keadilan.
Kita tidak boleh takut untuk berbuat baik. Kita tidak boleh
lelah untuk melayani. Sebab dalam setiap langkah, Kristus berjalan bersama
kita. Dan dalam setiap perjuangan, kita dikelilingi oleh saudara-saudari seiman
yang berseru dalam hati: “You’ll never walk alone.”
Paskah bukan sekadar perayaan liturgis. Ia adalah gaya
hidup. Ia adalah keberanian untuk mengampuni, kekuatan untuk mencintai, dan
keteguhan untuk tetap setia di tengah badai. Maka marilah kita rayakan Paskah
bukan hanya di altar, tetapi di jalanan, di kantor, di rumah, dan di
ruang-ruang pelayanan kita.
Jangan takut untuk berbuat baik. Jangan ragu untuk
melangkah. Sebab kita tidak pernah berjalan sendirian. Selamat Paskah. Tuhan
memberkati.
*) Ditulis oleh: RP. Yosef Paleba Tolok, OFM, Pastor Paroki Santo Paulus Depok periode 2014-2016
#renunganpaskah #kerasulanawam #youllneverwalkalone
#gerejayanghadir #imanyanghidup #komunitaskristiani #solidaritasumat
#yesusbangkit #pelayanantanpapamrih #misikasih #shdariusleka #reels #foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin