Selasa, 01 April 2014

Umat, Iman, dan Pemilu; Mewujudkan Keadaban Politik dalam Terang Iman Katolik


KOTA DEPOK
Di tengah dinamika politik nasional yang kerap diwarnai oleh polarisasi, pragmatisme, dan krisis kepercayaan publik, Gereja Katolik Keuskupan Bogor justru menyalakan obor harapan: sebuah panggilan untuk membangun keadaban politik yang berakar pada iman, kasih, dan tanggung jawab moral. Itulah semangat yang mengalir dalam dialog publik bertajuk “UMAT, IMAN DAN PEMILU” yang digelar oleh Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI) Keuskupan Bogor dan Sie Kerawam Keuskupan Bogor, Sabtu, 22 Maret 2014 di Gedung Pusat Pastoral (PusPas) Bogor.

Dengan subtema yang tajam dan relevan—“Partisipasi Umat Katolik Keuskupan Bogor dalam Menciptakan Keadaban Politik di Indonesia”—forum ini menjadi ruang refleksi dan aksi bagi umat Katolik untuk menegaskan kembali peran strategisnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam sambutannya, Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM, Uskup Keuskupan Bogor, menegaskan bahwa Allah datang ke dunia karena kasih-Nya yang menghidupkan. Maka, umat Katolik dipanggil untuk menanggapi kasih itu dengan menciptakan persaudaraan sejati—yang inklusif, lintas ras, bahasa, dan golongan—serta memiliki wawasan kebangsaan yang sehat.

“Umat harus mampu membaca tanda-tanda zaman,” ujar Mgr. Paskalis. “Dengan memperluas pluralisme, mewujudkan keadilan sosial, dan membangun pastoral yang memberdayakan, Gereja tidak boleh berhenti pada karya karitatif semata, tetapi harus melangkah ke karya transformatif.”

Pernyataan ini bukan sekadar retorika. Ia adalah panggilan konkret bagi kerasulan awam untuk tidak hanya menjadi penonton dalam panggung politik, tetapi menjadi pelaku perubahan yang berakar pada nilai-nilai Injil.

Sebastian Salang, Ketua Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (FORMAPPI), memperkuat pesan tersebut. Ia menyoroti kemunduran kualitas demokrasi pasca reformasi dan mendesak umat Katolik untuk tidak tinggal diam.

“Beberapa keuskupan seperti Ambon, Medan, dan Bali telah mempersiapkan pemilu jauh-jauh hari, termasuk mendampingi calon legislatif yang layak dipilih,” ungkapnya. Ia menekankan pentingnya memilih wakil rakyat yang jujur dan bebas dari korupsi.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) telah menyerukan agar umat Katolik tidak golput. “Partisipasi politik adalah bagian dari tanggung jawab iman,” tegasnya.

Sebagai advokat dan aktivis kerasulan awam, saya melihat forum ini sebagai bentuk nyata dari sinergi antara iman dan demokrasi. Gereja tidak memihak partai, tetapi berpihak pada nilai. Gereja tidak berkampanye, tetapi membentuk nurani. Gereja tidak mencalonkan, tetapi membina kesadaran politik yang sehat.

Dalam konteks ini, umat Katolik dipanggil untuk menjadi warga negara yang aktif, kritis, dan bertanggung jawab. Bukan hanya saat mencoblos, tetapi juga dalam mengawal kebijakan publik, memperjuangkan keadilan sosial, dan menjadi suara bagi yang tak bersuara.

Anggota KPU Bogor yang hadir dalam forum ini mengingatkan bahwa pada Pemilu 2014, setiap warga akan menerima empat surat suara: DPR RI, DPD, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota. Mereka juga menegaskan bahwa warga yang belum menerima undangan tetap bisa menggunakan hak pilihnya langsung di TPS.

Namun lebih dari sekadar teknis, pemilu adalah panggung etika. Di sinilah iman diuji: apakah kita memilih berdasarkan nurani atau sekadar iming-iming? Apakah kita memilih demi kebaikan bersama atau demi kepentingan sesaat?

Forum ini dihadiri oleh perwakilan Sie HAK, Kerawam, Sie Keadilan dan Perdamaian, WKRI, Komisi Mitra Perempuan, dan PMKRI Bogor. Seluruh rangkaian acara ditutup dengan doa dan berkat oleh Mgr. Paskalis—sebuah simbol bahwa politik pun harus dimulai dan diakhiri dalam terang iman.

Mari kita jadikan momen ini sebagai titik tolak. Sebab iman yang tidak bersuara di ruang publik adalah iman yang kehilangan daya. Dan demokrasi tanpa etika adalah demokrasi yang rapuh.

Umat Katolik Keuskupan Bogor, saatnya kita bergerak. Dari altar menuju bilik suara. Dari doa menuju tindakan. Dari Gereja menuju bangsa.

 

*) Ditulis oleh: Darius Leka, S.H., M.H. – Advokat, Aktivis Rasul Awam Gereja Katolik (Koordinator KOMSOS Paroki Santo Paulus Depok periode 2010-2013)

#umatimandanpemilu #keadabanpolitik #kerasulanawam #gerejayanghadir #partisipasiumatkatolik #pemilubermartabat #jangangolput #demokrasidaniman #keuskupanbogor #misikasihdalampolitik #shdariusleka #reels #foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin