Rabu, 12 April 2017

Minggu Palma di Kota Depok dan Tantangan Keamanan; Dua Wajah Iman dalam Arak-Arakan dan Asap Ledakan

TANTA
– Minggu Palma selalu menjadi pintu gerbang menuju misteri agung Paskah. Di Paroki Santo Paulus Depok, Keuskupan Bogor, umat Katolik menyambut Yesus Sang Raja dengan arak-arakan penuh sukacita. Daun palma dikibarkan, lagu Hosana bergema, dan anak-anak mengenakan jubah putih, melambangkan kemurnian dan harapan. Liturgi ini bukan sekadar ritual, tetapi perayaan iman yang mengingatkan kita akan sambutan meriah di Yerusalem sebelum Kristus memikul salib-Nya.

Namun, di hari yang sama, 9 April 2017, di belahan dunia lain, tepatnya di Mesir, Minggu Palma berubah menjadi tragedi. Ledakan bom mengguncang Gereja St. George di Tanta dan Katedral Saint Mark di Alexandria. Api dan asap memenuhi ruang ibadah. Puluhan jiwa melayang, puluhan lainnya terluka. ISIS mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu, menyebutnya sebagai aksi bom bunuh diri oleh milisi lokal, dan mengancam akan melakukan serangan lanjutan.

Sebagai seorang aktivis kerasulan awam, saya tidak bisa menutup mata terhadap kenyataan ini. Iman yang sama, liturgi yang sama, namun nasib yang berbeda. Di Depok, umat berjalan dengan damai. Di Tanta, umat berlari menyelamatkan diri. Ini bukan sekadar perbedaan geografis, tetapi cerminan dari tantangan nyata yang dihadapi Gereja universal dalam mewartakan kasih di tengah dunia yang terluka.

Paus Fransiskus, dalam ibadah Minggu Palma di Vatikan, menyampaikan duka mendalam kepada Paus Tawadros II dan seluruh jemaat Gereja Koptik. “Saya berdoa untuk semua korban tewas dan terluka dalam peristiwa ini,” ucapnya, seraya memohon agar Tuhan melembutkan hati mereka yang menyebarkan teror dan memperdagangkan senjata.

Doa Paus bukan sekadar empati. Ia adalah seruan profetik agar Gereja tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi benteng perdamaian. Dalam Ajaran Sosial Gereja, martabat manusia adalah nilai tertinggi. Tidak ada ideologi, agama, atau kekuasaan yang berhak merampasnya. Maka, kerasulan awam dipanggil untuk menjadi pelindung kehidupan, pembela keadilan, dan penyebar kasih.

Di Paroki Santo Paulus Depok, semangat ini telah dihidupi. Panitia Paskah bekerja sama dengan aparat keamanan, memastikan bahwa umat dapat beribadah dengan aman. Sterilisasi area, pengawasan ketat, dan koordinasi lintas sektor menjadi bagian dari pelayanan. Ini bukan paranoia, tetapi bentuk tanggung jawab sosial dan pastoral.

Namun, kita tidak boleh puas hanya dengan keamanan. Kita harus membangun budaya damai. Melalui pendidikan, dialog lintas iman, dan pelayanan sosial, kerasulan awam harus menjadi jembatan, bukan tembok. Kita harus berani keluar dari kenyamanan liturgi dan menjangkau mereka yang hidup dalam ketakutan dan luka.

Minggu Palma adalah tentang menyambut Raja Damai. Tapi damai bukan hadiah, melainkan perjuangan. Di Depok, kita menyambut-Nya dengan daun palma. Di Tanta, mereka menyambut-Nya dengan darah. Dua wajah iman, satu tubuh Kristus.

️ Oleh: Darius Leka, S.H., M.H., Advokat & Aktivis Kerasulan Awam Gereja Katolik

 

#minggupalma #gerejakatolikuntukperdamaian #kerasulanawam #imanyangberani #gerejauniversal #doauntukmesir #kasihmelawanteror #ajaransosialgereja #solidaritaslintasiman #cintaallahuntukdunia #shdariusleka #reels #foryou #fyp #jangkauanluas @semuaorang


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin