Biasanya, darah Santo Yanuarius (San Gennaro) hanya mencair pada tiga momen dalam setahun: 19 September, Sabtu pertama bulan Mei, dan 16 Desember. Namun hari itu berbeda. Setelah Paus Fransiskus menyampaikan pesan kepada umat dan mencium bejana relikwi, Kardinal Crescenzio Sepe mengumumkan bahwa darah mulai mencair—sebuah fenomena yang tidak terjadi bahkan saat kunjungan Paus Yohanes Paulus II, Benediktus XVI, maupun Pius IX.
Namun darah itu terus mencair hingga seluruhnya menjadi
cair. Tangis haru umat pun pecah. Bagi banyak orang, ini bukan sekadar
mukjizat, tetapi panggilan untuk memperbaharui iman dan pelayanan.
Santo Yanuarius, Uskup Benevento pada abad ke-4, adalah
martir yang wafat karena imannya saat penganiayaan Kaisar Diocletianus. Ia ditangkap
karena mengunjungi para diakon yang dipenjara, lalu dipenggal bersama enam
orang lainnya. Darahnya yang dikumpulkan dan disimpan dalam bejana menjadi
simbol kesetiaan dan pengorbanan.
Sebagai aktivis kerasulan awam, saya melihat peristiwa ini
bukan hanya sebagai devosi pribadi, tetapi sebagai panggilan kolektif. Mukjizat
ini terjadi bukan di ruang hampa, melainkan di tengah dunia yang haus akan
keadilan, kasih, dan kebenaran. Maka, kerasulan awam—yang bergerak di bidang
sosial, ekonomi, hukum, dan kemasyarakatan—harus membaca tanda zaman ini
sebagai dorongan untuk bertindak.
Kita dipanggil untuk menjadi “darah yang mencair” bagi
sesama:
- Dalam
advokasi hukum bagi yang tertindas
- Dalam
pelayanan ekonomi bagi yang miskin
- Dalam
solidaritas sosial lintas iman
- Dalam
pendidikan karakter di tengah budaya instan
Paus Fransiskus, dalam banyak pesannya, menekankan
pentingnya “Gereja yang keluar”—yang tidak nyaman di menara gading, tetapi
hadir di tengah luka dunia. Kehadirannya di Napoli dan mukjizat yang
menyertainya menjadi simbol bahwa Gereja harus kembali pada semangat martir:
berani mencintai sampai tuntas, bahkan sampai darah terakhir.
Mukjizat darah Santo Yanuarius yang mencair di luar hari
pestanya adalah tanda bahwa kasih Allah tidak terikat kalender. Ia hadir kapan
saja, di mana saja, ketika hati manusia terbuka. Maka, sebagai umat Katolik,
kita diajak untuk tidak hanya menyaksikan mukjizat, tetapi menjadi bagian
darinya—melalui hidup yang penuh kasih, pengorbanan, dan pelayanan.
Mari kita menjadi relikwi hidup yang mencairkan kekerasan
dunia dengan cinta Kristus.
✍️ Oleh: Darius Leka, S.H., M.H. – Advokat & Aktivis
Kerasulan Awam Katolik
#sangennaro #mukjizatnapoli #kerasulanawam #gerejakatolik #martiriman #pausfransiskus #imanyanghidup #relikwisantoyanuarius #cintaallahuntukdunia #kesaksianiman #keadilansosialkatolik #shdariusleka #reels #foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang




ijin nyimak aja ya
BalasHapusizin menyimak ,terimakasih
BalasHapus