Kamis, 09 Februari 2017

Crotalus; Derakan Sunyi yang Menggema dalam Misteri Paskah


KOTA DEPOK
- Dalam liturgi Gereja Katolik, ada momen-momen yang tidak hanya diisi dengan kata-kata dan nyanyian, tetapi juga dengan keheningan yang berbicara. Salah satu momen itu terjadi pada Kamis Putih malam, saat Gereja memasuki Triduum Paskah—tiga hari suci yang menjadi pusat iman Kristiani. Di tengah keheningan itu, terdengarlah suara yang tidak berasal dari lonceng atau alat musik logam, melainkan dari sebuah alat sederhana: crotalus.

Crotalus—atau yang lebih dikenal di Indonesia sebagai keprak atau klotokan—adalah alat liturgi yang hanya digunakan dalam satu kesempatan khusus: saat tuguran Kamis Putih hingga sebelum Vigili Paskah. Kata “crotalus” berasal dari bahasa Latin, yang berakar dari kata Yunani “krotalon,” yang berarti “derakan.”

Alat ini menghasilkan suara kering dan keras, menggantikan dentang lonceng yang biasanya mengiringi liturgi. Mengapa? Karena sejak Kamis Putih malam, Gereja memasuki masa duka dan keheningan, mengenang sengsara dan wafat Kristus. Suara crotalus menjadi simbol dari kekosongan, penderitaan, dan keterputusan yang dialami dunia saat Sang Sabda membisu di kayu salib.

Dalam beberapa dekade terakhir, penggunaan crotalus sempat menghilang dari banyak paroki, tergantikan oleh pendekatan liturgi yang lebih modern. Namun, seiring dengan meningkatnya ketertarikan umat terhadap kekayaan tradisi liturgi, crotalus kembali digunakan—bukan sebagai nostalgia, tetapi sebagai sarana untuk memperdalam makna iman.

Penggunaan crotalus bukan sekadar simbolisme. Ia adalah bentuk partisipasi umat dalam misteri Paskah. Suara derakannya mengajak kita untuk merenung, untuk masuk dalam keheningan batin, dan untuk menyadari bahwa keselamatan tidak datang dalam gemerlap, tetapi dalam penderitaan dan pengorbanan.

Sebagai aktivis kerasulan awam, saya percaya bahwa crotalus adalah metafora yang kuat bagi peran kita di tengah dunia. Kita mungkin bukan suara yang nyaring. Kita bukan lonceng yang bergema di menara tinggi. Tetapi kita adalah derakan kecil yang mengingatkan dunia akan kasih yang terluka, akan pengorbanan yang menyelamatkan, dan akan harapan yang lahir dari keheningan.

Dalam dunia yang bising oleh opini dan konflik, kita dipanggil untuk menjadi crotalus—suara yang sederhana, tetapi jujur. Suara yang tidak memekakkan, tetapi menyentuh. Suara yang tidak menuntut perhatian, tetapi mengundang pertobatan.

Crotalus hanya dibunyikan dalam tiga hari sunyi. Namun maknanya melampaui waktu. Ia mengingatkan kita bahwa iman bukan hanya tentang perayaan, tetapi juga tentang penderitaan. Bahwa kasih bukan hanya tentang pelukan, tetapi juga tentang pengorbanan. Dan bahwa kebangkitan hanya mungkin jika kita berani memasuki keheningan salib.

Maka, saat kita mendengar derakan crotalus, mari kita berhenti sejenak. Mari kita dengarkan suara sunyi yang mengajak kita untuk kembali kepada inti iman: Yesus yang wafat karena cinta, dan bangkit untuk memberi hidup.

️ Oleh: Darius Leka, S.H., M.H., Advokat & Aktivis Kerasulan Awam Gereja Katolik

 

#crotalus #keprakliturgi #kamisputih #triduumpaskah #kerasulanawam #gerejakatolik #wartakasih #imanyanghidup #liturgitradisional #cintadalamkeheningan #shdariusleka #reels #foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin