Selasa, 24 Maret 2015

Relikwi yang Mencair, Iman yang Menyala; Sebuah Tanda dari Napoli

NAPOLI - Di tengah dunia yang kerap sinis terhadap hal-hal adikodrati, sebuah peristiwa langka terjadi di Katedral Napoli pada 21 Maret 2015. Relikwi darah Santo Yanuarius—yang selama berabad-abad hanya mencair pada hari pestanya, 19 September—secara ajaib berubah menjadi cair di hadapan Paus Fransiskus. Peristiwa ini bukan sekadar keajaiban liturgis, melainkan sebuah pesan profetik bagi Gereja dan dunia: bahwa kasih Allah tetap hidup, menyala, dan menembus batas-batas waktu serta keraguan manusia.

Biasanya, darah Santo Yanuarius (San Gennaro) hanya mencair pada tiga momen dalam setahun: 19 September, Sabtu pertama bulan Mei, dan 16 Desember. Namun hari itu berbeda. Setelah Paus Fransiskus menyampaikan pesan kepada umat dan mencium bejana relikwi, Kardinal Crescenzio Sepe mengumumkan bahwa darah mulai mencair—sebuah fenomena yang tidak terjadi bahkan saat kunjungan Paus Yohanes Paulus II, Benediktus XVI, maupun Pius IX.

“Ada pertanda bahwa Santo Yanuarius mencintai Paus Fransiskus,” ujar Kardinal Sepe.
Paus pun menanggapi dengan rendah hati, “Kalau hanya setengah yang mencair berarti kita masih memiliki pekerjaan yang harus dilakukan.”

Namun darah itu terus mencair hingga seluruhnya menjadi cair. Tangis haru umat pun pecah. Bagi banyak orang, ini bukan sekadar mukjizat, tetapi panggilan untuk memperbaharui iman dan pelayanan.

Santo Yanuarius, Uskup Benevento pada abad ke-4, adalah martir yang wafat karena imannya saat penganiayaan Kaisar Diocletianus. Ia ditangkap karena mengunjungi para diakon yang dipenjara, lalu dipenggal bersama enam orang lainnya. Darahnya yang dikumpulkan dan disimpan dalam bejana menjadi simbol kesetiaan dan pengorbanan.

Fenomena pencairan darah ini telah tercatat sejak abad ke-13, dan hingga kini tetap menjadi misteri iman yang tak terjelaskan secara ilmiah. Namun bagi umat Katolik, mukjizat ini bukan soal sains, melainkan soal kesaksian: bahwa darah para martir adalah benih Gereja.

Sebagai aktivis kerasulan awam, saya melihat peristiwa ini bukan hanya sebagai devosi pribadi, tetapi sebagai panggilan kolektif. Mukjizat ini terjadi bukan di ruang hampa, melainkan di tengah dunia yang haus akan keadilan, kasih, dan kebenaran. Maka, kerasulan awam—yang bergerak di bidang sosial, ekonomi, hukum, dan kemasyarakatan—harus membaca tanda zaman ini sebagai dorongan untuk bertindak.

Kita dipanggil untuk menjadi “darah yang mencair” bagi sesama:

  • Dalam advokasi hukum bagi yang tertindas
  • Dalam pelayanan ekonomi bagi yang miskin
  • Dalam solidaritas sosial lintas iman
  • Dalam pendidikan karakter di tengah budaya instan

Mukjizat bukanlah akhir, melainkan awal dari pertobatan dan aksi nyata.

Paus Fransiskus, dalam banyak pesannya, menekankan pentingnya “Gereja yang keluar”—yang tidak nyaman di menara gading, tetapi hadir di tengah luka dunia. Kehadirannya di Napoli dan mukjizat yang menyertainya menjadi simbol bahwa Gereja harus kembali pada semangat martir: berani mencintai sampai tuntas, bahkan sampai darah terakhir.

Mukjizat darah Santo Yanuarius yang mencair di luar hari pestanya adalah tanda bahwa kasih Allah tidak terikat kalender. Ia hadir kapan saja, di mana saja, ketika hati manusia terbuka. Maka, sebagai umat Katolik, kita diajak untuk tidak hanya menyaksikan mukjizat, tetapi menjadi bagian darinya—melalui hidup yang penuh kasih, pengorbanan, dan pelayanan.

Mari kita menjadi relikwi hidup yang mencairkan kekerasan dunia dengan cinta Kristus.

️ Oleh: Darius Leka, S.H., M.H. – Advokat & Aktivis Kerasulan Awam Katolik

 

#sangennaro #mukjizatnapoli #kerasulanawam #gerejakatolik #martiriman #pausfransiskus #imanyanghidup #relikwisantoyanuarius #cintaallahuntukdunia #kesaksianiman #keadilansosialkatolik #shdariusleka #reels #foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang

2 komentar:

Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin