KOTA DEPOK - Dalam dunia yang kian pragmatis, di mana pelayanan kerap terjebak dalam formalitas dan birokrasi, Paroki St. Paulus-Depok justru menampilkan wajah Gereja yang hidup dan menyapa. Di bawah kepemimpinan Pastor Paroki P. Yosef Paleba Tolok, OFM, Dewan Pastoral Paroki (DPP) dan Dewan Keuangan Paroki (DKP) tak sekadar duduk di balik meja atau berseru dari mimbar. Mereka memilih untuk “turun gunung”—meninggalkan kenyamanan “puncak Tabor” dan menyusuri jalanan umat melalui program Kunjungan Pastoral (KUPAS).
Minggu, 23 Maret 2014, menjadi tonggak awal KUPAS. Rombongan
beranggotakan sepuluh orang—dari pastor hingga pengurus seksi kerasulan
keluarga—mengunjungi dua wilayah sekaligus: St. Theresia dan St. Maria
Magdalena. Ini bukan roadshow seremonial. Ini adalah ziarah pastoral yang
menyentuh denyut nadi kehidupan umat.
Di Wilayah St. Theresia, mereka disambut hangat oleh umat
yang telah menanti dengan penuh semangat. Dialog dibuka dengan hidangan rebusan
organik—buah tangan umat sendiri—dan dilanjutkan dengan sharing yang jujur dan
terbuka. Di sinilah Gereja menemukan wajahnya yang sejati: hadir, mendengar,
dan berjalan bersama.
Dari 21 kepala keluarga di wilayah ini, muncul lima pokok persoalan:
- Jarak
dan biaya transportasi yang
tinggi untuk menghadiri Misa di gereja pusat.
- Pendampingan
kawin campur yang belum optimal.
- Beban
paroki yang dirasa tidak proporsional
dengan jumlah umat dan jarak tempuh.
- Akses
pendidikan Katolik yang
sulit dijangkau karena faktor ekonomi.
- Harapan
akan perhatian dan sapaan,
bukan belas kasihan.
Pastor Tote dan tim DPP-DKP merespons dengan konkret: Misa
wilayah akan dijadwalkan setiap tiga bulan, beban logistik akan ditinjau ulang,
dan pendampingan pastoral akan dilakukan secara personal. Lebih dari itu, umat
diajak untuk membangun komunikasi dan relasi yang sehat—baik antarumat maupun
dengan lingkungan sekitar.
Perjalanan berlanjut ke Wilayah St. Maria Magdalena. Di
sini, 47 kepala keluarga menyambut dengan antusias. Sistem administrasi wilayah
ini terbilang rapi, dengan data lengkap, misdinar aktif, dan prodiakon yang
melayani. Namun, tantangan tetap ada.
Kesulitan transportasi untuk tugas koor pagi, keterbatasan
tempat latihan, dan beban biaya komuni pertama menjadi sorotan. Pastor Tote
menanggapi dengan solusi yang membumi: rekoleksi komuni akan disederhanakan dan
dilaksanakan di gereja untuk menekan biaya. Ia juga menegaskan bahwa pelayanan
sakramen bukanlah komoditas, melainkan rahmat yang harus diakses dengan layak
dan bijak.
Sebagai advokat dan aktivis kerasulan awam, saya melihat
KUPAS bukan sekadar program. Ia adalah manifestasi dari Gereja yang mendengar
dan bergerak. Gereja yang tidak hanya hadir di altar, tetapi juga di ruang tamu
umat. Gereja yang tidak hanya mengajar, tetapi juga belajar dari realitas.
KUPAS adalah bentuk nyata dari prinsip “Gereja yang solider
dan dialogal.” Ia menjembatani antara struktur dan umat, antara kebijakan dan
kebutuhan, antara iman dan kehidupan.
Kunjungan ini bukan akhir, melainkan awal dari transformasi
pastoral. Ia mengingatkan kita bahwa pelayanan bukan soal jabatan, tetapi soal
kehadiran. Bahwa kerasulan awam bukan sekadar program kerja, tetapi panggilan
untuk menjadi garam dan terang di tengah masyarakat.
Mari kita jaga semangat ini. Sebab Gereja yang hidup adalah
Gereja yang berjalan bersama umatnya—dalam suka dan duka, dalam terang dan
gelap, dalam harapan dan perjuangan.
*) Ditulis oleh: Darius Leka, S.H., M.H. – Advokat, Aktivis
Rasul Awam Gereja Katolik (Koordinator KOMSOS Paroki Santo Paulus Depok periode
2010-2013)
#kerasulanawam #parokistpaulusdepok #kupas2014
#gerejayanghadir #gembalayangturungunung #pelayananumat #misikasih
#gerejasolider #pendidikankatolik #komuniuntuksemua #imanyangberbuah #shdariusleka #reels #foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin