Sebagai umat beriman yang telah menerima sakramen
pembaptisan, kita telah dikuduskan dan dijadikan kediaman Roh Kudus. Tubuh kita
bukan milik kita sendiri, melainkan milik Allah. Maka ketika kita membiarkan
pikiran, perkataan, dan perbuatan kita dikotori oleh dosa, kita sedang
mengulangi kesalahan yang sama: mengubah Bait Allah menjadi pasar duniawi.
Yesus tidak hanya membersihkan Bait Allah secara fisik. Ia
sedang mengundang kita untuk membersihkan hati, menguduskan niat, dan
memperbarui hidup. Kekudusan bukanlah konsep abstrak, melainkan tindakan
konkret yang dimulai dari dalam diri.
Hari ini Gereja merayakan pesta pemberkatan Basilika
Lateran, katedral Paus sebagai Uskup Roma. Namun refleksi yang lebih dalam
adalah: Gereja bukan hanya bangunan megah, melainkan kita semua—umat Allah
yang hidup. Maka, menjaga kekudusan Gereja berarti menjaga kekudusan diri,
komunitas, dan masyarakat.
Di Indonesia, struktur komunitas seperti Kring, Stasi,
Lingkungan, Wilayah, KBG (Komunitas Basis Gerejawi), dan KUB
(Kelompok Umat Basis) menjadi medan kerasulan awam yang nyata. Di sinilah umat
belajar menjadi Gereja yang hidup: dengan berbagi, melayani, dan mewartakan
kasih Allah dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai advokat dan aktivis kerasulan awam, saya menyaksikan
bagaimana iman yang hidup mampu mengubah wajah masyarakat. Di ruang sidang,
saya melihat bagaimana nilai keadilan Injili bisa menjadi dasar pembelaan bagi
yang tertindas. Di komunitas, saya menyaksikan bagaimana umat awam membentuk
koperasi, mendampingi korban kekerasan, dan mengadvokasi hak-hak warga miskin.
Kerasulan awam bukanlah pelengkap Gereja, melainkan jantung
pewartaan di tengah dunia. Ketika umat awam bergerak di bidang sosial, ekonomi,
hukum, dan kemasyarakatan, mereka sedang mewartakan kasih Allah yang konkret
dan menyentuh.
Menjaga kekudusan tubuh sebagai Bait Allah bukan hanya soal
menjauhi dosa, tetapi juga soal menghidupi kasih. Ketika kita menolak
korupsi, membela yang lemah, dan hidup dalam kejujuran, kita sedang menjaga
kekudusan itu. Ketika kita mendidik anak-anak dengan nilai Kristiani, merawat
lingkungan, dan membangun solidaritas, kita sedang membangun Gereja yang hidup.
Yesus murka bukan karena emosi, tetapi karena cinta. Cinta
yang menuntut kekudusan. Cinta yang mengundang pertobatan. Cinta yang memanggil
kita untuk menjadi terang di tengah kegelapan.
Mari kita jaga Bait Allah: tubuh kita, komunitas kita, dan
dunia kita. Karena di sanalah Allah ingin tinggal.
Oleh: Darius Leka, S.H., M.H.
#kerasulanawam #baitallah #kekudusantubuh #kring #stasi
#lingkungan #wilayah #kbg #kub #gerejayanghidup #imandantindakan
#yesusdankeadilan #shdariusleka #reels #foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin