Dalam keheningan yang dijaga ketat, tanpa sorot kamera, Paus membasuh kaki
12 tahanan. Di antara mereka ada tiga perempuan, seorang pria Muslim yang akan
dibaptis, dan dua narapidana yang menjalani hukuman seumur hidup. “Kita semua
pendosa. Kita semua punya cacat,” ucap Paus dalam homili yang diimprovisasi,
disiarkan oleh Radio Vatikan. Kalimat sederhana itu mengguncang tembok-tembok
eksklusivitas yang selama ini membatasi siapa yang layak menerima kasih.
Sebagai seorang aktivis kerasulan awam, saya melihat tindakan Paus
Fransiskus bukan sekadar simbolik. Ia adalah bentuk nyata dari ajaran Yesus
yang membasuh kaki para murid-Nya, termasuk Yudas yang mengkhianatinya. Dalam
dunia yang kerap menghakimi, Paus memilih untuk melayani. Dalam masyarakat yang
gemar mengucilkan, ia memilih untuk merangkul.
Tindakan ini tentu menuai kontroversi. Sebagian kalangan Katolik tradisional
mengkritik karena kaki perempuan dan non-Kristen ikut dibasuh. Namun, Paus
Fransiskus tidak sedang mengubah dogma. Ia sedang menghidupi Injil. Ia sedang
menunjukkan bahwa Gereja bukan klub eksklusif orang suci, melainkan rumah sakit
bagi yang terluka.
Ajaran Sosial Gereja menegaskan bahwa martabat manusia adalah tak
tergantikan. Bahkan mereka yang terpenjara, yang pernah jatuh dalam dosa, tetap
memiliki hak untuk dicintai, didengar, dan ditebus. Dalam semangat ini,
kerasulan awam dipanggil untuk hadir di tengah masyarakat, menjangkau mereka
yang terpinggirkan, dan menjadi saksi kasih Allah yang tak mengenal batas.
Di berbagai komunitas Katolik, semangat ini telah dihidupi: pendampingan
hukum bagi narapidana, pelayanan pastoral di lembaga pemasyarakatan, hingga
program reintegrasi sosial bagi mantan napi. Namun, masih banyak yang harus
dilakukan. Kita tidak bisa hanya mengagumi tindakan Paus Fransiskus dari jauh.
Kita harus meneladani keberanian dan kerendahan hatinya.
Mencuci kaki bukan hanya ritual. Ia adalah sikap hidup. Ia adalah panggilan
untuk melayani, bukan menghakimi. Untuk merendahkan diri, bukan meninggikan
ego. Untuk menabur cinta, bukan menebar stigma.
Paus Fransiskus telah menunjukkan bahwa Gereja yang hidup adalah Gereja yang
keluar—una Chiesa in uscita—yang tidak takut kotor demi menjangkau
mereka yang paling membutuhkan. Kini, giliran kita, umat awam, untuk
melanjutkan langkah itu. Di kantor, di pasar, di ruang sidang, di jalanan—di
sanalah kita dipanggil untuk mencuci kaki dunia.
✍️ Oleh: Darius Leka, S.H., M.H., Advokat
& Aktivis Kerasulan Awam Gereja Katolik
#kerasulanawam
#pausfransiskus
#misakamisputih
#gerejayangkeluar
#kasihtanpabatas
#ajaransosialgereja
#martabatmanusia
#gerejauntukyangterpinggirkan
#cintaallahuntukdunia
#imanyanghidup

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin