Senin, 17 April 2017

Paskah di Kota Depok; Ketika Iman, Keamanan, dan Keterlibatan Awam Menjadi Satu Kesaksian

KOTA DEPOK
– Di tengah hiruk-pikuk kota Depok yang tak pernah benar-benar tidur, ada satu momen yang menyatukan umat dalam keheningan dan sukacita: Tri Hari Suci dan Hari Raya Paskah. Dari Kamis Putih hingga Minggu Paskah, Paroki Santo Paulus Depok menjadi saksi nyata bagaimana iman, solidaritas, dan pelayanan menyatu dalam harmoni yang menggetarkan hati.

Sejak Kamis, 13 April 2017, hingga Minggu Paskah, 16 April 2017, ribuan umat memadati gereja yang terletak strategis di Jalan Melati, Pancoran Mas. Misa Kudus dibagi dalam beberapa sesi untuk mengakomodasi gelombang umat yang datang, tidak hanya dari paroki setempat, tetapi juga dari Paroki Santo Herkulanus, Santo Matheus, hingga Paroki St. Joannes Baptista Parung. Ini bukan sekadar perayaan liturgi, tetapi perjumpaan iman yang melampaui batas wilayah.

Namun, di balik kelancaran itu, ada kerja keras yang tak terlihat. Panitia Paskah 2017, yang digawangi oleh Wilayah Santo Laurensius dan Santo Bonaventura, bekerja tanpa lelah. Mereka tidak hanya mengatur liturgi, tetapi juga menjalin koordinasi erat dengan aparat keamanan: Polsek Pancoran Mas, Polres Kota Depok, Koramil 01, Brimob Kelapa Dua, hingga intelijen Polri dan TNI. Semua bersatu demi satu tujuan: memastikan umat dapat beribadah dengan damai.

Aiptu Sarpin, Bhabinkamtibmas Kelurahan Depok, menyatakan dengan tegas, “Dalam kegiatan keagamaan seperti ini, diminta ataupun tidak, kami dari Kepolisian siap untuk melakukan pengamanan.” Pernyataan ini bukan basa-basi. Pemeriksaan ketat terhadap barang bawaan, sterilisasi area, dan pengawasan penuh menjadi bukti nyata komitmen negara dalam menjamin kebebasan beragama.

Sebagai seorang aktivis kerasulan awam, saya melihat ini sebagai buah dari dialog yang sehat antara Gereja dan negara. Gereja tidak berjalan sendiri. Ia bersinergi dengan masyarakat dan pemerintah untuk mewujudkan ruang ibadah yang aman dan inklusif. Ini adalah bentuk nyata dari prinsip subsidiaritas dan solidaritas dalam Ajaran Sosial Gereja.

Tak kalah penting adalah peran para imam. RP. Alferinus Gregorius Pontus, OFM, bersama para pastor OFM lainnya, memimpin Misa secara konselebrasi. Dalam homili mereka, tema Aksi Puasa Pembangunan Keuskupan Bogor 2017—“Orang Muda Katolik Penunjang Keluarga Berwawasan Ekologis”—terus digaungkan. Isu lingkungan, pengelolaan sampah, dan tanggung jawab ekologis menjadi bagian integral dari pewartaan Injil.

Namun, seperti setiap perayaan besar, ada pekerjaan rumah yang menanti. Salah satunya adalah persoalan parkir. Meski Paroki Santo Paulus memiliki lahan yang cukup luas, lonjakan jumlah umat membuat panitia harus bekerja sama dengan lingkungan sekitar. Apalagi, sebagian lahan akan segera dibangun menjadi gedung serbaguna. Ini tantangan, sekaligus peluang untuk memperkuat relasi dengan komunitas sekitar.

Gregorius Wisnu, salah satu panitia, menyatakan dengan bangga, “Kita patut bersyukur karena semua berjalan cair, tidak ada penumpukan kendaraan.” Sementara Hendrikus dan Ferdinan menambahkan pentingnya kolaborasi lintas komunitas untuk mengatasi keterbatasan lahan parkir di masa depan.

Pembangunan gedung serbaguna yang sempat mengalami revisi teknis pun menjadi simbol harapan. Meski ada kemungkinan molor dari jadwal, semangat umat tetap menyala. Ini bukan sekadar soal bangunan, tetapi tentang membangun ruang perjumpaan, pembinaan, dan pelayanan yang lebih luas bagi umat dan masyarakat.

Paskah di Paroki Santo Paulus Depok adalah cermin Gereja yang hidup: Gereja yang bersyukur, bersinergi, dan berani bermimpi. Di tengah tantangan, umat tetap bersatu. Di tengah keterbatasan, kasih tetap dibagikan. Dan di tengah dunia yang sering kali gaduh, Gereja tetap menjadi tempat damai yang menyala.

️ Oleh: Darius Leka, S.H., M.H., Advokat & Aktivis Kerasulan Awam Gereja Katolik

 

#paskah2017 #parokisantopaulusdepok #kerasulanawam #gerejayanghidup #solidaritasiman #gerejadannegara #ajaransosialgereja #orangmudakatolik #ekologidaniman #kasihallahuntukdunia #shdariusleka #reels #foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin