Selasa, 01 April 2014

Dari Mimbar ke Jalanan Umat; KUPAS dan Wajah Gereja yang Turun Gunung


KOTA DEPOK
- Dalam dunia yang kian pragmatis, di mana pelayanan kerap terjebak dalam formalitas dan birokrasi, Paroki St. Paulus-Depok justru menampilkan wajah Gereja yang hidup dan menyapa. Di bawah kepemimpinan Pastor Paroki P. Yosef Paleba Tolok, OFM, Dewan Pastoral Paroki (DPP) dan Dewan Keuangan Paroki (DKP) tak sekadar duduk di balik meja atau berseru dari mimbar. Mereka memilih untuk “turun gunung”—meninggalkan kenyamanan “puncak Tabor” dan menyusuri jalanan umat melalui program Kunjungan Pastoral (KUPAS).

Minggu, 23 Maret 2014, menjadi tonggak awal KUPAS. Rombongan beranggotakan sepuluh orang—dari pastor hingga pengurus seksi kerasulan keluarga—mengunjungi dua wilayah sekaligus: St. Theresia dan St. Maria Magdalena. Ini bukan roadshow seremonial. Ini adalah ziarah pastoral yang menyentuh denyut nadi kehidupan umat.

Di Wilayah St. Theresia, mereka disambut hangat oleh umat yang telah menanti dengan penuh semangat. Dialog dibuka dengan hidangan rebusan organik—buah tangan umat sendiri—dan dilanjutkan dengan sharing yang jujur dan terbuka. Di sinilah Gereja menemukan wajahnya yang sejati: hadir, mendengar, dan berjalan bersama.

Dari 21 kepala keluarga di wilayah ini, muncul lima pokok persoalan:

  1. Jarak dan biaya transportasi yang tinggi untuk menghadiri Misa di gereja pusat.
  2. Pendampingan kawin campur yang belum optimal.
  3. Beban paroki yang dirasa tidak proporsional dengan jumlah umat dan jarak tempuh.
  4. Akses pendidikan Katolik yang sulit dijangkau karena faktor ekonomi.
  5. Harapan akan perhatian dan sapaan, bukan belas kasihan.

Pastor Tote dan tim DPP-DKP merespons dengan konkret: Misa wilayah akan dijadwalkan setiap tiga bulan, beban logistik akan ditinjau ulang, dan pendampingan pastoral akan dilakukan secara personal. Lebih dari itu, umat diajak untuk membangun komunikasi dan relasi yang sehat—baik antarumat maupun dengan lingkungan sekitar.

Perjalanan berlanjut ke Wilayah St. Maria Magdalena. Di sini, 47 kepala keluarga menyambut dengan antusias. Sistem administrasi wilayah ini terbilang rapi, dengan data lengkap, misdinar aktif, dan prodiakon yang melayani. Namun, tantangan tetap ada.

Kesulitan transportasi untuk tugas koor pagi, keterbatasan tempat latihan, dan beban biaya komuni pertama menjadi sorotan. Pastor Tote menanggapi dengan solusi yang membumi: rekoleksi komuni akan disederhanakan dan dilaksanakan di gereja untuk menekan biaya. Ia juga menegaskan bahwa pelayanan sakramen bukanlah komoditas, melainkan rahmat yang harus diakses dengan layak dan bijak.

Sebagai advokat dan aktivis kerasulan awam, saya melihat KUPAS bukan sekadar program. Ia adalah manifestasi dari Gereja yang mendengar dan bergerak. Gereja yang tidak hanya hadir di altar, tetapi juga di ruang tamu umat. Gereja yang tidak hanya mengajar, tetapi juga belajar dari realitas.

KUPAS adalah bentuk nyata dari prinsip “Gereja yang solider dan dialogal.” Ia menjembatani antara struktur dan umat, antara kebijakan dan kebutuhan, antara iman dan kehidupan.

Kunjungan ini bukan akhir, melainkan awal dari transformasi pastoral. Ia mengingatkan kita bahwa pelayanan bukan soal jabatan, tetapi soal kehadiran. Bahwa kerasulan awam bukan sekadar program kerja, tetapi panggilan untuk menjadi garam dan terang di tengah masyarakat.

Mari kita jaga semangat ini. Sebab Gereja yang hidup adalah Gereja yang berjalan bersama umatnya—dalam suka dan duka, dalam terang dan gelap, dalam harapan dan perjuangan.

 

*) Ditulis oleh: Darius Leka, S.H., M.H. – Advokat, Aktivis Rasul Awam Gereja Katolik (Koordinator KOMSOS Paroki Santo Paulus Depok periode 2010-2013)

#kerasulanawam #parokistpaulusdepok #kupas2014 #gerejayanghadir #gembalayangturungunung #pelayananumat #misikasih #gerejasolider #pendidikankatolik #komuniuntuksemua #imanyangberbuah #shdariusleka #reels #foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin