KOTA DEPOK - Di tengah dinamika politik nasional yang kerap diwarnai oleh polarisasi, pragmatisme, dan krisis kepercayaan publik, Gereja Katolik Keuskupan Bogor justru menyalakan obor harapan: sebuah panggilan untuk membangun keadaban politik yang berakar pada iman, kasih, dan tanggung jawab moral. Itulah semangat yang mengalir dalam dialog publik bertajuk “UMAT, IMAN DAN PEMILU” yang digelar oleh Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI) Keuskupan Bogor dan Sie Kerawam Keuskupan Bogor, Sabtu, 22 Maret 2014 di Gedung Pusat Pastoral (PusPas) Bogor.
Dengan subtema yang tajam dan
relevan—“Partisipasi Umat Katolik Keuskupan Bogor dalam Menciptakan Keadaban
Politik di Indonesia”—forum ini menjadi ruang refleksi dan aksi bagi umat
Katolik untuk menegaskan kembali peran strategisnya dalam kehidupan berbangsa
dan bernegara.
Dalam sambutannya, Mgr. Paskalis Bruno Syukur,
OFM, Uskup Keuskupan Bogor, menegaskan bahwa Allah datang ke dunia karena
kasih-Nya yang menghidupkan. Maka, umat Katolik dipanggil untuk menanggapi
kasih itu dengan menciptakan persaudaraan sejati—yang inklusif, lintas ras,
bahasa, dan golongan—serta memiliki wawasan kebangsaan yang sehat.
“Umat harus mampu membaca tanda-tanda zaman,”
ujar Mgr. Paskalis. “Dengan memperluas pluralisme, mewujudkan keadilan sosial,
dan membangun pastoral yang memberdayakan, Gereja tidak boleh berhenti pada
karya karitatif semata, tetapi harus melangkah ke karya transformatif.”
Pernyataan ini bukan sekadar retorika. Ia adalah
panggilan konkret bagi kerasulan awam untuk tidak hanya menjadi penonton dalam
panggung politik, tetapi menjadi pelaku perubahan yang berakar pada nilai-nilai
Injil.
Sebastian Salang, Ketua Forum Masyarakat Peduli
Parlemen Indonesia (FORMAPPI), memperkuat pesan tersebut. Ia menyoroti
kemunduran kualitas demokrasi pasca reformasi dan mendesak umat Katolik untuk
tidak tinggal diam.
“Beberapa keuskupan seperti Ambon, Medan, dan
Bali telah mempersiapkan pemilu jauh-jauh hari, termasuk mendampingi calon
legislatif yang layak dipilih,” ungkapnya. Ia menekankan pentingnya memilih
wakil rakyat yang jujur dan bebas dari korupsi.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa Konferensi
Waligereja Indonesia (KWI) telah menyerukan agar umat Katolik tidak golput.
“Partisipasi politik adalah bagian dari tanggung jawab iman,” tegasnya.
Sebagai advokat dan aktivis kerasulan awam, saya
melihat forum ini sebagai bentuk nyata dari sinergi antara iman dan demokrasi.
Gereja tidak memihak partai, tetapi berpihak pada nilai. Gereja tidak
berkampanye, tetapi membentuk nurani. Gereja tidak mencalonkan, tetapi membina
kesadaran politik yang sehat.
Dalam konteks ini, umat Katolik dipanggil untuk
menjadi warga negara yang aktif, kritis, dan bertanggung jawab. Bukan hanya
saat mencoblos, tetapi juga dalam mengawal kebijakan publik, memperjuangkan
keadilan sosial, dan menjadi suara bagi yang tak bersuara.
Anggota KPU Bogor yang hadir dalam forum ini
mengingatkan bahwa pada Pemilu 2014, setiap warga akan menerima empat surat
suara: DPR RI, DPD, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota. Mereka juga
menegaskan bahwa warga yang belum menerima undangan tetap bisa menggunakan hak
pilihnya langsung di TPS.
Namun lebih dari sekadar teknis, pemilu adalah
panggung etika. Di sinilah iman diuji: apakah kita memilih berdasarkan nurani
atau sekadar iming-iming? Apakah kita memilih demi kebaikan bersama atau demi
kepentingan sesaat?
Forum ini dihadiri oleh perwakilan Sie HAK,
Kerawam, Sie Keadilan dan Perdamaian, WKRI, Komisi Mitra Perempuan, dan PMKRI
Bogor. Seluruh rangkaian acara ditutup dengan doa dan berkat oleh Mgr.
Paskalis—sebuah simbol bahwa politik pun harus dimulai dan diakhiri dalam
terang iman.
Mari kita jadikan momen ini sebagai titik tolak.
Sebab iman yang tidak bersuara di ruang publik adalah iman yang kehilangan
daya. Dan demokrasi tanpa etika adalah demokrasi yang rapuh.
Umat Katolik Keuskupan Bogor, saatnya kita
bergerak. Dari altar menuju bilik suara. Dari doa menuju tindakan. Dari Gereja
menuju bangsa.
*) Ditulis oleh: Darius Leka, S.H., M.H. –
Advokat, Aktivis Rasul Awam Gereja Katolik (Koordinator KOMSOS Paroki Santo
Paulus Depok periode 2010-2013)
#umatimandanpemilu #keadabanpolitik #kerasulanawam
#gerejayanghadir #partisipasiumatkatolik #pemilubermartabat #jangangolput
#demokrasidaniman #keuskupanbogor #misikasihdalampolitik #shdariusleka #reels #foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin