Namun, di hari yang sama, 9 April 2017, di belahan dunia lain, tepatnya di
Mesir, Minggu Palma berubah menjadi tragedi. Ledakan bom mengguncang Gereja St.
George di Tanta dan Katedral Saint Mark di Alexandria. Api dan asap memenuhi
ruang ibadah. Puluhan jiwa melayang, puluhan lainnya terluka. ISIS mengklaim
bertanggung jawab atas serangan itu, menyebutnya sebagai aksi bom bunuh diri
oleh milisi lokal, dan mengancam akan melakukan serangan lanjutan.
Sebagai seorang aktivis kerasulan awam, saya tidak bisa menutup mata
terhadap kenyataan ini. Iman yang sama, liturgi yang sama, namun nasib yang
berbeda. Di Depok, umat berjalan dengan damai. Di Tanta, umat berlari
menyelamatkan diri. Ini bukan sekadar perbedaan geografis, tetapi cerminan dari
tantangan nyata yang dihadapi Gereja universal dalam mewartakan kasih di tengah
dunia yang terluka.
Paus Fransiskus, dalam ibadah Minggu Palma di Vatikan, menyampaikan duka
mendalam kepada Paus Tawadros II dan seluruh jemaat Gereja Koptik. “Saya berdoa
untuk semua korban tewas dan terluka dalam peristiwa ini,” ucapnya, seraya
memohon agar Tuhan melembutkan hati mereka yang menyebarkan teror dan
memperdagangkan senjata.
Doa Paus bukan sekadar empati. Ia adalah seruan profetik agar Gereja tidak
hanya menjadi tempat ibadah, tetapi benteng perdamaian. Dalam Ajaran Sosial
Gereja, martabat manusia adalah nilai tertinggi. Tidak ada ideologi, agama,
atau kekuasaan yang berhak merampasnya. Maka, kerasulan awam dipanggil untuk
menjadi pelindung kehidupan, pembela keadilan, dan penyebar kasih.
Di Paroki Santo Paulus Depok, semangat ini telah dihidupi. Panitia Paskah
bekerja sama dengan aparat keamanan, memastikan bahwa umat dapat beribadah
dengan aman. Sterilisasi area, pengawasan ketat, dan koordinasi lintas sektor
menjadi bagian dari pelayanan. Ini bukan paranoia, tetapi bentuk tanggung jawab
sosial dan pastoral.
Namun, kita tidak boleh puas hanya dengan keamanan. Kita harus membangun
budaya damai. Melalui pendidikan, dialog lintas iman, dan pelayanan sosial,
kerasulan awam harus menjadi jembatan, bukan tembok. Kita harus berani keluar
dari kenyamanan liturgi dan menjangkau mereka yang hidup dalam ketakutan dan
luka.
Minggu Palma adalah tentang menyambut Raja Damai. Tapi damai bukan hadiah,
melainkan perjuangan. Di Depok, kita menyambut-Nya dengan daun palma. Di Tanta,
mereka menyambut-Nya dengan darah. Dua wajah iman, satu tubuh Kristus.
✍️ Oleh: Darius Leka, S.H., M.H., Advokat
& Aktivis Kerasulan Awam Gereja Katolik
#minggupalma
#gerejakatolikuntukperdamaian
#kerasulanawam
#imanyangberani
#gerejauniversal
#doauntukmesir
#kasihmelawanteror
#ajaransosialgereja
#solidaritaslintasiman
#cintaallahuntukdunia

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbicara adalah hak asasi manusia dari setiap individu, tetapi gunakan hak itu sesuai dengan peraturan yang berlaku serta budaya lokal yang membangun. Salam kasih. Admin