KOTA DEPOK - Dalam liturgi Gereja Katolik, ada momen-momen yang tidak hanya diisi dengan kata-kata dan nyanyian, tetapi juga dengan keheningan yang berbicara. Salah satu momen itu terjadi pada Kamis Putih malam, saat Gereja memasuki Triduum Paskah—tiga hari suci yang menjadi pusat iman Kristiani. Di tengah keheningan itu, terdengarlah suara yang tidak berasal dari lonceng atau alat musik logam, melainkan dari sebuah alat sederhana: crotalus.
Crotalus—atau yang lebih dikenal di Indonesia sebagai keprak
atau klotokan—adalah alat liturgi yang hanya digunakan dalam satu kesempatan
khusus: saat tuguran Kamis Putih hingga sebelum Vigili Paskah. Kata “crotalus”
berasal dari bahasa Latin, yang berakar dari kata Yunani “krotalon,” yang
berarti “derakan.”
Alat ini menghasilkan suara kering dan keras, menggantikan
dentang lonceng yang biasanya mengiringi liturgi. Mengapa? Karena sejak Kamis
Putih malam, Gereja memasuki masa duka dan keheningan, mengenang sengsara dan
wafat Kristus. Suara crotalus menjadi simbol dari kekosongan, penderitaan, dan
keterputusan yang dialami dunia saat Sang Sabda membisu di kayu salib.
Dalam beberapa dekade terakhir, penggunaan crotalus sempat
menghilang dari banyak paroki, tergantikan oleh pendekatan liturgi yang lebih
modern. Namun, seiring dengan meningkatnya ketertarikan umat terhadap kekayaan
tradisi liturgi, crotalus kembali digunakan—bukan sebagai nostalgia, tetapi
sebagai sarana untuk memperdalam makna iman.
Penggunaan crotalus bukan sekadar simbolisme. Ia adalah
bentuk partisipasi umat dalam misteri Paskah. Suara derakannya mengajak kita
untuk merenung, untuk masuk dalam keheningan batin, dan untuk menyadari bahwa
keselamatan tidak datang dalam gemerlap, tetapi dalam penderitaan dan pengorbanan.
Sebagai aktivis kerasulan awam, saya percaya bahwa crotalus
adalah metafora yang kuat bagi peran kita di tengah dunia. Kita mungkin bukan
suara yang nyaring. Kita bukan lonceng yang bergema di menara tinggi. Tetapi
kita adalah derakan kecil yang mengingatkan dunia akan kasih yang terluka, akan
pengorbanan yang menyelamatkan, dan akan harapan yang lahir dari keheningan.
Dalam dunia yang bising oleh opini dan konflik, kita
dipanggil untuk menjadi crotalus—suara yang sederhana, tetapi jujur. Suara yang
tidak memekakkan, tetapi menyentuh. Suara yang tidak menuntut perhatian, tetapi
mengundang pertobatan.
Crotalus hanya dibunyikan dalam tiga hari sunyi. Namun
maknanya melampaui waktu. Ia mengingatkan kita bahwa iman bukan hanya tentang
perayaan, tetapi juga tentang penderitaan. Bahwa kasih bukan hanya tentang
pelukan, tetapi juga tentang pengorbanan. Dan bahwa kebangkitan hanya mungkin
jika kita berani memasuki keheningan salib.
Maka, saat kita mendengar derakan crotalus, mari kita
berhenti sejenak. Mari kita dengarkan suara sunyi yang mengajak kita untuk
kembali kepada inti iman: Yesus yang wafat karena cinta, dan bangkit untuk
memberi hidup.
✍️ Oleh: Darius Leka, S.H., M.H., Advokat &
Aktivis Kerasulan Awam Gereja Katolik
#crotalus #keprakliturgi #kamisputih #triduumpaskah #kerasulanawam #gerejakatolik #wartakasih #imanyanghidup #liturgitradisional #cintadalamkeheningan #shdariusleka #reels #foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin