Inilah “Gerakan Cinta Lingkungan Hidup”—sebuah inisiatif
kolaboratif antara Paroki Santo Thomas Kelapa Dua, Komisi Mitra Perempuan
Keuskupan Bogor, dan Panitia Natal Mako Brimob Polri. Sebuah aksi kecil yang
menyuarakan pesan besar: bahwa iman yang hidup harus menyentuh bumi dan sesama.
Acara dimulai pukul 07.20, dihadiri oleh tokoh-tokoh
penting: Mgr. Paskalis Bruno Syukur (Uskup Bogor), KOMBESPOL Drs. Riguel
Siagian (mewakili Dankor Brimob), AKBP Deonijiu De Fatima (Ketua Panitia), Ibu
Lely Kesuma (Komisi Mitra Perempuan), RD. Mikail Endro (Komisi HAK Keuskupan
Bogor), RD. Robertus Eeng Gunawan dan RD. Yustinus Joned (Paroki St. Thomas),
serta para pejabat Mako Brimob dan perwakilan lintas agama.
Dalam sambutannya, AKBP Deonijiu menyampaikan harapan agar
kegiatan ini menjadi jembatan komunikasi antarumat beragama di lingkungan Mako
Brimob. Mgr. Paskalis menegaskan bahwa cinta lingkungan adalah bagian dari
spiritualitas Katolik yang mendalam.
“Kita jangan hanya mengambil dari alam, tetapi harus juga
memberi untuk alam ini,” ujar Bapa Uskup.
Sementara dalam amanat Dankor Brimob yang dibacakan oleh
KOMBESPOL Siagian, ditegaskan bahwa kualitas lingkungan di dalam asrama akan
menjadi cermin bagi masyarakat sekitar. Maka, menjaga lingkungan bukan hanya
tugas moral, tetapi juga tanggung jawab sosial.
Rangkaian acara dikemas dalam suasana “Coffee Morning” yang
hangat dan inklusif. Ada penyerahan bibit tanaman dan buku tentang lingkungan
hidup, pelatihan menanam untuk anak-anak TK Bhayangkari, serta penanaman bibit
buah dan penyebaran benih ikan di Kolam Boas.
Anak-anak kecil dengan tangan mungil mereka menanam bibit,
seolah sedang menanam harapan. Di tengah dunia yang kian panas dan penuh
konflik, mereka menjadi simbol bahwa masa depan bisa lebih hijau, lebih damai,
dan lebih bersaudara—jika kita mulai dari sekarang.
Sebagai aktivis kerasulan awam, saya melihat bahwa gerakan
ini bukan sekadar kegiatan sosial. Ia adalah pewartaan. Ia adalah bentuk nyata
dari ajaran Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si’, yang menegaskan
bahwa bumi adalah rumah bersama yang harus dijaga dengan cinta dan tanggung
jawab.
Gereja tidak boleh hanya bicara di mimbar. Ia harus turun ke
tanah, menyentuh lumpur, dan menanam benih. Dan ketika Gereja bekerja sama
dengan aparat negara, komunitas lintas iman, dan anak-anak sekolah, di situlah
wajah Allah yang penuh kasih menjadi nyata di tengah dunia.
Kegiatan ini berakhir pukul 09.40, namun pesannya tidak
berhenti di sana. Ia terus hidup dalam setiap pohon yang tumbuh, setiap ikan
yang berenang, dan setiap anak yang belajar mencintai bumi.
Karena cinta lingkungan bukan sekadar aksi. Ia adalah
spiritualitas. Ia adalah kerasulan. Ia adalah cinta Allah yang menjelma dalam
tindakan.
✍️ Oleh: Darius Leka, S.H., M.H., Advokat & Aktivis
Kerasulan Awam Gereja Katolik
#gerakancintalingkungan
#kerasulanawam #gerejakatolik #wartakasih #imanyanghidup #laudatosi
#stthomaskelapadua #keuskupanbogor #cintadalamtindakan #ekologiintegral #shdariusleka #reels #foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin