Selasa, 18 April 2017

Mencuci Kaki Dunia; Paus Fransiskus dan Revolusi Kasih dari Penjara

VATIKAN
- Di tengah hiruk-pikuk dunia yang kerap mengukur kekudusan dari tampilan luar, Paus Fransiskus kembali mengingatkan kita bahwa kasih sejati tidak tinggal di altar megah, melainkan hadir di lorong-lorong penjara, di antara mereka yang terbuang, terhukum, dan terluka. Kamis Putih 13 April 2017 menjadi saksi bisu dari revolusi kasih yang ia taburkan—bukan di Basilika Santo Petrus, melainkan di sebuah penjara berkeamanan tinggi di Italia.

Dalam keheningan yang dijaga ketat, tanpa sorot kamera, Paus membasuh kaki 12 tahanan. Di antara mereka ada tiga perempuan, seorang pria Muslim yang akan dibaptis, dan dua narapidana yang menjalani hukuman seumur hidup. “Kita semua pendosa. Kita semua punya cacat,” ucap Paus dalam homili yang diimprovisasi, disiarkan oleh Radio Vatikan. Kalimat sederhana itu mengguncang tembok-tembok eksklusivitas yang selama ini membatasi siapa yang layak menerima kasih.

Sebagai seorang aktivis kerasulan awam, saya melihat tindakan Paus Fransiskus bukan sekadar simbolik. Ia adalah bentuk nyata dari ajaran Yesus yang membasuh kaki para murid-Nya, termasuk Yudas yang mengkhianatinya. Dalam dunia yang kerap menghakimi, Paus memilih untuk melayani. Dalam masyarakat yang gemar mengucilkan, ia memilih untuk merangkul.

Tindakan ini tentu menuai kontroversi. Sebagian kalangan Katolik tradisional mengkritik karena kaki perempuan dan non-Kristen ikut dibasuh. Namun, Paus Fransiskus tidak sedang mengubah dogma. Ia sedang menghidupi Injil. Ia sedang menunjukkan bahwa Gereja bukan klub eksklusif orang suci, melainkan rumah sakit bagi yang terluka.

Ajaran Sosial Gereja menegaskan bahwa martabat manusia adalah tak tergantikan. Bahkan mereka yang terpenjara, yang pernah jatuh dalam dosa, tetap memiliki hak untuk dicintai, didengar, dan ditebus. Dalam semangat ini, kerasulan awam dipanggil untuk hadir di tengah masyarakat, menjangkau mereka yang terpinggirkan, dan menjadi saksi kasih Allah yang tak mengenal batas.

Di berbagai komunitas Katolik, semangat ini telah dihidupi: pendampingan hukum bagi narapidana, pelayanan pastoral di lembaga pemasyarakatan, hingga program reintegrasi sosial bagi mantan napi. Namun, masih banyak yang harus dilakukan. Kita tidak bisa hanya mengagumi tindakan Paus Fransiskus dari jauh. Kita harus meneladani keberanian dan kerendahan hatinya.

Mencuci kaki bukan hanya ritual. Ia adalah sikap hidup. Ia adalah panggilan untuk melayani, bukan menghakimi. Untuk merendahkan diri, bukan meninggikan ego. Untuk menabur cinta, bukan menebar stigma.

Paus Fransiskus telah menunjukkan bahwa Gereja yang hidup adalah Gereja yang keluar—una Chiesa in uscita—yang tidak takut kotor demi menjangkau mereka yang paling membutuhkan. Kini, giliran kita, umat awam, untuk melanjutkan langkah itu. Di kantor, di pasar, di ruang sidang, di jalanan—di sanalah kita dipanggil untuk mencuci kaki dunia.

️ Oleh: Darius Leka, S.H., M.H., Advokat & Aktivis Kerasulan Awam Gereja Katolik

 

#kerasulanawam #pausfransiskus #misakamisputih #gerejayangkeluar #kasihtanpabatas #ajaransosialgereja #martabatmanusia #gerejauntukyangterpinggirkan #cintaallahuntukdunia #imanyanghidup #shdariusleka #reels #foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin